<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Ulfiarahmi's Weblog</title>
	<atom:link href="http://ulfiarahmi.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ulfiarahmi.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Tue, 10 Jan 2012 08:25:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ulfiarahmi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Ulfiarahmi's Weblog</title>
		<link>http://ulfiarahmi.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ulfiarahmi.wordpress.com/osd.xml" title="Ulfiarahmi&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ulfiarahmi.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>si Amplop Jingga Terang</title>
		<link>http://ulfiarahmi.wordpress.com/2011/11/28/si-amplop-jingga-terang/</link>
		<comments>http://ulfiarahmi.wordpress.com/2011/11/28/si-amplop-jingga-terang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Nov 2011 10:45:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ulfiarahmi</dc:creator>
				<category><![CDATA[satu]]></category>
		<category><![CDATA[amplop jingga terang]]></category>
		<category><![CDATA[sms]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ulfiarahmi.wordpress.com/?p=1717</guid>
		<description><![CDATA[“Terima kasih Bunga”, pesan singkat Ariel dengan ligat menyusup ke balik sistem operasi telpon genggam Willis. Tampaknya pesan ini dan pesan-pesan lainnya tak terhalang hujan untuk sampai pada tujuan. Meski hujan, badai dan keadaan kelam mencekam, om teknologi dapat membantu menyampaikan pesan, meski terkadang tante jaringan masih sering ngambek, membuat pesan sampai namun bukan pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ulfiarahmi.wordpress.com&amp;blog=3924715&amp;post=1717&amp;subd=ulfiarahmi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>“Terima kasih Bunga”, pesan singkat Ariel dengan ligat menyusup ke balik sistem operasi telpon genggam Willis. Tampaknya pesan ini dan pesan-pesan lainnya tak terhalang hujan untuk sampai pada tujuan. Meski hujan, badai dan keadaan kelam mencekam, <span id="more-1717"></span>om teknologi dapat membantu menyampaikan pesan, meski terkadang tante jaringan masih sering ngambek, membuat pesan sampai namun bukan pada waktu yang tepat alias telat.</p>
<p>Kalaulah pesan Ariel yang menyusup ke telpn genggam Willis bisa dilihat secara kasat mata, sungguh dengan pejuangan yang keras. Di bawah guyuran hujan, sebuah amplop tertutup bewarna jingga muda melayang dari jalan Pinang Sori II menuju Pondokan Yudistira di jalan Ngurah Rai nomor 17. Melawan dingginnya malam, disertai jepretan kilat menambah terangnya amplok jingga melayang ke arah barat daya. Dengan tertatih tatih melewati rawa, tak ada tempat berlindung ketika tiba-tiba angin terasa kencang, namun si amplop jingga terang tetap menerjang arus yang belawanan demi keprofesionalismeannya. Sungguh, karna perjuangan om teknologi dan sedikit omelan tante jaringan, apa yang ingin disampaikan Ariel pada Willis di malam itu dapat juga diketahui Willis.</p>
<p>“Berterima kasih untuk apa?”, dengan keadaan yang sama dengan bermurah hari si amplop jingga muda kembali lagi Pinang Sori II. Jikalau lah si amplop ini masih seperti merpati yang digunakan pasangan era sebelumnya, dia pasti tidak akan mau terbang lagi menuju kediaman Ariel. Enak kan berteduh dan tidur dari pada melayani dua insan yang seperti tak menghiraukan kesulitan si merpati. Namun ternyata si amplop jingga terang tak mempermasalahkan hal itu, dia tetap kembali menjalankan tugasnya.</p>
<p>Tanpa mengetuk pintu, memencet bel dan lain sebagainya yang menandakan ada yang datang, si amplop jingga terang menyelinap ke nomor Ariel. Menggetarkan telpon genggang Ariel dan tinit tinit, nada standar nokia melantun dari telpon genggam berwarna hitam yang tergeltak di dasar pulau kasur. Ariel dengan sigap menanggapi pesan singkat itu dan membacanya. Dengan sedikit senyum di ujung bibirnya, Ariel memijit kipet telpon genggamnya. Membaca ulang dan tanpa ragu menekan tombol kirim.</p>
<p>Tanpa keluhan, si amplop jingga terang kembali ke bilik Willis. Tanpak Willis terbungkus selimut orange kesayangannya. Tak hiraukan Willis yang mulai lelap, si amplop jjingga terang kembali menyibukkan Willis dengan pesan yang dibawanya. “Kau telah memberikan dampak lebih bagi hidupku”.</p>
<p>“Apa-apaan ini?”, balas Willis singkat. Tanpa memerintahkan si amplop jingga terang, Willis memintanya untuk menyampaikan pesan singkatnya pada Ariel.</p>
<p>“Kemana kita malam ini?”, Areil mengalihkan pembahasan.</p>
<p>“Kemana aja bole&#8230;”, balas Willis.</p>
<p>“Makan yang berkuah dan hangat yuk!”, ajak Ariel.</p>
<p>“Yuk&#8230;”, balas Willis singkat.</p>
<p>“Pakai mantel ya”, pinta Ariel.</p>
<p>“Okok!”, Willis bersiap menunggu kedatangan sang Kumbang.</p>
<p>***<br />
(be continiu)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ulfiarahmi.wordpress.com/1717/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ulfiarahmi.wordpress.com/1717/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ulfiarahmi.wordpress.com/1717/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ulfiarahmi.wordpress.com/1717/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ulfiarahmi.wordpress.com/1717/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ulfiarahmi.wordpress.com/1717/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ulfiarahmi.wordpress.com/1717/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ulfiarahmi.wordpress.com/1717/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ulfiarahmi.wordpress.com/1717/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ulfiarahmi.wordpress.com/1717/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ulfiarahmi.wordpress.com/1717/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ulfiarahmi.wordpress.com/1717/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ulfiarahmi.wordpress.com/1717/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ulfiarahmi.wordpress.com/1717/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ulfiarahmi.wordpress.com&amp;blog=3924715&amp;post=1717&amp;subd=ulfiarahmi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ulfiarahmi.wordpress.com/2011/11/28/si-amplop-jingga-terang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fff7199d47843e4afa6d127ae5f9b369?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ulfiarahmi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Aku-Kau Senang</title>
		<link>http://ulfiarahmi.wordpress.com/2011/11/23/aku-kau-senang/</link>
		<comments>http://ulfiarahmi.wordpress.com/2011/11/23/aku-kau-senang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Nov 2011 07:17:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ulfiarahmi</dc:creator>
				<category><![CDATA[satu]]></category>
		<category><![CDATA[penting]]></category>
		<category><![CDATA[senang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ulfiarahmi.wordpress.com/?p=1712</guid>
		<description><![CDATA[Kediaman Willis tinggal beberapa saat lagi bisa dicapai menggunakan sepeda motor tua Ariel. Berkisar dua puluh atau dua puluh lima meter. Tepat mereka sudah berada di persimpangan gang Yudistira. Di balik punggung Ariel dengan menggengam ujung ransel Ariel, Willis ingin mengatakan sebuah rahasia. Rahasia yang sangat besar. Mereka makin terdesak, semakin dekat radius kediamannya dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ulfiarahmi.wordpress.com&amp;blog=3924715&amp;post=1712&amp;subd=ulfiarahmi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kediaman Willis tinggal beberapa saat lagi bisa dicapai menggunakan sepeda motor tua Ariel. Berkisar dua puluh atau dua puluh lima meter. Tepat mereka sudah berada di persimpangan gang Yudistira. Di balik punggung Ariel dengan menggengam ujung ransel Ariel, Willis ingin mengatakan sebuah rahasia. <span id="more-1712"></span>Rahasia yang sangat besar. Mereka makin terdesak, semakin dekat radius kediamannya dengan Willis semakin Willis terhimpit waktu.<br />
“Kum, aku punya rahasia besar”. Begitu kira-kira Willis akan memulainya.<br />
“Rahasia apakah itu?”<br />
“Aku habis mencuri”<br />
“Bunga mencuri?”<br />
“iya”<br />
“Apa yang Bunga ambil? Apa klepto stadium 0,01 mu kambuh lagi hingga membuatmu membawa benda-benda bekas ke kosmu?”<br />
“bukan benda bekas, Kum. Jauh lebih besar dan berarti dari itu”<br />
“apa itu?”<br />
“Hati. Aku mencuri hati seseorang. Maaf. Aku tak berniat.”<br />
“Tak ada yang harus dimaafkan, kenapa minta maaf”<br />
“aku hanya ingin bercerita, tapi jangan Kum berkecil hati. Hatiku tak dapat dicurinya”<br />
“Tak apa. Aku senang Bunga ingin berbagi”<br />
“Aku senang Kum bilang begitu”<br />
“Aku senang jika Bunga senang”<br />
“Oh&#8230;”<br />
“Karna itu lebih berarti”<br />
“Kenapa tidak tanya siapa orangnya?”<br />
“Aku tak ingin tau, karna bagiku itu tak penting”<br />
“Apa yang penting”<br />
“Yang jelas bukan dia”<br />
“Tapi aku tetap ingin Kum tau”<br />
“Ok, siapa?”<br />
“Teman satu timku”<br />
Rahasia itu terungkapkan. Sampai Willis berdiri di depan gerbang berkarat depan kediamannya. “Makasih Kum, sudah mengantar”, Willis membuka kata.<br />
“Sama-sama, dan selamat menikmati. Aku balik ya”, balas Ariel<br />
