Lama tak mengunjungi Ariel dan Willis. Apa kabar dengan mereka. Apa aku yang terlalu sibuk sehingga meninggalkan mereka untuk sementara waktu. Tak mengikuti kemana langkah mereka dan tak meninjau ‘satu’ yang mereka miliki. Atau mereka yang telah menghilang, menjauh dariku melalang buana mengintari luasnya bumi Tuhan mengembangkan sayap mereka. Orang bilang terbang bersama itu indah. Seperti burung-burung yang bersama-sama terbang ke selatan saat musim panas akan tiba.
Jauh sebelum ini, Ariel dan Willis telah berjuang bersama mencapai sesuatu yang begitu kecil jika dipandang dengan apa yang mereka miliki saat ini. Mengayunkan langkah bersama sambil bergandengan tangan. Menerjang panasnya api, bekunya es , kerasnya batu dan dinginnya udara subuh. Diluar dugaan kemampuan yang mereka miliki dengan apa yang mereka hadapi.
***
Empat bulan … hari.. jam…menit..detik tak mengunjungi mereka. Kini Ariel dan Willis menghabiskan hari-harinya dengan berdiskusi dengan profesor-profesor dan doktor-doktor di Pascasarjana pada kampus mereka terdahulu. Ternyata mereka sama-sama mengepakkan sayap dan memutuskan untuk menjadi ilmuan yang bergerak dalam bidang pendidikan. Berkutak dengan teori-teori belajar dan pembelajaran, menyatukan pendidikan dan psikologi serta teknologi karena mereka berada pada area Teknologi Pendidikan.
Wah wah wah…, beberapa tahun ke depan saya membayangkan mereka akan menjadi pakar pendidikan. Diwawancarai ketika beberapa media membutuhkan konfirmasi terhadap apa isu yang berkembang. Dimintai menulis malakah untuk sebuah pertemuan ilmiah. Kerja sama penelitian. Menulis jurnal dan tak dapat saya bayangkan berapa buah buku yang akan mereka tulis dan naik cetak setiap tahunnya.
Menerka-nerka bagaimana Ariel dan Willis beberapa tahun yang akan datang sama dengan menerka-nerka bagaimana teknologi dapat mempengaruhi atau bahkan menguasai kehidupan manusia. Barangkali dua puluh tahun yang lalu, aktor sejarah di zaman itu sulit membayangkan bagaimana komputer sebagai bagian dari teknologi begitu berperan saat ini. Dan saat ini barangkali tak terprediksikan bagaimana teknologi dua puluh tahun mendatang. Untuk tahun depan saja masih prediksi abu-abu, apa lagi puluhan tahun.
Begitu pun dengan Ariel dan Willis. Memprediksi kehidupan mereka dengan tepat di masa yang akan datang begitu sulit. Sama dengan memprediksi masa kini di masa lalu. Saat mereka menjadi dua orang teman baik yang begitu dekat, siapa sangka mereka bisa bersatu dalam ikatan yang sampai kini masih mereka pertahankan. Mereka sendiri pun tak akan mengira dengan apa yang mereka miliki satu sama lainnya saat ini. Dan untuk masa depan. Ampiuuuun, Tuhan punya kuasa untuk pasal ini.
Yang jelas, mereka berada di saat ini. Bukan di masa lalu dan bukan pula di masa depan. Akan menjadi orang kurang waras ketika berada di saat ini namun hidup di masa lalu, ataupun sebaliknya hidup di masa ini namun berada di masa depan.
pada November 22, 2011
aku juga menunggu kisah ariel dan wilis..
tak terbayangkan indahnya masa depan mereka, aku pun turut bahagia akan berada di antara pakar pendidikan seperti mereka.
semoga…
hidup berawal dari mimpi buk.
right..