Awal hari yang indah di awal bulan November penyambung tali Oktober aku niatkan untuk bertemu saudara kandung tak sebapak tak seibu (bingung yach…). Awalnya aku mendapatkan saudara kandung tak seibu dan tak sebapak ini saat ada Pekan Kreatifitas Mahasiswa (PKM) di kampusku Universitas Negeri Padang (UNP). Sejak pertemuan yang menuntut kerja sama itu, kami dekat lebih dari sekedar sahabat, makanya aku menyebutnya dengan saudara kandung.
Hari itu Minggu tanggal 1 November 2009, kami (Ulfa dan Ulfi) akan melakukan sesuatu yang bersama. Melanjutkan kerja sama.
Saat ini kami tidak berada pada kota yang sama. Kak Ulfa sudah honor di Bukittinggi, di sebuah yayasan yang biasa dikenal dengan YPPA. Sedangkan aku masih di kota Padang, Masih dalam tahap perjuangan menyelesaikan studi S1 ku. Karena beda kota inilah, kami harus benar-benar meluangkan waktu untuk hari ini. Sebagai rasa hormatku pada kakakku, aku yang mengunjungi beliau ke kota wisata, kota Bukittinggi.
Perjalanan dari Padang aku mulai dari jam 8 pagi. Dalam perjalanan, aku berpikir tentang banyak hal yang selama ini tidak pernah aku pikirkan karena kesibukan sebagai mahasiswa yang notabene aku bukan mahasiswa kupu-kupu (kuliah-pulang kuliah pulang). Tapi waktuku lebih banyak berada di luar rumah.
Pertama aku berpikir tentang kesehatan aku. Ada yang tak beres dengan tubuh kecil mungilku. Dua hari yang lalu, aku tidak sengaja menaiki timbangan. Ternyata jarumnya menunjukkan anggka 38,8 kg. waw! Sudah terlalu jauh menurun dibanding sebelum gempa di Padang aku masih memiliki berat 44 kg. Terus aku teringat dengan bulananku. Sudah lima langkah dia tidak hadir. Dan belakangan aku sering tidur sebelum jam 23.00. Padahal biasanya aku tidak tidur sampai subuh.
Apa yang aku alami sekarang?
Aku tak tahu itu!
Berpikir sejenak tentang itu, aku kembali kepada kak Ulfa. Dia lagi dimana, apakah sudah dari lama beliau menunggu aku. aku coba hubungi, tapi tak terhubung. Aku putuskan menunggu beliau saja di tempat yang telah kami sepakati. Ternyata dan ternyata, aku yang dibuat menunggu lama. Aku putuskan duduk di bawah pohon rindang samping jam gadang, memerhatikan kehidupan di sana. Tiba-tiba ada sekelompok pengamen menghampiri aku, mereka menyanyikan lagu Kasih dari Salju. Beberapa baris lirik yang mereka bawakan, aku menyodorkan uang 2.000an. Dan mereka pun berlalu.
Tak habis begitu saja, seorang bapak setengah baya mengomentari apa yang aku lakukan barusan.
Bapak baya:“Ba a kok diagiah juo? Rancaknyo baragiah ka nan maminta-minta tu lai ha….! (Indoneisa_”Kenapa ngasih pengamen? Bagusnya ngasih peminta-minta….!
Aku : “awak labiah suko baragiah ka nan mangamen tu pa dari pado nan minta-minta tu…Lai ado nampak usahonyo dari pado manampuang sajo”. (Indoneisa_aku lebih suka ngasih yang ngamen dari pada yang minta minta pak…Lebih ada usahanya dari pada yang hanya nampung.
Bapak baya: Inyo baputa-puta siko jo tu nyo (Gerombolan itu hanya berkeliing di sekitas sini saja)
Pemuda : terserah kita mau ngasih siapa, yang penting ikhlas….
Kita di sini sama-sama nyari makan, akan ada banyak cara yang akan dilakukan. Sama seperti orang yang berjualan, ada banyak cara yang mereka lalukan dan ada banyak jenis barang dagangan mereka.
>>>pesan pertama yang aku serap hari ini, memberilah dengan ikhlas… jika aku hubungkan dengan hal-hal yang terlintas selama perjalanan sejauh 90an km adalah lakukan yang terbaik untuk dapatkan yang terbaik. Tak peduli keadaan kita seperti apa (sakit_sehat), jika kita melakukan dengan baik, perjuangan itu akan membantu kita untuk menemukan yang terbaik. Meski prinsip Receu juga tidak bisa diabaikan (menolong diri sendiri diutamakan baru menolong orang lain)