Willis mengikuti laju sepeda motor tua, menatapi punggung yang menyandang ransel bewarna hitam. Di dalam hati Willis berjanji akan benar-benar menyampaikan dan membeberkan rahasia besar itu. Sampai Willis memasuki kediamannya, hatinya masih sibuk dengan percakapan-percakapan yang seharusnya dia lakukan bersama Ariel.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ulfiarahmi.wordpress.com/1712/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ulfiarahmi.wordpress.com/1712/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ulfiarahmi.wordpress.com/1712/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ulfiarahmi.wordpress.com/1712/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ulfiarahmi.wordpress.com/1712/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ulfiarahmi.wordpress.com/1712/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ulfiarahmi.wordpress.com/1712/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ulfiarahmi.wordpress.com/1712/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ulfiarahmi.wordpress.com/1712/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ulfiarahmi.wordpress.com/1712/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ulfiarahmi.wordpress.com/1712/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ulfiarahmi.wordpress.com/1712/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ulfiarahmi.wordpress.com/1712/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ulfiarahmi.wordpress.com/1712/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ulfiarahmi.wordpress.com&amp;blog=3924715&amp;post=1712&amp;subd=ulfiarahmi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ulfiarahmi.wordpress.com/2011/11/23/aku-kau-senang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fff7199d47843e4afa6d127ae5f9b369?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ulfiarahmi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://ulfiarahmi.wordpress.com/2011/11/22/1703/</link>
		<comments>http://ulfiarahmi.wordpress.com/2011/11/22/1703/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Nov 2011 08:25:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ulfiarahmi</dc:creator>
				<category><![CDATA[satu]]></category>
		<category><![CDATA[masa depan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ulfiarahmi.wordpress.com/?p=1703</guid>
		<description><![CDATA[Lama tak mengunjungi Ariel dan Willis. Apa kabar dengan mereka. Apa aku yang terlalu sibuk sehingga meninggalkan mereka untuk sementara waktu. Tak mengikuti kemana langkah mereka dan tak meninjau ‘satu’ yang mereka miliki. Atau mereka yang telah menghilang, menjauh dariku melalang buana mengintari luasnya bumi Tuhan mengembangkan sayap mereka. Orang bilang terbang bersama itu indah. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ulfiarahmi.wordpress.com&amp;blog=3924715&amp;post=1703&amp;subd=ulfiarahmi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lama tak mengunjungi  Ariel dan Willis. Apa kabar dengan mereka. Apa aku yang terlalu sibuk sehingga meninggalkan mereka untuk sementara waktu. Tak mengikuti kemana langkah mereka dan tak meninjau ‘satu’ yang mereka miliki. Atau mereka yang telah menghilang, menjauh dariku melalang buana mengintari luasnya bumi Tuhan mengembangkan sayap mereka. Orang bilang ter<span id="more-1703"></span>bang bersama itu indah. Seperti burung-burung yang bersama-sama terbang ke selatan saat musim panas akan tiba.<br />
Jauh sebelum ini, Ariel dan Willis telah berjuang bersama mencapai sesuatu yang begitu kecil jika dipandang dengan apa yang mereka miliki saat ini. Mengayunkan langkah bersama sambil bergandengan tangan. Menerjang panasnya api, bekunya es , kerasnya batu dan dinginnya udara subuh. Diluar dugaan kemampuan yang mereka miliki dengan apa yang mereka hadapi.<br />
***<br />
Empat bulan &#8230; hari.. jam&#8230;menit..detik tak mengunjungi mereka. Kini Ariel dan Willis menghabiskan hari-harinya dengan berdiskusi dengan profesor-profesor dan doktor-doktor  di Pascasarjana pada kampus mereka terdahulu. Ternyata mereka sama-sama mengepakkan sayap dan memutuskan untuk menjadi ilmuan yang bergerak dalam bidang pendidikan. Berkutak dengan teori-teori belajar dan pembelajaran, menyatukan pendidikan dan psikologi serta teknologi karena mereka berada pada area Teknologi Pendidikan.<br />
Wah wah wah&#8230;, beberapa tahun ke depan saya membayangkan mereka akan menjadi pakar pendidikan. Diwawancarai ketika beberapa media membutuhkan konfirmasi terhadap apa isu yang berkembang. Dimintai menulis malakah untuk sebuah pertemuan ilmiah. Kerja sama penelitian. Menulis jurnal dan tak dapat saya bayangkan berapa buah buku yang akan mereka tulis dan naik cetak setiap tahunnya.<br />
Menerka-nerka bagaimana Ariel dan Willis beberapa tahun yang akan datang sama dengan menerka-nerka bagaimana teknologi dapat mempengaruhi atau bahkan menguasai kehidupan manusia. Barangkali dua puluh tahun yang lalu, aktor  sejarah di zaman itu sulit membayangkan bagaimana komputer sebagai bagian dari teknologi begitu berperan saat ini. Dan saat ini barangkali tak terprediksikan bagaimana teknologi dua puluh tahun mendatang. Untuk tahun depan saja masih prediksi abu-abu, apa lagi puluhan tahun.<br />
Begitu pun dengan Ariel dan Willis. Memprediksi kehidupan mereka dengan tepat di masa yang akan datang begitu sulit. Sama dengan memprediksi masa kini di masa lalu. Saat mereka menjadi dua orang teman baik yang begitu dekat, siapa sangka mereka bisa bersatu dalam ikatan yang sampai kini masih mereka pertahankan. Mereka sendiri pun tak akan mengira dengan apa yang mereka miliki satu sama lainnya saat ini. Dan untuk masa depan. Ampiuuuun, Tuhan punya kuasa untuk pasal ini.<br />
Yang jelas, mereka berada di saat ini. Bukan di masa lalu dan bukan pula di masa depan. Akan menjadi orang kurang waras ketika berada di saat ini namun hidup di masa lalu, ataupun sebaliknya hidup di masa ini namun berada di masa depan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ulfiarahmi.wordpress.com/1703/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ulfiarahmi.wordpress.com/1703/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ulfiarahmi.wordpress.com/1703/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ulfiarahmi.wordpress.com/1703/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ulfiarahmi.wordpress.com/1703/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ulfiarahmi.wordpress.com/1703/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ulfiarahmi.wordpress.com/1703/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ulfiarahmi.wordpress.com/1703/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ulfiarahmi.wordpress.com/1703/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ulfiarahmi.wordpress.com/1703/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ulfiarahmi.wordpress.com/1703/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ulfiarahmi.wordpress.com/1703/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ulfiarahmi.wordpress.com/1703/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ulfiarahmi.wordpress.com/1703/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ulfiarahmi.wordpress.com&amp;blog=3924715&amp;post=1703&amp;subd=ulfiarahmi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ulfiarahmi.wordpress.com/2011/11/22/1703/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fff7199d47843e4afa6d127ae5f9b369?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ulfiarahmi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://ulfiarahmi.wordpress.com/2011/11/17/1698/</link>
		<comments>http://ulfiarahmi.wordpress.com/2011/11/17/1698/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Nov 2011 00:16:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ulfiarahmi</dc:creator>
				<category><![CDATA[koleksi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ulfiarahmi.wordpress.com/?p=1698</guid>
		<description><![CDATA[&#8230; belajarlah dalam kesabaran Ayub, berjalanlah bersama keberanian Ibrahim, bacalah semesta melalui kecerdasan Sulaiman, taklukkan angkuh dunia dengan ketangguhan Musa, himpunlah semua kebijaksanaan Yakub, katakanlah kebenaran semerdu suara Daud, kasihilah sesama sepenuh cinta Isa, lalu masukilah kebeningan dirimu bersama ketakwaan Muhammad<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ulfiarahmi.wordpress.com&amp;blog=3924715&amp;post=1698&amp;subd=ulfiarahmi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h6>&#8230; belajarlah dalam kesabaran Ayub, berjalanlah bersama keberanian Ibrahim, bacalah semesta melalui kecerdasan Sulaiman, taklukkan angkuh dunia dengan ketangguhan Musa, himpunlah semua kebijaksanaan Yakub, katakanlah kebenaran semerdu suara Daud, kasihilah sesama sepenuh cinta Isa, lalu masukilah kebeningan dirimu bersama ketakwaan Muhammad</h6>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ulfiarahmi.wordpress.com/1698/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ulfiarahmi.wordpress.com/1698/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ulfiarahmi.wordpress.com/1698/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ulfiarahmi.wordpress.com/1698/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ulfiarahmi.wordpress.com/1698/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ulfiarahmi.wordpress.com/1698/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ulfiarahmi.wordpress.com/1698/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ulfiarahmi.wordpress.com/1698/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ulfiarahmi.wordpress.com/1698/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ulfiarahmi.wordpress.com/1698/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ulfiarahmi.wordpress.com/1698/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ulfiarahmi.wordpress.com/1698/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ulfiarahmi.wordpress.com/1698/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ulfiarahmi.wordpress.com/1698/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ulfiarahmi.wordpress.com&amp;blog=3924715&amp;post=1698&amp;subd=ulfiarahmi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ulfiarahmi.wordpress.com/2011/11/17/1698/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fff7199d47843e4afa6d127ae5f9b369?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ulfiarahmi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Acara Penting; Belajar</title>
