“Terima kasih Bunga”, pesan singkat Ariel dengan ligat menyusup ke balik sistem operasi telpon genggam Willis. Tampaknya pesan ini dan pesan-pesan lainnya tak terhalang hujan untuk sampai pada tujuan. Meski hujan, badai dan keadaan kelam mencekam, om teknologi dapat membantu menyampaikan pesan, meski terkadang tante jaringan masih sering ngambek, membuat pesan sampai namun bukan pada waktu yang tepat alias telat.
Kalaulah pesan Ariel yang menyusup ke telpn genggam Willis bisa dilihat secara kasat mata, sungguh dengan pejuangan yang keras. Di bawah guyuran hujan, sebuah amplop tertutup bewarna jingga muda melayang dari jalan Pinang Sori II menuju Pondokan Yudistira di jalan Ngurah Rai nomor 17. Melawan dingginnya malam, disertai jepretan kilat menambah terangnya amplok jingga melayang ke arah barat daya. Dengan tertatih tatih melewati rawa, tak ada tempat berlindung ketika tiba-tiba angin terasa kencang, namun si amplop jingga terang tetap menerjang arus yang belawanan demi keprofesionalismeannya. Sungguh, karna perjuangan om teknologi dan sedikit omelan tante jaringan, apa yang ingin disampaikan Ariel pada Willis di malam itu dapat juga diketahui Willis.
“Berterima kasih untuk apa?”, dengan keadaan yang sama dengan bermurah hari si amplop jingga muda kembali lagi Pinang Sori II. Jikalau lah si amplop ini masih seperti merpati yang digunakan pasangan era sebelumnya, dia pasti tidak akan mau terbang lagi menuju kediaman Ariel. Enak kan berteduh dan tidur dari pada melayani dua insan yang seperti tak menghiraukan kesulitan si merpati. Namun ternyata si amplop jingga terang tak mempermasalahkan hal itu, dia tetap kembali menjalankan tugasnya.
Tanpa mengetuk pintu, memencet bel dan lain sebagainya yang menandakan ada yang datang, si amplop jingga terang menyelinap ke nomor Ariel. Menggetarkan telpon genggang Ariel dan tinit tinit, nada standar nokia melantun dari telpon genggam berwarna hitam yang tergeltak di dasar pulau kasur. Ariel dengan sigap menanggapi pesan singkat itu dan membacanya. Dengan sedikit senyum di ujung bibirnya, Ariel memijit kipet telpon genggamnya. Membaca ulang dan tanpa ragu menekan tombol kirim.
Tanpa keluhan, si amplop jingga terang kembali ke bilik Willis. Tanpak Willis terbungkus selimut orange kesayangannya. Tak hiraukan Willis yang mulai lelap, si amplop jjingga terang kembali menyibukkan Willis dengan pesan yang dibawanya. “Kau telah memberikan dampak lebih bagi hidupku”.
“Apa-apaan ini?”, balas Willis singkat. Tanpa memerintahkan si amplop jingga terang, Willis memintanya untuk menyampaikan pesan singkatnya pada Ariel.
“Kemana kita malam ini?”, Areil mengalihkan pembahasan.
“Kemana aja bole…”, balas Willis.
“Makan yang berkuah dan hangat yuk!”, ajak Ariel.
“Yuk…”, balas Willis singkat.
“Pakai mantel ya”, pinta Ariel.
“Okok!”, Willis bersiap menunggu kedatangan sang Kumbang.
***
(be continiu)
hohoohoho… ternyata bagi dua insan yang sedah jatuh cinta, es em es bisa berwarna jingga