
Kemarin 26 September adalah hari pertama pelaksanaan Mid Semester di SMP Pembangunan Laboratorium UNP, tempat aku melakukan PPL. Dari awal sampai selesai ujian pada hari untuk hari pertama ini suasana lama masih terasa. Apalagi detik-detik terakhir lembar jawaban yang akan dikumpulkan. Yaitu tradisi minta sedekah untuk isi otak (mengisi lebar jawaban) masih diperlihara. Ada berbagai cara yang mereka miliki untuk mendapatkan jawaban. Isyarat-isyarat tertentu untuk jawaaban tertentu. Atau dengan kode-kode dari jari-jari mereka.
Tradisi sedekah untuk otak sudah ada sejak aku berseragam dongker dulu dan ternyata itu masih ada sampai sekarang. Jadi ada 10 tahun rentang waktu yang telah dilewati, yaitu 2000-2009. Ada 9 langkah tahun yang terlewati, tapi tetap saja masih dilestarikan.
Kalau dipikir-pikir, kita memang butuh bantuan saat kita melakukan sesuatu termasuk ‘bencana’ ujian. Dan yang pernah sama-sama kita dengar, sesama kita memang dianjurkan untuk saling membantu. Tapi hal ini tidak berlaku dalam ujian. Justru dalam ujian akan sangat berbeda. Membantu yang lain dalam ujian sama dengan menyelakakan teman sendiri.

Kalau ujian ini kita bahas panjang lebar akan menjadi pembahasan yang dalam, tapi intinya untuk menguji kemampuan. Jadi jika kita membantu teman dalam ujian, sama artinya dengan membohongi kemampuan dirinya dan diri kita sendiri. Dapat kita simpulkan sedekah otak dalam ujian tidak akan membantu dan tidak ada pahalanya. Kalaupun MUI mau memanbah perkerjaannya, bisa jadi sedekah buat otak dalam ujian akan difatwa jadi haram.