		<link>http://ulfiarahmi.wordpress.com/2011/11/14/1689/</link>
		<comments>http://ulfiarahmi.wordpress.com/2011/11/14/1689/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Nov 2011 05:50:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ulfiarahmi</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[belajar]]></category>
		<category><![CDATA[kegiatan penting]]></category>
		<category><![CDATA[tamu penting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ulfiarahmi.wordpress.com/?p=1689</guid>
		<description><![CDATA[Mahasiswa kependidikan dipersiapkan untuk menjadi tenaga pendidik. Baik itu guru, pamong, tutor atau pun menjadi dosen. Lembaga yang menghasilkan tenaga pendidik pun juga mempersiapkan segala sesuatu yang mungkin dibutuhkan saat mahasiswa masuk ke dunia kerja. Menerapkan apa yang dipelajarinya semasa menjalani pendidikan dengan tujuan masing-masing tempat mengajar yang telah disepakati. Baik tujuan nasional, tujuan sekolah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ulfiarahmi.wordpress.com&amp;blog=3924715&amp;post=1689&amp;subd=ulfiarahmi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mahasiswa kependidikan dipersiapkan untuk menjadi tenaga pendidik. Baik itu guru, pamong, tutor atau pun menjadi dosen. Lembaga yang menghasilkan tenaga pendidik pun juga mempersiapkan segala sesuatu yang mungkin dibutuhkan saat mahasiswa masuk ke dunia kerja. <span id="more-1689"></span>Menerapkan apa yang dipelajarinya semasa menjalani pendidikan dengan tujuan masing-masing tempat mengajar yang telah disepakati. Baik tujuan nasional, tujuan sekolah atau lembaga, tujuan dari mata pelajaran sampai pada tujuan dari setiap kali pertemuan.<a href="http://ulfiarahmi.files.wordpress.com/2011/11/belajar.jpg"><img class="size-medium wp-image-1690 alignright" title="belajar" src="http://ulfiarahmi.files.wordpress.com/2011/11/belajar.jpg?w=300&#038;h=178" alt="" width="300" height="178" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Untuk mencapai tujuan tersebut mahasiswa dibekali dengan berbagai kemampuan yang secara terintegrasi ketika berada di lingkungan kerja memiliki empat kompetensi. Yang pertama yaitu kompetensi pedagogik yang merupakan kemampuan pendidik untuk mengelola pembelajaran mulai dari prencanaan, pelaksanaan sampai mengevaluasi. Kedua kompetensi personal yang merupakan kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, arif dan bijaksana. Ketiga komptensi profesional yang merupakan kemampuan penguasaan materi pembelajaran dan yang terakhir kompetensi sosial yang merupakan kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat untuk bisa berkomunikasi dengan kompenen lain yang terlibat. Pencapain keempat kompetensi tersebut mengantarkan seseorang pada guru ideal.</p>
<p style="text-align:justify;">Guru ideal barangkali menjadi idaman banyak orang. Bagaimana mengelola kelas, berkomunikasi dengan anak didik, jago mengelola kelas namun sangat mendalami materi. Bijak menangani satu persoalan tanpa mengabaikan anak didik yang lain, sempurna dalam penampilan sempurna dalam melayani. Namun terlepas dari tuntutan-tuntutan untuk menjadi yang seharusnya, menjadi seperi yang diingin pihak lain di luar diri individu, menjadi seorang pendidik dapat dianalogikan seorang tuan rumah yang menunggu siswanya sebagai tamu.</p>
<p style="text-align:justify;">Bayangkan dua jam pelajaran yang akan dilakukan adalah sebuah event penting “important events” untuk kegiatan penting “urgen activity”. Sebuah event yang didalamnya mencakup berbagai macam karakteristik siswa yang beragam, dengan gaya belajar yang berbeda, minat yang berbeda, tujuan yang berbeda namun dengan tujuan yang sama, yaitu bagaimana membelajarkan mereka mencapai tujuan tujuan yang telah ditetapkan. Dalam acara penting tersebut akan dilaksanakan kegiatan yang sangat penting, yaitu belajar. Pendidik sebagai tuan rumah yang mengundang dan anak didik sebagai tamu yang diundang.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Persiapan </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pendidik sebagai tuan rumah yang menjadi pengundang layaknya menjadi seseorang yang mengundang orang lain datang ke rumahnya untuk acara penting. Dalam menerima tamu, tuan rumah akan melakukan banyak persiapan. Mulai dari membersikan rumah, merapikan, menghias rumah sampai pada menganalisis kebutuhan si tamu. Biasanya kalau tamu akan dapat pada siang hari tepat pada makan siang maka akan disiapkan makan siang, atau menyiapkan cemilan lain agar tamu merasa senang berada di rumah.</p>
<p style="text-align:justify;">Kalau persiapan ini dianalogikan ke dalam persiapan ketika sebuah kelas akan diselenggarakan guru pun selayaknyalah melakukan persiapan. Menganalisis kebutuhan siswa, mengira-ngira kebutuhan siswa selama kegiatan penting (baca: belajar) belangsung agar tujuan yang ditetapkan atas kegiatan penting itu dapat tercapai. Bagaimana karakteristik dari tamu-tamu pentingnya dan mempersiapkan dengan cara apa tamu-tamu penting itu dapat mengikuti acara penting bersama tamu-tamu penting lainnya. Strategi, metode dan media apa yang membuat semuanya menjadi penting karena tujuannya juga sangat penting.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pelaksanaan </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Saat tamu sudah berada di rumahnya tuan rumah, si tuan rumah akan melayani tamu laksana raja. Bersikap ramah, memberikan senyum termanis dan menyuguhkan sesuatu yang barangkali mungkin ditunggu-tunggu tamu. Sejenis minuman mungkin, cemilan atau bahkan ditawari makan. Menyenangkan hati tamu dengan berkabar-kabar dan memuji, tidak mengecilkan hati tamu dan ‘asal tamu senang’.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam pelaksanaan di kelas hal yang sama juga akan dilakukan. Saat siswa memasuki kelas, terimalah mereka dengan senyum termanis, dengan sikap ramah dan suguhkan sesuatu yang ditunggu anak didik namun bermanfaat. Agar diakhir pertemuan nantik anak didik membawa sesuatu untuk bekalnya belajar sepanjang hayat. Namun bagaimana cara yang dilakukan agar pertemuan singkat namun penting itu dapat berlangsung dengan indah, menjadi momen yang tak terlupakan. Apakah itu dengan pilihan strategi, metode, dan media yang telah disesuaikan dengan tujuan dan karakteristik anak didik.</p>
<p style="text-align:justify;">Bayangkankan dalam pelaksanaan kegiatan penting tersebut, ada pebincangan yang ringan dan menarik antara pendidik dan anak didik, agar anak didik betah dan ingin kembali datang pada acara yang sama di waktu yang berbeda. Dan bayangkan pula ketika di kelas yang dianggap penting hanya tuan rumah yang berceloteh, hanya tuan rumah serba sibuk, melakoni segalanya dalam pertemuan, menjadikan kegiatan tersebut tidak penting lagi bagi tamu. Mengakibatkan kebosanan dan barangkali enggan untuk mengikuti acara yang sama di lain waktu. Bagaimana mereka bisa kembali ke rumah si tuan rumah yang hanya hobi berceloteh dengan dinding?</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kegiatan Penutup</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ketka tamu akan meninggalkan acara penting, si tuan rumah akan berbasa-basi agar tamu berkenan datang kembali dan mengucapkan terima kasih. Sebagian tuan rumah menyuguhkan sesuatu untuk dibawa tamu pulang ke rumah. Dalam kegiatan pembelajaran, diakhir acara penting pendidikan akan mengevaluasi kegiatan yang telah berlangsung. Apakah anak didik mengikutinya dengan baik, keterlibatan sampai kepuasan anak didik. Dipenghujung acara penting pendidik menyimpulkan kegiatan anak didik yang berupa pengalaman untuk dibawa pulang oleh anak didik saat pulang ke rumah.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk membuat tamu betah dan merasa puas, perlu dilakukan banyak hal. Hal yang sama pun harus dilakukan oleh pendidik agar anak didiknya terlibat dalam kegiatan penting (baca belajar) berlangsung. Di sini pula tugas lembaga penghasil pendidikan tinggi penghasil tenaga pendidik untuk membekali calon-calon pendidik dengan bekal untuk mengabdi di masyarakat. Baik itu memberikan modal dengan kompetensi pedagogi, kompetensi personal, kompetensi prosesional dan kompetensi sosial. Karena dengan empat kompetensi ini diharapkan calon pendidik saat berada di lingkungan kerjanya dapat menerima siswa layaknya tamu untuk acara penting dengan kegiatan penting, yaitu belajar.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ulfiarahmi.wordpress.com/1689/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ulfiarahmi.wordpress.com/1689/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ulfiarahmi.wordpress.com/1689/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ulfiarahmi.wordpress.com/1689/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ulfiarahmi.wordpress.com/1689/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ulfiarahmi.wordpress.com/1689/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ulfiarahmi.wordpress.com/1689/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ulfiarahmi.wordpress.com/1689/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ulfiarahmi.wordpress.com/1689/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ulfiarahmi.wordpress.com/1689/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ulfiarahmi.wordpress.com/1689/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ulfiarahmi.wordpress.com/1689/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ulfiarahmi.wordpress.com/1689/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ulfiarahmi.wordpress.com/1689/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ulfiarahmi.wordpress.com&amp;blog=3924715&amp;post=1689&amp;subd=ulfiarahmi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ulfiarahmi.wordpress.com/2011/11/14/1689/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fff7199d47843e4afa6d127ae5f9b369?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ulfiarahmi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ulfiarahmi.files.wordpress.com/2011/11/belajar.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">belajar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pilih yang mana?</title>
