
“DR Azahari telah tewas!”
Demikian salah satu berita hangat di media massa beberapa waktu yang lalu. Azahari disebut-sebut sebagai nama yang tidak dapat dipisahkan dengan terorisme dan pengeboman. Azhari juga diyakini sebagai ahlinya merakit bom. Begitupun dengan dunia internasional, sebelumnya dikejutkan dengan munculnya seseorang bernama Usamah bin Laden. Dan Jum’at 17/7 teroris datang lagi, meledakkan Jakarta dan menguncang kembali keamanan Indonesia. Atas peritistiwa ini, teroris kembali disalahkan. Teroris kembali dikutuk sebagai pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Tapi tidak semudah itu menyalahkan teroris yang tidak pernah tenggelam itu, karena setiap orang akan punya alasan kebenaran kenapa mereka melakukan tindakan pilihannya. Jadi mereka juga punya alasan pembenaran bagi para teroris mengapa mereka melakukannya.
Dalam novel “To Kill A Mocking Bird“ karya Harper Lee ditemukan, “Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang, hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya….Hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya”. Begitulah kira-kira jika kita ingin tahu tentang suatu hal. Sebelum melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang, tundalah dulu untuk melakukan penilaian. Begitu pula jika ingin menilai berbagai hal dalam kehidupan ini. Kita akan tahu bagaimana kehidupan seorang psikopat, setelah berada di dalam kehidupannya. Atau akan tahu bagaimana dunia seni, setelah benar-benar berada di dalam lingkungan seni tersebut dan memandang dunia seni itu dari berbagai sudut pandang. Kita tidak akan memahami makna seniman itu jika tidak berada dalam sudut pandang seorang seniman.
Jika hal ini digambarkan ke dalam keseharian kita, ini tepatnya jatuh pada penilaian terhadap sesuatu. Sebuah kebiasaan yang tanpa diragukan lagi terlalu sering dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Penilaian seperti cantik dan jelek, baik dan buruk, luar biasa dan biasa saja sangat relatif, begitu pula dengan baik dan jahat. Ketika kita mengatakan ya pada segala sesuatu, berarti kita mengatakan ya pada pertimbangan nilai, dan penolakan nilai yang merupakan bagian dari segala sesuatunya. Sesuatu itu jika dipandang oleh mata yang berbeda dan pemikiran yang berbeda, akan menghasilkan keputusan yang berbeda. Dan penilaian itu berarti membandingkan dari yang pernah ada. Karena dalam melakukan penilaian seseorang akan memutuskan sesuatu itu baik atau buruk, atas atau bawah, tengah atau pinggir sesuai dengan kebutuhannya.
Jika direfleksikan, sama halnya dengan kita melihat jepretan seorang fotografer. Jika foto tersebut dilihat dari sudut pandang yang berbeda, makna yang ditangkap juga berbeda. Misalnya sebuah foto biasan langit pada sebuah genangan air, jika dilihat secara terbalik, foto itu ditangkap seperti sebuah langit yang diberi tekstur, bukan langit dengan awan putih yang polos. Atau foto pembiasan bayangan seorang mahasiswa pada air yang tergenang, yang diambil utuh namun terbalik, jika foto tersebut dibalik maka akan menjadi sebuah foto mahasiswa yang sedang berdiri bukan foto seorang mahasiswa dengan posisi kaki di atas dan kepala di bawah.
Sesuatu itu bisa menjadi di atas atau menjadi di bawah dan sesuatu yang di bawah bisa pindah ke atas. Atau bisa menjadi di tengah dan bisa saja terletak di samping. Tergantung kita melihatnya dari sudut pandang mana dan dalam posisi yang seperti apa, dilihat dari titik normalkah atau dibolak balik. Dan biasanya orang akan memandang sesuatu itu sesuai keperluannya.
Memandang sesuatu sesuai keperluan itu lebih kepada pemanfaatan. Saya pernah mendapat SMS dari seorang teman “kita tidak dibutuhkan di sini jika kita tidak memberi keutungan bagi mereka”. Ini juga kembali pada sudut pandang tadi. Orang akan menilai sesuai keperluan mereka. Penilaian seperti ini menjadikan seseorang akan menjadi lebih baik oleh seseorang, atau bahkan bisa menjadi lebih buruk tergantung keuntungan bagi yang menilai. Seperti yang dilakukan para teroris itu. Bagi para teroris, mereka menganggap telah melakukan sesuatu yang benar, namun di kalangan lain mungkin tidak dapat diterima sebagaimana penerimaan bagi para teroris. Penilaian seperti ini yang merusak realitas keeksistensian seseorang karena penilaian akan menjadi subjektif.
Yang nomor satu tanpa menghadirkan nomor dua, intinya semua ini lebih untuk dipahami dari pada dinilai. Sebagai sebuah kebijaksanaan, tidak ada jalan lain selain dari penerimaan.