| S | S | R | K | J | S | M |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Okt | ||||||
| 1 | ||||||
| 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 |
| 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 |
| 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 |
| 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 |
| 30 | ||||||
ARTIKEL
PERCINTAAN ANTARA ANAK DAN TELEVISI

keasyikan nonton, apa jadinya?
Siaran televisi belakangan ini sering menyajikan tontonan yang memperlihatkan betapa hausnya Negara kita. Haus dari segi ekonomi, sosial budaya, pendidikan, keamanan dan pertahanan serta politik. Dari beribu tontonan itu ada tontonan mahasiswa yang melakukan demo karena beberapa kebijakan pemetintah yang kurang memikirkan keadaan rakyat, ada ibu-ibu rumah tangga yang melakukan unjuk rasa karena merasa tercekik dengan naiknya BBM. Dipertontonkan bagaimana mereka dengan segala kekuatannya memperlihatkan pada pemerintah kepedihan mereka sambil memukul periuk, panci, kuali dan alat dapur lainnya dengan sendok. Dari tontonan itu nyata terlihat betapa terpuruknya bangsa kita.
Beda lagi dengan sajian televisi yang mengintip para anggota dewan yang melakukan rapat dan sidang yang katanya demi kesejahteraan rakyat, tapi kenapa masih ada yang tidur? Dimana keputusan terbaik untuk rakyat bisa diambil jika penyangga rakyat bisa tertidur di tengah keterjepitan masyarakat. Apakah dengan tidur, para anggota dewan bisa memperoleh putusan terbaik melalui mimpi? Sungguh pemandangan yang tidak sesuai dengan wibawa seorang anggota dewan.
Sedangkan di program lain, televisi juga menyajikan sajian yang 80% sajiannya hanya cerita bohong. Seperti iklan-iklan dan tayangan sinetron yang disampaikan secara sesederhana mungkin namun dapat memikat hati.
Sajian-sajian yang memikat hati dan lainnya itu bisa dinikmati oleh siapa saja termasuk anak-anak yang masih diibaratkan kertas kosong. Dengan kepolosan dan keluguan anak-anak, orang tua dan orang dewasa bisa saja menggores kertas putih tersebut dengan hal-hal apa saja yang dinginkan. Akankan menginginkan kertas polos itu akan digores dengan tinta merah, hitam, putih dan warna lainnya atau akan menggarisnya dengan penggaris atau tanpa penggaris. Semua dapat diarahkan dan dikontrol oleh orang tua dan orang dewasa.
Namun sekarang karena kondisi dan keterlibatan orang tua dalam mencari kehidupan yang lebih layak, perhatian untuk anak sering terlupakan. Apa lagi dalam hal menonton televisi. Bagi orang dewasa yang sudah bisa menentukan mana yang pantut diterima dan yang kurang patut sudah bisa dibedakan. Bagi anak-anak itu tidak pernah dipertimbangkanya. Apakah tontonan tersebut ada nilai pengetahuannya atau tidak. Seperti halnya anak-anak yang menyukai makanan ringan. Mereka hanya berpikir makan ringan tersebut itu enak dan menyenangkan. Tapi mereka tidak pernah berpikir gizi, vitamin dan protein apa yang terdapat dalam makanan ringan tersebut. Asal mereka suka dan membuat mereka senang, mereka akan tetap melakukannya.
Begitu pula minat mereka dengan televisi. Mereka menganggap televisi lebih menyenangkan dari pada belajar dan mendengarkan nasehat orang tua. Mereka merasa terlayani dengan adanya televisi. Dengan adanya televisi anak-anak akan melupakan kesulitannya, dengan adanya televisi mereka gunakan untuk mengisi waktu, mempelajari sesuatu, memberikan ransangan, bersantai, mencari persahabatan dan sekedar kebiasaan.
Sekedar kebiasaan yang menjadi darah daging bagi anak-anak bisa saja untuk mempelajari sesuatu. Namun dengan sajian televisi yang mulai kurang mendidik telah merempas waktu dan persepsi anak-anak dalam berpikir dan berinteraksi dengan orang lain. Apa lagi sinetron yang disajikan antara jam 7 sampai jam 10 malam mampu mencuri waktu belajar anak-anak dan berkumpul dengan keluarga. Dengan sajian televisi anak akan melihat bagaimana penggunakan bahasa seperti penambahan kosa kata yang dimiliki anak di kalangan artis dan aktor televisi juga berbicara dengan lawan bicara dan diikuti bahasa tubuh.