		<link>http://ulfiarahmi.wordpress.com/2011/11/04/pilih-yang-mana/</link>
		<comments>http://ulfiarahmi.wordpress.com/2011/11/04/pilih-yang-mana/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Nov 2011 09:26:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ulfiarahmi</dc:creator>
				<category><![CDATA[koleksi]]></category>
		<category><![CDATA[berjuang]]></category>
		<category><![CDATA[pilihan]]></category>
		<category><![CDATA[semangat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ulfiarahmi.wordpress.com/?p=1684</guid>
		<description><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ulfiarahmi.wordpress.com&amp;blog=3924715&amp;post=1684&amp;subd=ulfiarahmi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ulfiarahmi.files.wordpress.com/2011/11/atlet-copy.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-1685" title="atlet copy" src="http://ulfiarahmi.files.wordpress.com/2011/11/atlet-copy.jpg?w=370&#038;h=240" alt="" width="370" height="240" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ulfiarahmi.wordpress.com/1684/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ulfiarahmi.wordpress.com/1684/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ulfiarahmi.wordpress.com/1684/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ulfiarahmi.wordpress.com/1684/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ulfiarahmi.wordpress.com/1684/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ulfiarahmi.wordpress.com/1684/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ulfiarahmi.wordpress.com/1684/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ulfiarahmi.wordpress.com/1684/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ulfiarahmi.wordpress.com/1684/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ulfiarahmi.wordpress.com/1684/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ulfiarahmi.wordpress.com/1684/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ulfiarahmi.wordpress.com/1684/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ulfiarahmi.wordpress.com/1684/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ulfiarahmi.wordpress.com/1684/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ulfiarahmi.wordpress.com&amp;blog=3924715&amp;post=1684&amp;subd=ulfiarahmi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ulfiarahmi.wordpress.com/2011/11/04/pilih-yang-mana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fff7199d47843e4afa6d127ae5f9b369?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ulfiarahmi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://ulfiarahmi.files.wordpress.com/2011/11/atlet-copy.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">atlet copy</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Titik Nazir Peradaban Pendidikan Karakter</title>
		<link>http://ulfiarahmi.wordpress.com/2011/10/07/titik-nazir-peradaban-pendidikan-karakter/</link>
		<comments>http://ulfiarahmi.wordpress.com/2011/10/07/titik-nazir-peradaban-pendidikan-karakter/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Oct 2011 17:06:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ulfiarahmi</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan karakter]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ulfiarahmi.wordpress.com/?p=1677</guid>
		<description><![CDATA[Dalam beberapa dekade terakhir ini, nurani kita digelisahkan oleh maraknya aksi-aksi kekerasan. Negeri ini dianggap telah kehilangan nilai-nilai kesejatian diri sebagai bangsa yang terhormat dan bermartabat akibat meruyaknya aksi-aksi vandalisme yang tak henti-hentinya menggoyang sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Bangsa kita yang multikultur dan multiwajah dinilai telah kehilangan sikap ramah. Nilai-nilai keberadaban telah tereduksi oleh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ulfiarahmi.wordpress.com&amp;blog=3924715&amp;post=1677&amp;subd=ulfiarahmi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Dalam beberapa dekade terakhir ini, nurani kita digelisahkan oleh maraknya aksi-aksi <a title="kekerasan" href="http://sawali.info/tag/kekerasan/">kekerasan</a>. Negeri ini dianggap telah kehilangan nilai-<a title="nilai kesejatian diri" href="http://sawali.info/tag/nilai-kesejatian-diri/">nilai kesejatian diri</a> sebagai bangsa yang terhormat dan bermartabat akibat meruyaknya aksi-aksi vandalisme yang tak henti-hentinya menggoyang sendi-sendi <a title="kehidupan" href="http://sawali.info/tag/kehidupan/">kehidupan</a> berbangsa dan bernegara. Bangsa kita yang <a title="multikultur" href="http://sawali.info/tag/multikultur/">multikultur</a> dan multiwajah dinilai telah kehilangan sikap ramah. Nilai-nilai ke<span id="more-1677"></span>beradaban telah tereduksi oleh sikap-sikap kebiadaban yang membudaya dalam bentuk tawuran <a title="pelajar" href="http://sawali.info/tag/pelajar/">pelajar</a>, pemerkosaan, pembunuhan, mutilasi, aborsi, dan berbagai perilaku vandalistis lainnya yang menggurita di segenap lapis dan lini <a title="kehidupan" href="http://sawali.info/tag/kehidupan/">kehidupan</a>masyarakat. Sentimen-sentimen primordialisme berbasis kesukuan, agama, ras, atau antargolongan menjadi demikian rentan tereduksi oleh emosi-emosi agresivitas. Bangsa kita seolah-olah telah menjelma menjadi “homo violens” yang menghalalkan darah sesamanya dalam memanjakan naluri dan hasrat purbanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sungguh, kita sangat merindukan Indonesia yang multiwajah dan <a title="multikultur" href="http://sawali.info/tag/multikultur/">multikultur</a> ditaburi dengan nilai-nilai keramahan, kearifan, dan fatsun <a title="kehidupan" href="http://sawali.info/tag/kehidupan/">kehidupan</a> di berbagai sudut dan lorong <a title="kehidupan" href="http://sawali.info/tag/kehidupan/">kehidupan</a>. Jangan sampai terjadi pesona <a title="kekerasan" href="http://sawali.info/tag/kekerasan/">kekerasan</a>, arogansi <a title="kekuasaan" href="http://sawali.info/tag/kekuasaan/">kekuasaan</a>, dan emosi-emosi agresivitas purba yang serba naif, makin memperkuat stigma bangsa kita sebagai bangsa bar-bar dan biadab.</p>
<p style="text-align:justify;">Memang bukan hal yang mudah untuk <a title="memutus mata rantai kekerasan" href="http://sawali.info/2009/06/20/memutus-mata-rantai-kekerasan/">memutus mata rantai kekerasan</a> sebagai <a title="ekspresi" href="http://sawali.info/tag/ekspresi/">ekspresi</a> bangsa yang “murka” akibat pasungan rezim masa lalu yang bertahun-tahun lamanya “memenjarakan” anak-anak bangsa dalam tungku <a title="kekuasaan" href="http://sawali.info/tag/kekuasaan/">kekuasaan</a> yang dianggap tertutup, tiran, dan tidak adil. Kesenjangan <a title="sosial" href="http://sawali.info/category/refleksi/sosial/">sosial</a>-ekonomi yang begitu lebar, disadari atau tidak, telah membuat <a title="kehidupan" href="http://sawali.info/tag/kehidupan/">kehidupan</a> masyarakat di lapisan akar rumput menjadi gampang putus asa dan rentan terhadap aksi-aksi <a title="kekerasan" href="http://sawali.info/tag/kekerasan/">kekerasan</a>. Sementara itu, pembangunan ekonomi negeri kita yang telah berlangsung sejak rezim Orde Baru berkuasa dinilai telah melahirkan kelompok <a title="sosial" href="http://sawali.info/category/refleksi/sosial/">sosial</a> yang konsumtif. Mereka tinggal di kota-kota besar, mengonsumsi sekitar lebih dari sepertiga pendapatan nasional, amat gemar berbelanja, memiliki rumah dan mobil-mobil mewah, bergaya hidup glamor, menjadi anggota berbagai klub eksekutif yang mahal, tetapi cenderung bersikap cuek terhadap gagasan-gagasan perubahan.</p>
