Dingin!!!
Itu yang kurasakan sekarang. Sudah lama dan terasa sangat lama. Hampir beku dan tak punya rasa. Ditambah hujan dan badai menghantam tubuhku. Makin dingin…
Di sini aku masih sendiri, tanpa ada tempat berbagi, bersandar dan yang menghangatkan aku di saat dingin seperti ini. Aku rasa makin lama tubuhku menggigil dan akhirnya aku hanya terdiam di sudut ruang kosong itu. Aku rasakan hampa…
Makin lama, pandanganku makin redup. Wajahku terasa lali, tulangku terasa menggigil. Aku telungkupkan wajahku pada sepasang lutut kecil yang ditekukkan. Seolah badanku mendekap kekedua paha. Aku rasakan lagi. Dingin!!!
Aku tak tau berapa lama aku mendekap pada kakiku, entah dalam waktu yang lama atau tidak. Aku tidak tahu itu, karena akalku tak peka lagi dengan waktu. Waktu tidak setia padaku, kadang aku hanya jalan ditempat sedangkan dia selalu berjalan. Waktu selalu meninggallkan aku. waktu tak pernah menunggu. Tiba-tiba kudengar ada suara yang membuka pintu. Kulihat ada seseorang mendekatiku. Aku tak tahu dia datang dari mana. Dia berpakaian pakaian yang cukup menghangatkan tubuhnya, dengan membawa handuk putih yang tebal dan aku lihat dia membawa sesuatu ditangannya. Dengan sangat hati-hati, dia mencoba menyodorkan handuk putih dan secangkir teh hangat. Ternyata dia menawarkan aku kehangatan, handuk yang tebal dan secangkir teh hangat untuk menghangatkan tubuhku.

Dia serahkan dengan sangat hati-hati agar secangkir teh hangat itu tidak tumpah . Sepertinya dia tahu, aku sudah menggigil, makanya teh itu harus diterima oleh kedua tanganku. Saat cangkir itu menyetuh telapak tanganku, aku mulai merasa nyaman. Baru cangkir itu sampai di tanganku, sudah menghangatkan telapak tanganku yang juga mulai lali, apalagi jika isinya yang hangat itu juga sampai ke dalam tubuhku. Mungkin rasa dingin ini akan hilang.
Lama aku genggam cangkir itu. Aku memikirkan sesuatu… Apakah isi cangkir ini memang teh yang menghangatkan? Atas dasar itu, terlintas dalam benakku, teh ini akan aku minum, aku ambil tapi aku simpan atau aku kembalikan?
Jika aku kembalikan, apa ini orang tidak akan tersinggung? Jika dia merasa kurang senang dengan tindakanku, nantik jika aku butuh teh hangat lagi dia tidak mau memberikannya lagi padahal aku butuh teh hangat itu.
Jika aku terima dan aku simpan, apakah ini teh tidak akan mubazdir? Karena terlalu lama aku simpan, teh ini akan dingin dan tak bisa lagi menghangatkan tubuhku ataupun tubuh orang yang meminumnya.
Jika aku minum, di saat aku membutuhkannya seperti ini aku belum siap menikmati kehangatan yang dia ditawarkan. Terlalu cepat aku mempercayai orang ini, hingga dengan mudahnya aku bisa meminum teh yang ditawarkan.
Aku pejamkan mata sesaat…
Aku harus putuskan secepatnya, karena aku tidak mau membuat orang lain menunggu dan begitu pula dengan aku, tidak mau dibuat menunggu. Saat sepasang mata ku buka lagi, laki-laki itu sudah berlalu. Handuk putih tebal itu diletakkannya di depan kakiku sedangkan cangkir mungil nan antik ini masih dalam genggamannku. Sepertinya laki-laki itu menyuruhku berpikir sendiri dan memutuskannya sendiri. Apakah teh ini akan aku minum, aku simpan atau aku buang.
arul piaman Berkata:
on November 3, 2009 at 3:49 pm
rasakan dengan hati… putuskan dengan nurani… karena itulah akhir dari sebuah pertimbangan….
uni Berkata:
on November 5, 2009 at 7:03 am
lalu apa keputusannya sahabat? ^_^
ulfiarahmi Berkata:
on November 5, 2009 at 1:08 pm
masih bimbang….
karena aku sangat butuh teh itu, sedangkan aku belum yakin itu benar-benar teh atau racun