Dengan itu semua anak bisa belajar. Namun, apa yang akan diambil dan diserap oleh mereka dengan sajian kerisihan masyarakat. Apa yang akan mereka serap dari makanan yang mereka makan, tidak ada kandungan gizi bagi mereka. Enaknya mereka rasakan sekejap saat mengnikmatinya, namun akibat dari makanan ringan tersebut juga tidak bisa ditangani dengan sepele.
Dengan siswa menonton sajian orang dewasa yang selalu memaki dan melakukan hal yang kurang wajar di televisi, mereka dengan mudah akan meniru adegan tersebut. Dengan televisi anak juga bisa belajar menyatakan cinta pada temannya. Boleh kita ibaratkan televisi itu lakasana universitas terbuka. Seperti tayangan beberapa program televisi yang menyingkap kasus pembunuhan, pemerkosaan, perampokan dan kasus kriminal lainnya. Dalam tayangannya diperlihatkan motif dan taktik bagaimana pelaku melakukan aksinya. Dengan menampilkan bagaimana aksi pelaku dan cara apa yang digunakannya sebenarnya memberi pelajaran dan melihatkan bagaimana caranya untuk melakukan kejahatan.
Dengan pengetahuan yang baru diketahui anak, akan memotivasi mengikuti apa yang telah mereka lihat di televisi. Dengan informasi yang baru ini, membuat anak gembira dan merasa menikmati, memang akan membuat mereka menyukainya. Mereka akan berusaha menjadi seperti aktor yang mereka tonton dan mereka idolakan. Ingin diakui dikalangan teman-teman dan dianggap seperti bintang film tertentu.
Akan lebih buruk akibatnya jika seorang anak menonton adegan itu tanpa dampingan orang tua. Mereka sebagai makhluk yang unik dan peniru akan menganggap tontonan itu bisa ditiru. Bisa saja dengan motif rasa penasaran anak. Makanya untuk menonton televisi sebenarnya anak perlu ditemani bukan malah memberikan anak televisi di kamar pribadinya.
Untuk menghindari dampak negative dari televisi bukan dengan cara membuang dan menjauhkan anak dari televis. Hanya saja perlu pengontrolan dari orang tua sebagai orang yang paling dekat dengan anak. Sebagaimana kata Kahlil Gibran kalau orang tua itu adalah busur dari anak panah kehidupan putra-putrinya untuk melesat ke masa depan. Karena anak-anak juga mendambakan kehidupannya sendiri.
Televisi memiliki banyak manfaat. Namun, jika anak menonton televisi tanpa ditemani orang tua, manfaat televisi akan lebih banyak jika televisi dimatikan. Seperti orang-orang amerika yang mematikan dan melarang anak-anak mereka menonton televisi. Dalam hal ini sebenarnya peran orang tua dituntut lebih besar. Orang tua merupakan guru pertama dan utama bagi anak. Pada orang tua, anak pertama kali belajar dan menaruh kepercayaan. Kesempatan ini harus digunakan dengan sebaik-baiknya dan sebanyak-banyakknya untuk menanamkan segala hal tentang dasar-dasar kebaikan, sebelum anak terpengaruh lingkungan, teman, orang lain atau dari televisi. Orang tualah yang harus memerankan pada anak langka-langkah apa yang harus diambil oleh anak, memberikan sikap yang baik, termasuk pilihan acara televisi yang “bergizi”.
1 Tanggapan »
{ Pengumpan RSS untuk komentar di postingan ini} · { URI Lacak Balik }
ilham muhammad Berkata:
on Januari 13, 2009 at 12:52 pm
tv memang sangat bermanfaat bagi kita tp tv juga dapat disalahgunakan bagi orang yang tak bertanggung jawab.karena tv bisa membentuk oponi publik sehingga bisa mendeskreditkan seseorang to suatu lembaga.jadi kita harus jeli membaca pesan yang akan disampaikan oleh tv itu sendiri!!!!that’s my coment