<p style="text-align:justify;">Pemahaman <a title="gaya hidup" href="http://sawali.info/tag/gaya-hidup/">gaya hidup</a> yang salah semacam itu, disadari atau tidak, telah melumpuhkan kepekaan nurani dan <a title="moral" href="http://sawali.info/tag/moral/">moral</a> serta <a title="religi" href="http://sawali.info/category/refleksi/religi/">religi</a>. Sikap hidup instan telah melenyapkan <a title="budaya" href="http://sawali.info/category/budaya/">budaya</a> “proses” dalam mencapai sesuatu. Sikap sabar, tawakal, ulet, telaten, dan cermat, yang merupakan entitas kebersahajaan dan kejujuran telah tersulap menjadi sikap menerabas, pragmatis, dan instant. Orang pun jadi semakin permisif terhadap perbuatan-perbuatan yang tidak jujur. <a title="Budaya" href="http://sawali.info/category/budaya/">Budaya</a> suap, kolusi, nepotisme, atau manipulasi anggaran sudah dianggap sebagai hal yang wajar. Untuk mengegolkan ambisi tidak jarang ditempuh dengan cara-cara yang tidak wajar menurut <a title="etika" href="http://sawali.info/tag/etika/">etika</a>. Kesibukan memburu gebyar materi untuk bisa memanjakan selera dan naluri konsumtifnya, membuat kepedulian terhadap sesama menjadi marginal. Jutaan saudara kita yang masih bergelut dengan lumpur <a title="kemiskinan" href="http://sawali.info/tag/kemiskinan/">kemiskinan</a>, kelaparan, dan <a title="keterbelakangan" href="http://sawali.info/tag/keterbelakangan/">keterbelakangan</a>, luput dari perhatian.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang mencemaskan, <a title="dunia pendidikan" href="http://sawali.info/tag/dunia-pendidikan/">dunia pendidikan</a> kita dinilai tidak diarahkan untuk memanusiakan manusia secara utuh, lahir dan batin, tetapi lebih diorientasikan pada hal-hal yang bercorak materialistis, ekonomis, dan teknokratis; kering dari sentuhan nilai <a title="moral" href="http://sawali.info/tag/moral/">moral</a>, <a title="kemanusiaan" href="http://sawali.info/tag/kemanusiaan/">kemanusiaan</a>, dan kemuliaan budi. Pendidikan lebih mementingkan <a title="kecerdasan" href="http://sawali.info/tag/kecerdasan/">kecerdasan</a> intelektual, akal, dan penalaran, tanpa diimbangi dengan intensifnya pengembangan <a title="kecerdasan" href="http://sawali.info/tag/kecerdasan/">kecerdasan</a> hati nurani, emosi, dan <a title="spiritual" href="http://sawali.info/tag/spiritual/">spiritual</a>. Imbasnya, <a title="apresiasi" href="http://sawali.info/tag/apresiasi/">apresiasi</a> keluaran pendidikan terhadap keagungan nilai humanistik, keluhuran dan kemuliaan budi jadi nihil. Mereka jadi kehilangan kepekaan nurani; cenderung bar-bar, besar kepala, dan mau menang sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Iklim pendidikan kita yang kering dari sentuhan <a title="nilai kemanusiaan" href="http://sawali.info/tag/nilai-kemanusiaan/">nilai kemanusiaan</a> semacam itu, disadari atau tidak, telah melahirkan manusia-manusia berkarakter hedonis, penjilat, <a title="hipokrit" href="http://sawali.info/tag/hipokrit/">hipokrit</a>, arogan, dan miskin kearifan. Tak berlebihan kalau (alm.) Rama Mangunwijaya dengan nada sinis pernah menyatakan bahwa angkatan sekarang mengalami kemunduran yang sangat parah dalam pendidikan berpikir nalar eksploratif dan kreatif, sehingga menumbuhkan kultur pikir dan cita rasa yang sempit dan dangkal yang memperlambat pendewasaan diri. Padahal, idealnya, rasionalitas harus dikemudikan ke tingkat yang lebih komprehensif, yakni kearifan. Kearifan pun harus memiliki dimensi rasionalitas yang tinggi. Emosi, perasaan, atau pandangan subjektif dalam diri manusia, tegas Rama Mangun, dapat diibaratkan seperti energi yang memberi daya gerak kepada karya manusia. Sedangkan rasio atau nalar ibarat kemudia atau setir, sedangkan kearifan adalah nahkodanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Merebaknya sikap hidup <a title="pragmatik" href="http://sawali.info/category/bahasa/pragmatik-bahasa/">pragmatik</a>, melembaganya <a title="budaya" href="http://sawali.info/category/budaya/">budaya</a> <a title="kekerasan" href="http://sawali.info/tag/kekerasan/">kekerasan</a>, atau meruyaknya <a title="bahasa" href="http://sawali.info/category/bahasa/">bahasa</a> ekonomi dan <a title="politik" href="http://sawali.info/category/refleksi/politik/">politik</a>, disadari atau tidak, telah ikut melemahkan karakter anak-anak bangsa, sehingga nilai-nilai luhur baku dan kearifan sikap hidup menjadi mandul. Anak-anak sekarang gampang sekali melontarkan <a title="bahasa" href="http://sawali.info/category/bahasa/">bahasa</a> oral dan <a title="bahasa" href="http://sawali.info/category/bahasa/">bahasa</a> tubuh yang cenderung tereduksi oleh gaya ungkap yang kasar dan vulgar. Nilai-nilai <a title="etika" href="http://sawali.info/tag/etika/">etika</a> dan estetika telah terbonsai dan terkerdilkan oleh <a title="gaya hidup" href="http://sawali.info/tag/gaya-hidup/">gaya hidup</a> instan dan pragmatis.</p>
<p style="text-align:justify;">Pendidikan berbasis karakter di negeri ini memang telah lama hilang. Bahkan, tak sedikit pengamat dan pemerhati <a title="dunia pendidikan" href="http://sawali.info/tag/dunia-pendidikan/">dunia pendidikan</a> kita yang mengakui bahwa <a title="pendidikan karakter" href="http://sawali.info/tag/pendidikan-karakter/">pendidikan karakter</a> di negeri ini telah berada pada titik nazir peradaban. Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), misalnya, yang seharusnya bisa menjadi “katalisator” untuk membendung arus merebaknya <a title="budaya" href="http://sawali.info/category/budaya/">budaya</a> <a title="kekerasan" href="http://sawali.info/tag/kekerasan/">kekerasan</a> dan proses demoralisasi, dinilai telah berubah menjadi mata pelajaran berbasis <a title="indoktrinasi" href="http://sawali.info/tag/indoktrinasi/">indoktrinasi</a> dan dogmatis yang semata-mata mengajarkan nilai baik dan buruk, tanpa diimbangi dengan pola pembiasaan intens yang bisa memicu <a title="siswa" href="http://sawali.info/tag/siswa/">siswa</a> didik untuk berperilaku dan bersikap sesuai dengan nilai-nilai <a title="keluhuran budi" href="http://sawali.info/tag/keluhuran-budi/">keluhuran budi</a>. Akibat pola <a title="indoktrinasi" href="http://sawali.info/tag/indoktrinasi/">indoktrinasi</a> yang demikian lama dalam ranah pendidikan kita, diakui atau tidak, telah mengubah <em>mind-set</em> anak-anak cenderung menjadi “kanibal”, baik terhadap dirinya sendiri maupun sesamanya. Mereka tidak lagi memiliki kepekaan terhadap sesamanya, kehilangan nilai kasih sayang, dan sibuk dengan dunianya sendiri yang cenderung agresif dengan tingkat degradasi <a title="moral" href="http://sawali.info/tag/moral/">moral</a> yang sudah berada pada titik nazir peradaban.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal itu diperparah dengan miskinnya keteladanan perilaku kaum elite kita yang seharusnya menjadi patron dan sosok anutan <a title="sosial" href="http://sawali.info/category/refleksi/sosial/">sosial</a> yang mengagumkan. Perilaku <a title="korupsi" href="http://sawali.info/tag/korupsi/">korupsi</a>, sikap serakah, dan mau menang sendiri, justru menjadi tontonan masif di tengah massa yang demikian gampang disaksikan melalui layar kaca. Dalam konteks ini, mungkin ada benarnya kalau Nicolo Machiavelli menyatakan bahwa pada dasarnya manusia adalah penipu, rakus, tidak pernah terpuaskan dan serakah. Hal senada juga dikemukakan oleh Thomas Hobes bahwa manusia mempunyai  sifat dasar yang mementingkan egonya sendiri dan merupakan musuh bagi manusia lainnya (homo homini lupus).<br />
***</p>
<p style="text-align:justify;">Akar <a title="kekerasan" href="http://sawali.info/tag/kekerasan/">kekerasan</a> yang membelit sendi-sendi <a title="kehidupan" href="http://sawali.info/tag/kehidupan/">kehidupan</a> bangsa tentu saja tidak lahir begitu saja. <a title="Sistem pendidikan" href="http://sawali.info/tag/sistem-pendidikan/">Sistem pendidikan</a> kita yang belum efektif dalam melahirkan generasi-generasi masa depan yang cerdas sekaligus bermoral yang kemudian “berselingkuh” dengan kultur <a title="sosial" href="http://sawali.info/category/refleksi/sosial/">sosial</a> masyarakat kita yang sedang chaos dan “sakit” setidaknya telah memiliki andil yang cukup besar dalam menciptakan lingkaran <a title="kekerasan" href="http://sawali.info/tag/kekerasan/">kekerasan</a> itu. Fungsi <a title="pendidikan nasional" href="http://sawali.info/tag/pendidikan-nasional/">pendidikan nasional</a> untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan <a title="kehidupan" href="http://sawali.info/tag/kehidupan/">kehidupan</a> bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab –sebagaimana termaktub dalam pasal 3 UU Sisdiknas– (nyaris) hanya menjadi slogan ketika kultur <a title="sosial" href="http://sawali.info/category/refleksi/sosial/">sosial</a> masyarakat dinilai tidak cukup kondusif dalam mendukung terciptanya atmosfer pendidikan yang nyaman dan mencerahkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Nilai-nilai luhur baku yang digembar-gemborkan di lembaga pendidikan (nyaris) tak bergema dalam gendang nurani <a title="siswa" href="http://sawali.info/tag/siswa/">siswa</a> didik ketika berbenturan dengan kenyataan <a title="sosial" href="http://sawali.info/category/refleksi/sosial/">sosial</a> yang chaos dan “sakit”. Nilai-nilai <a title="kesantunan" href="http://sawali.info/tag/kesantunan/">kesantunan</a> dan keberadaban telah terkikis oleh meruyaknya perilaku-perilaku anomali <a title="sosial" href="http://sawali.info/category/refleksi/sosial/">sosial</a> yang berlangsung di tengah panggung <a title="kehidupan" href="http://sawali.info/tag/kehidupan/">kehidupan</a> masyarakat. Ketika <a title="guru" href="http://sawali.info/tag/guru/">guru</a> menanamkan nilai-nilai <a title="moral" href="http://sawali.info/tag/moral/">moral</a> dan <a title="religi" href="http://sawali.info/category/refleksi/religi/">religi</a>, para <a title="siswa" href="http://sawali.info/tag/siswa/">siswa</a> harus melihat kenyataan, betapa masyarakat kita demikian gampang kalap dan lebih mengedepankan emosi ketimbang logika dan hati nurani dalam menyelesaikan masalah. Nilai-nilai kearifan dan <a title="kesantunan" href="http://sawali.info/tag/kesantunan/">kesantunan</a> telah terbonsai menjadi perilaku yang sarat darah dan <a title="kekerasan" href="http://sawali.info/tag/kekerasan/">kekerasan</a>. Ketika <a title="guru" href="http://sawali.info/tag/guru/">guru</a> menanamkan nilai-nilai kejujuran, betapa anak-anak masa depan negeri ini harus menyaksikan banyaknya kaum elite yang tega melakukan pembohongan publik, manipulasi, atau <a title="korupsi" href="http://sawali.info/tag/korupsi/">korupsi</a>.</p>
<p style="text-align:justify;">Sampai kapan pun lingkaran <a title="kekerasan" href="http://sawali.info/tag/kekerasan/">kekerasan</a> di negeri ini tidak akan pernah bisa terputus apabila tidak didukung oleh atmosfer <a title="dunia pendidikan" href="http://sawali.info/tag/dunia-pendidikan/">dunia pendidikan</a> yang nyaman dan mencerahkan serta kultur <a title="sosial" href="http://sawali.info/category/refleksi/sosial/">sosial</a> yang kondusif. Oleh karena itu, sudah selayaknya fenomena <a title="kekerasan" href="http://sawali.info/tag/kekerasan/">kekerasan</a> ini mendapatkan perhatian serius dari semua komponen bangsa untuk menghentikannya. Para elite negeri, <a title="tokoh" href="http://sawali.info/tag/tokoh/">tokoh</a>-<a title="tokoh" href="http://sawali.info/tag/tokoh/">tokoh</a> masyarakat, pemuka agama, orang tua, atau pengelola <a title="media" href="http://sawali.info/tag/media/">media</a>, perlu bersinergi untuk bersama-sama membangun iklim <a title="kehidupan" href="http://sawali.info/tag/kehidupan/">kehidupan</a> yang nyaman dan mencerahkan di berbagai lapis dan lini <a title="kehidupan" href="http://sawali.info/tag/kehidupan/">kehidupan</a> masyarakat. Demikian juga dari ranah <a title="hukum" href="http://sawali.info/tag/hukum/">hukum</a>. Perlu diciptakan efek jera kepada para pelaku <a title="kekerasan" href="http://sawali.info/tag/kekerasan/">kekerasan</a> agar tidak terus-terusan mewabah dan memfosil dari generasi ke generasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain itu, idealnya lingkungan <a title="keluarga" href="http://sawali.info/tag/keluarga/">keluarga</a> juga harus memiliki filter yang kuat terhadap gencarnya arus perubahan yang tengah berlangsung. Dalam konteks demikian, peran orang tua menjadi amat penting dan vital dalam memberdayakan moralitas anak. Orang tualah yang menjadi referensi utama ketika anak-anak sedang tumbuh dan berkembang. Idealnya, orang tua mesti bisa menjadi “patron” teladan. Anak-anak sangat membutuhkan figur anutan <a title="moral" href="http://sawali.info/tag/moral/">moral</a> dari orang tuanya sendiri, yang tidak hanya pintar “berkhotbah”, tetapi juga mampu memberikan contoh konkret dalam bentuk perilaku, sikap, dan perbuatan.</p>
<p style="text-align:justify;">Masyarakat juga harus mampu menjalankan perannya sebagai kekuatan kontrol yang ikut mengawasi perilaku kaum remaja kita. “Deteksi” dini terhadap kemungkinan munculnya perilaku <a title="kekerasan" href="http://sawali.info/tag/kekerasan/">kekerasan</a> mutlak diperlukan. Potong secepatnya jalur agresivitas yang kemungkinan akan menjadi “jalan” bagi penganut “mazab” <a title="kekerasan" href="http://sawali.info/tag/kekerasan/">kekerasan</a> dalam menyalurkan naluri agresivitasnya. Ini artinya, dibutuhkan sinergi yang kuat antara <a title="dunia pendidikan" href="http://sawali.info/tag/dunia-pendidikan/">dunia pendidikan</a>, orang tua, <a title="tokoh" href="http://sawali.info/tag/tokoh/">tokoh</a>-<a title="tokoh" href="http://sawali.info/tag/tokoh/">tokoh</a> masyarakat, <a title="tokoh" href="http://sawali.info/tag/tokoh/">tokoh</a>-<a title="tokoh" href="http://sawali.info/tag/tokoh/">tokoh</a> agama, dan para pengambil kebijakan untuk bersama-sama peduli terhadap perilaku <a title="kekerasan" href="http://sawali.info/tag/kekerasan/">kekerasan</a> yang (nyaris) menjadi <a title="budaya" href="http://sawali.info/category/budaya/">budaya</a> baru di negeri ini.<br />
***</p>
<p style="text-align:justify;">Yang tidak kalah penting, perlu ada terobosan visioner yang bisa mengajak dan menginternalisasikan <a title="pendidikan karakter" href="http://sawali.info/tag/pendidikan-karakter/">pendidikan karakter</a> sesuai dengan tuntutan dan dinamika perkembangan psiko-<a title="sosial" href="http://sawali.info/category/refleksi/sosial/">sosial</a> <a title="siswa" href="http://sawali.info/tag/siswa/">siswa</a> didik. Karya <a title="sastra" href="http://sawali.info/category/sastra/">sastra</a>, agaknya bisa menjadi medium yang strategis untuk mewujudkan tujuan mulia itu. Melalui karya <a title="sastra" href="http://sawali.info/category/sastra/">sastra</a>, anak-anak sejak dini bisa melakukan olah rasa, olah batin, dan olah budi secara intens sehingga secara tidak langsung anak-anak memiliki perilaku dan kebiasaan positif melalui proses <a title="apresiasi" href="http://sawali.info/tag/apresiasi/">apresiasi</a> dan berkreasi melalui karya <a title="sastra" href="http://sawali.info/category/sastra/">sastra</a>.</p>
<p style="text-align:justify;">Melalui karya <a title="sastra" href="http://sawali.info/category/sastra/">sastra</a>, anak-anak akan mendapatkan pengalaman baru dan unik yang belum tentu bisa mereka dapatkan dalam <a title="kehidupan" href="http://sawali.info/tag/kehidupan/">kehidupan</a> nyata. Anak-anak bisa belajar dan bergaul secara langsung tentang berbagai karakter mulia, yang oleh Sang Pencetus Pendidikan Holistik Berbasis Karakter, Ratna Megawangi, dikenal sebagai 9 (sembilan) pilar, yakni (1) cinta Tuhan dan kebenaran; (2) tanggung jawab, kedisiplinan, dan kemandirian; (3) amanah; (4) hormat dan santun; (5) kasih sayang, kepedulian, dan kerjasama; (6) percaya diri kreatif, dan pantang menyerah, (7) keadilan dan kepemimpinan, (8) baik dan rendah hati; dan (9) <a title="toleransi" href="http://sawali.info/tag/toleransi/">toleransi</a> dan cinta damai.</p>
<p style="text-align:justify;">Karya <a title="sastra" href="http://sawali.info/category/sastra/">sastra</a>, meminjam istilah Amini (1996), mengandung nilai edukatif sebagai “panduan” dalam memasuki kompleksitas kejiwaan manusia, hubungan antarpribadi dan masyarakat, hingga alam semesta dan Tuhan. Seraya menghibur, <a title="sastra" href="http://sawali.info/category/sastra/">sastra</a> menawarkan <em>pathos, </em>nilai kearifan, kedalaman perenungan, dan menjadi semacam model-model perilaku yang dikandungnya. Hal senada juga dikemukakan oleh Hassan (1989) bahwa karya <a title="sastra" href="http://sawali.info/category/sastra/">sastra</a> merupakan gelanggang manifestasi berbagai kondisi manusiawi, sehingga mampu mementaskan representasi aneka ragam penghayatan manusia. Melalui karya <a title="sastra" href="http://sawali.info/category/sastra/">sastra</a>, manusia berpeluang melakukan objektivikasi penghayatannya secara mendalam; menjadi tempat diproyeksikannya pengalaman psikis manusia. Dengan demikian, pembaca akan terbimbing kepekaan nuraninya untuk mengukuhi nilai keluhuran dan kemuliaan budi dalam hidup, serta berusaha menghindari perilaku yang bisa menodai citra keharmonisan hidup di tengah komunitas dan paguyuban sosialnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Menghadapi era global yang serba kompetitif dan berdaya saing tinggi, institusi pendidikan diharapkan benar-benar mampu mengoptimalkan fungsinya sebagai pusat pendidikan nilai yang tidak hanya berbasiskan ranah kognitif-psikomotorik <em>an-sich, </em>tetapi juga ranah afektif yang berorientasi pada pembentukan watak dan <a title="kepribadian" href="http://sawali.info/tag/kepribadian/">kepribadian</a> <a title="siswa" href="http://sawali.info/tag/siswa/">siswa</a> didik. Dengan demikian, keluaran pendidikan tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga cerdas secara emosional, <a title="spiritual" href="http://sawali.info/tag/spiritual/">spiritual</a>, dan <a title="sosial" href="http://sawali.info/category/refleksi/sosial/">sosial</a>, sehingga kelak mampu bersaing di tengah-tengah arus global secara arif, matang, dan dewasa.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam konteks demikian, <a title="pengajaran" href="http://sawali.info/tag/pengajaran/">pengajaran</a> <a title="apresiasi" href="http://sawali.info/tag/apresiasi/">apresiasi</a> <a title="sastra" href="http://sawali.info/category/sastra/">sastra</a> memiliki kontribusi penting dalam upaya melahirkan generasi yang cerdas dan bermoral seperti yang diharapkan. Ini artinya, mau atau tidak, institusi pendidikan harus memosisikan diri menjadi “benteng” utama <a title="apresiasi" href="http://sawali.info/tag/apresiasi/">apresiasi</a> <a title="sastra" href="http://sawali.info/category/sastra/">sastra</a> melalui <a title="pengajaran" href="http://sawali.info/tag/pengajaran/">pengajaran</a> yang dikelola secara tepat, serius, dan optimal.</p>
<p style="text-align:justify;">Berkaitan dengan hal tersebut, setidaknya ada empat hal penting dan urgen untuk segera diagendakan. <em>Pertama, </em><em>membumikan event semacam Olimpiade <a title="Sastra" href="http://sawali.info/category/sastra/">Sastra</a> mulai jenjang pendidikan dasar hingga menengah. </em>Jika pembangunan <a title="karakter bangsa" href="http://sawali.info/tag/karakter-bangsa/">karakter bangsa</a> melalui event Olimpiade <a title="Sastra" href="http://sawali.info/category/sastra/">Sastra</a> dilakukan secara serius, total, dan intens, bukan tidak mungkin kelak anak-anak negeri ini akan memiliki <a title="kepribadian" href="http://sawali.info/tag/kepribadian/">kepribadian</a> yang jauh lebih berkarakter sehingga siap mengawal perjalanan dan dinamika peradaban bangsa melalui sentuhan karakter yang kuat dan nilai-nilai <a title="keluhuran budi" href="http://sawali.info/tag/keluhuran-budi/">keluhuran budi</a> yang mengagumkan.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Kedua, </em>pemberdayaan perpustakaan <a title="sekolah" href="http://sawali.info/tag/sekolah/">sekolah</a> sebagai jantung ilmu pengetahuan dengan memperbanyak <a title="buku" href="http://sawali.info/tag/buku/">buku</a>-<a title="buku" href="http://sawali.info/tag/buku/">buku</a> <a title="sastra" href="http://sawali.info/category/sastra/">sastra</a>. Fakta menunjukkan bahwa selama ini perpustakaan <a title="sekolah" href="http://sawali.info/tag/sekolah/">sekolah</a> tak lebih hanya sebuah rak tua yang merana dan tak terurus. Banyak <a title="siswa" href="http://sawali.info/tag/siswa/">siswa</a> yang tak tertarik untuk menyentuh <a title="buku" href="http://sawali.info/tag/buku/">buku</a>-<a title="buku" href="http://sawali.info/tag/buku/">buku</a> di perpustakaan lantaran langkanya <a title="buku" href="http://sawali.info/tag/buku/">buku</a>-<a title="buku" href="http://sawali.info/tag/buku/">buku</a> <a title="sastra" href="http://sawali.info/category/sastra/">sastra</a> yang bisa menjadi “magnet” <a title="budaya" href="http://sawali.info/category/budaya/">budaya</a> <a title="literasi" href="http://sawali.info/tag/literasi/">literasi</a> bagi <a title="siswa" href="http://sawali.info/tag/siswa/">siswa</a>. Yang lebih menyedihkan, <a title="buku" href="http://sawali.info/tag/buku/">buku</a>-<a title="buku" href="http://sawali.info/tag/buku/">buku</a> cerita yang mengangkat nilai-nilai <a title="kearifan lokal" href="http://sawali.info/tag/kearifan-lokal/">kearifan lokal</a>, semacam dongeng atau <a title="cerita rakyat" href="http://sawali.info/tag/cerita-rakyat/">cerita rakyat</a>, misalnya, tidak dikemas secara menarik, sehingga <a title="siswa" href="http://sawali.info/tag/siswa/">siswa</a> lebih tertarik untuk membaca <a title="buku" href="http://sawali.info/tag/buku/">buku</a>-<a title="buku" href="http://sawali.info/tag/buku/">buku</a> non-cerita. Imbasnya, sebagian besar <a title="siswa" href="http://sawali.info/tag/siswa/">siswa</a> (nyaris) tak lagi mengenal karya-karya <a title="budaya" href="http://sawali.info/category/budaya/">budaya</a> bangsa yang sarat dengan nilai keluhuran dan kemuliaan budi itu.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Ketiga, </em>memberdayakan <a title="guru" href="http://sawali.info/tag/guru/">guru</a> <a title="bahasa" href="http://sawali.info/category/bahasa/">bahasa</a> Indonesia. Karena juga dituntut untuk mampu mengajarkan <a title="sastra" href="http://sawali.info/category/sastra/">sastra</a> dengan baik, maka harus ada upaya serius untuk membekali mereka melalui berbagai forum semacam <a title="Temu Sastrawan" href="http://sawali.info/tag/temu-sastrawan/">Temu Sastrawan</a>, <a title="diskusi" href="http://sawali.info/tag/diskusi/">diskusi</a>, atau <a title="pelatihan" href="http://sawali.info/tag/pelatihan/">pelatihan</a> untuk memperkuat basis dan wawasan kesastraannya. Mereka juga perlu terus didorong agar lebih kreatif dalam menciptakan atmosfer <a title="pembelajaran" href="http://sawali.info/tag/pembelajaran/">pembelajaran</a> <a title="sastra" href="http://sawali.info/category/sastra/">sastra</a> yang lebih menarik dan memikat; tidak hanya sekadar menyuapi siswanya dengan setumpuk teori dan hafalan. Pendekatan apresiatif yang membuka ruang <a title="diskusi" href="http://sawali.info/tag/diskusi/">diskusi</a> dan bercurah pikir yang membuat <a title="siswa" href="http://sawali.info/tag/siswa/">siswa</a> gemar dan cinta <a title="sastra" href="http://sawali.info/category/sastra/">sastra</a> harus benar-benar dihadirkan.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Keempat, </em><em>p</em>rogram SMS (<a title="Sastrawan" href="http://sawali.info/tag/sastrawan/">Sastrawan</a> Masuk <a title="Sekolah" href="http://sawali.info/tag/sekolah/">Sekolah</a>) semacam <em><a title="Sastrawan" href="http://sawali.info/tag/sastrawan/">Sastrawan</a> Bicara <a title="Siswa" href="http://sawali.info/tag/siswa/">Siswa</a> Bertanya </em><em>(SBSB) </em>perlu kembali digelar di berbagai jenjang pendidikan sebagai upaya nyata untuk membantu <a title="guru" href="http://sawali.info/tag/guru/">guru</a> dalam mengurai kegelisahan dan beban profesi yang selama ini dinilai telah gagal dalam mengajarkan <a title="apresiasi" href="http://sawali.info/tag/apresiasi/">apresiasi</a> <a title="sastra" href="http://sawali.info/category/sastra/">sastra</a>. Selain untuk mendekatkan <a title="dunia pendidikan" href="http://sawali.info/tag/dunia-pendidikan/">dunia pendidikan</a> dengan wilayah <a title="kreativitas" href="http://sawali.info/tag/kreativitas/">kreativitas</a> sang <a title="sastrawan" href="http://sawali.info/tag/sastrawan/">sastrawan</a>, program SMS juga dimaksudkan untuk lebih mengakrabkan <a title="siswa" href="http://sawali.info/tag/siswa/">siswa</a> pada teks-teks <a title="sastra" href="http://sawali.info/category/sastra/">sastra</a> karya <a title="sastrawan" href="http://sawali.info/tag/sastrawan/">sastrawan</a> yang bersangkutan.</p>
<p style="text-align:justify;">Keempat agenda tersebut perlu didukung dengan komitmen tinggi para pengambil kebijakan, ditunjang dengan aksi nyata para pemangku kepentingan (<em>stake-holder</em>) untuk <a title="membumikan pendidikan karakter" href="http://sawali.info/2010/07/12/membumikan-pendidikan-karakter/">membumikan pendidikan karakter</a> berbasis <a title="sastra" href="http://sawali.info/category/sastra/">sastra</a> secara simultan dan berkelanjutan kepada <a title="siswa" href="http://sawali.info/tag/siswa/">siswa</a> didik. Akankah keempat agenda tersebut bisa secepatnya terwujud atau mesti menunggu <a title="pendidikan karakter" href="http://sawali.info/tag/pendidikan-karakter/">pendidikan karakter</a> di negeri ini benar-benar berada di titik nazir peradaban? Nah, kita tunggu saja! **</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ulfiarahmi.wordpress.com/1677/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ulfiarahmi.wordpress.com/1677/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ulfiarahmi.wordpress.com/1677/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ulfiarahmi.wordpress.com/1677/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ulfiarahmi.wordpress.com/1677/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ulfiarahmi.wordpress.com/1677/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ulfiarahmi.wordpress.com/1677/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ulfiarahmi.wordpress.com/1677/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ulfiarahmi.wordpress.com/1677/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ulfiarahmi.wordpress.com/1677/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ulfiarahmi.wordpress.com/1677/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ulfiarahmi.wordpress.com/1677/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ulfiarahmi.wordpress.com/1677/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ulfiarahmi.wordpress.com/1677/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ulfiarahmi.wordpress.com&amp;blog=3924715&amp;post=1677&amp;subd=ulfiarahmi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ulfiarahmi.wordpress.com/2011/10/07/titik-nazir-peradaban-pendidikan-karakter/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fff7199d47843e4afa6d127ae5f9b369?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ulfiarahmi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tsunami Potensial</title>
		<link>http://ulfiarahmi.wordpress.com/2011/10/06/tsunami-potensial/</link>
		<comments>http://ulfiarahmi.wordpress.com/2011/10/06/tsunami-potensial/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Oct 2011 06:32:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ulfiarahmi</dc:creator>
				<category><![CDATA[goresan]]></category>
		<category><![CDATA[Tsunami potensial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ulfiarahmi.wordpress.com/?p=1673</guid>
		<description><![CDATA[Tsunami pendidikan Tsunami kesehatan Tsunami umur Add 1. Biaya pendidikan akan semakin mahal. Biayanya mahal, namun setelah pendidikan diselesaikan belum tentu dapat pekerjaan. Dan yang lebih parah adalah pendapatan dari perkejaan belum menutupi pengeluaran selama pendidikan. Add 2. Biaya pengobatan  sangat mahal. Makin lama makin mahal. Makin tua perawatan makin banyak yang juga mengakibatkan makin [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ulfiarahmi.wordpress.com&amp;blog=3924715&amp;post=1673&amp;subd=ulfiarahmi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<ol style="text-align:justify;">
<li>Tsunami pendidikan</li>
<li>Tsunami kesehatan</li>
<li>Tsunami umur<span id="more-1673"></span></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Add 1. Biaya pendidikan akan semakin mahal. Biayanya mahal, namun setelah pendidikan diselesaikan belum tentu dapat pekerjaan. Dan yang lebih parah adalah pendapatan dari perkejaan belum menutupi pengeluaran selama pendidikan.</p>
<p style="text-align:justify;">Add 2. Biaya pengobatan  sangat mahal. Makin lama makin mahal. Makin tua perawatan makin banyak yang juga mengakibatkan makin tua makin mahal.</p>
<p style="text-align:justify;">Add 3. Makin tua makin banyak biaya yang dikeluarkan, sedangkan pendapatan makin berkurang malah tak memiliki pendapatan. Antara usia dan pendapatan berbanding terbalik. Bukannya makin tua makin meningkat pendapatan seseorang, tetapi makin berkurang setelah mencapai puncak di usia 30-45 tahun.</p>
<p style="text-align:justify;">Makanya siapkan tas siaga bencana untuk mengantisipasi tsunami potensial ini.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ulfiarahmi.wordpress.com/1673/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ulfiarahmi.wordpress.com/1673/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ulfiarahmi.wordpress.com/1673/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ulfiarahmi.wordpress.com/1673/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ulfiarahmi.wordpress.com/1673/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ulfiarahmi.wordpress.com/1673/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ulfiarahmi.wordpress.com/1673/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ulfiarahmi.wordpress.com/1673/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ulfiarahmi.wordpress.com/1673/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ulfiarahmi.wordpress.com/1673/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ulfiarahmi.wordpress.com/1673/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ulfiarahmi.wordpress.com/1673/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ulfiarahmi.wordpress.com/1673/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ulfiarahmi.wordpress.com/1673/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ulfiarahmi.wordpress.com&amp;blog=3924715&amp;post=1673&amp;subd=ulfiarahmi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ulfiarahmi.wordpress.com/2011/10/06/tsunami-potensial/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fff7199d47843e4afa6d127ae5f9b369?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ulfiarahmi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Curhat Colongan</title>
		<link>http://ulfiarahmi.wordpress.com/2011/09/08/curhat-colongan/</link>
		<comments>http://ulfiarahmi.wordpress.com/2011/09/08/curhat-colongan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Sep 2011 08:33:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ulfiarahmi</dc:creator>
				<category><![CDATA[curhat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ulfiarahmi.wordpress.com/?p=1668</guid>
		<description><![CDATA[Obat sakit kepala jenis apa yang harus aku telan hari ini. Jenis obat yang bisa menurunkan suhu kepala yang hampir mendekati 100 derajat celcius. Atau jenis obat yang bisa menghentikan hasratku untuk melempar apa yang aku genggam. Sakit kepala seperti yang aku alami barang kali sering dialami yang lain. Ini bagian dari yang punya organ. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ulfiarahmi.wordpress.com&amp;blog=3924715&amp;post=1668&amp;subd=ulfiarahmi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Obat sakit kepala jenis apa yang harus aku telan hari ini. Jenis obat yang bisa menurunkan suhu kepala yang hampir mendekati 100 derajat celcius. Atau jenis obat yang bisa menghentikan hasratku untuk melempar apa yang aku genggam.</p>
<p>Sakit kepala seperti yang aku alami barang kali sering dialami yang lain. Ini bagian dari yang punya organ. Tapi pertanyaannya, kenapa dengan cara tidak menentuh organ ini dapat menjadi sangat tersakiti.</p>
<p>Pun aku bingung dengan cara tidak menyentuh dapat menghantam kepala, yang juga berujung pada hati. Aku pikir ini bodoh. Bukan aku. Tapi bagian yang tidak menyentuh bagian yang tersakiti. Sengaja ataupun tidak. Ya, mereka aku pikir bodoh atau tidak sadar dengan kebodohannya.</p>
<p>Aku curhat di jejaring sosial. Katanya obat yang belum aku minum itu baygon. Baygon bukan barang asing bagiku. Pantas saja saran itu aku tolak, karena sebelumnya sudah dicoba. Dan hasilnya sama, bukan obat sakit kepala yang aku butuhkan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ulfiarahmi.wordpress.com/1668/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ulfiarahmi.wordpress.com/1668/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ulfiarahmi.wordpress.com/1668/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ulfiarahmi.wordpress.com/1668/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ulfiarahmi.wordpress.com/1668/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ulfiarahmi.wordpress.com/1668/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ulfiarahmi.wordpress.com/1668/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ulfiarahmi.wordpress.com/1668/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ulfiarahmi.wordpress.com/1668/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ulfiarahmi.wordpress.com/1668/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ulfiarahmi.wordpress.com/1668/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ulfiarahmi.wordpress.com/1668/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ulfiarahmi.wordpress.com/1668/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ulfiarahmi.wordpress.com/1668/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ulfiarahmi.wordpress.com&amp;blog=3924715&amp;post=1668&amp;subd=ulfiarahmi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ulfiarahmi.wordpress.com/2011/09/08/curhat-colongan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fff7199d47843e4afa6d127ae5f9b369?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ulfiarahmi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Permainan Gawang Berlari</title>
		<link>http://ulfiarahmi.wordpress.com/2011/08/26/permainan-gawang-berlari/</link>
		<comments>http://ulfiarahmi.wordpress.com/2011/08/26/permainan-gawang-berlari/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Aug 2011 05:44:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ulfiarahmi</dc:creator>
				<category><![CDATA[goresan]]></category>
		<category><![CDATA[permaian gawang berlari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ulfiarahmi.wordpress.com/?p=1663</guid>
		<description><![CDATA[Tema : Bumi Sub tema : Rotasi Jumlah anak : 2 &#8211; 5 anak Usia : 3 &#8211; 6 tahun Tempat : Di luar ruangan Alat : 1 kotak sepatu bekas, beberapa bola plastik kecil ringan warna-warni / beberapa hasil remasan kertas koran yg dibentuk bola serta diikat dgn karet gelang / tali (lebih banyak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ulfiarahmi.wordpress.com&amp;blog=3924715&amp;post=1663&amp;subd=ulfiarahmi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tema : Bumi<br />
Sub tema : Rotasi<br />
Jumlah anak : 2 &#8211; 5 anak<br />
Usia : 3 &#8211; 6 tahun<br />
Tempat : Di luar ruangan<br />
Alat : 1 kotak sepatu bekas, beberapa bola plastik kecil ringan warna-warni / beberapa hasil remasan kertas koran yg dibentuk bola serta diikat dgn karet gelang / tali (lebih banyak lebih baik)<span id="more-1663"></span></p>
<p>Pengembangan:<br />
Kognitif : bentuk, warna, jumlah, konsentrasi<br />
Motorik : berjalan, berlari, mengambil bola dgn 5 jari, melempar bola, koordinasi antar anggota tubuh<br />
Sosial-Emosional : antri, bergantian, berhati-hati<br />
Bahasa : tanya-jawab, bercakap-cakap</p>
<p>Cara bermain :<br />
1 anak (sebut saja namanya Togar) memegang kotak sepatu kosong &amp; meletakkannya diatas kepala, kemudian berlari sambil berusaha menghindar dari teman-temannya (agar kotak sepatunya selalu kosong).<br />
teman-temannya (Paijo, Made, Uni &amp; Cici), masing-masing memegang bola kemudian berusaha memasukkan bola ke dalam kotak sepatu dengan cara melemparkan bola ke arah kotak sepatu yang dipegang Togar sambil berlari.<br />
Bila bolanya tidak masuk ke kotak, ambil bola yg terjatuh tadi &amp; tetap berusaha memasukkan bola ke kotak sepatu bekas.</p>
<p>Aturan main :<br />
Dapat didiskusikan di awal permainan, apakah yg memegang kotak sepatu berikutnya menurut jumlah yg paling sedikit / yg paling banyak memasukkan bola ke kotak sepatu.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ulfiarahmi.wordpress.com/1663/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ulfiarahmi.wordpress.com/1663/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ulfiarahmi.wordpress.com/1663/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ulfiarahmi.wordpress.com/1663/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ulfiarahmi.wordpress.com/1663/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ulfiarahmi.wordpress.com/1663/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ulfiarahmi.wordpress.com/1663/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ulfiarahmi.wordpress.com/1663/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ulfiarahmi.wordpress.com/1663/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ulfiarahmi.wordpress.com/1663/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ulfiarahmi.wordpress.com/1663/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ulfiarahmi.wordpress.com/1663/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ulfiarahmi.wordpress.com/1663/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ulfiarahmi.wordpress.com/1663/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ulfiarahmi.wordpress.com&amp;blog=3924715&amp;post=1663&amp;subd=ulfiarahmi&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ulfiarahmi.wordpress.com/2011/08/26/permainan-gawang-berlari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fff7199d47843e4afa6d127ae5f9b369?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ulfiarahmi</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
