| S | S | R | K | J | S | M |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Okt | ||||||
| 1 | ||||||
| 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 |
| 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 |
| 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 |
| 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 |
| 30 | ||||||
g0rEsaN
TITIPAN CONTEKAN DARI NELSON
Oleh Ulfia Rahmi
Saat ini, banyak bentuk pencemaran lingkungan akibat kegiatan manusia yang mengancam kelestarian bumi dan sumber daya yang ada di dalamnya. Diantaranya adalah pemanasan global (pencemaran akibat kegiatan manusia yang menyebabkan suhu bumi bertambah). Pemanasan global terjadi karena meningkatnya suhu bumi akibat akumulasi gas-gas rumah berbasis karbon, seperti karbondioksida, metan, dan hidrofluorocarbon, yang mendorong terjadinya perubahan iklim. Kemudian mencairnya es di pegunungan salju abadi dan Himalaya, Andes, Jayawijaya, dan Patagonia, serta Kutub Utara dan Selatan adalah indikasi meningkatnya suhu bumi. Selain itu, perubahan suhu bumi juga terjadi di lautan yang mengakibatkan berubahnya siklus dan kejadian cuaca. Ini menjadi ancaman bagi kelangsungan jenis hewan yang dilindungi, ketersediaan air bersih, tingkat kesehatan, kondisi hutan dan sumber energi bersih.
Mestinya manusia harus sadar bahwa usia bumi kita ini sudah sangat tua, dan kondisinya juga sudah sangat memperihatinkan. Memang segala sesuatu yang ada di bumi ini, manusia yang merencanakan. Baik buruknya rencana tergantung manusia buminya. Maka dari itu sudah menjadi tanggung jawab manusia yang berpikir, untuk menjaga tempat yang selama ini telah mengijinkan manusia menempatinya. Seperti yang juga tertera dalam surat ar rum ayat 41 yang artinya “…………………..”. jelas bahwa sang pencipta menitipkan bumi dan isinya kepada manusia yang dimuliakan sebagai khalifah di muka bumi.
Ada pula pihak yang beranggapan bahwa bumi ini tidak pernah protes, itu sungguh kesalahan besar. Karena layaknya manusia kalau emosinya sudah meningkat panas, dirinya tidak bisa mengontrol emosinya, bisa mengamuk dan membuat risih masyarakat. Begitu juga dengan bumi, kalau bumi sudah marah, manusia tidak bisa lagi tenang untuk menempatinya seperti yang sudah-sudah.
Bentuk kemarahan bumi juga terlihat pada persediaan air bersih yang menjadi barang langka. Kelangkaan ini dipicu oleh tiga hal; pertumbuhan populasi, laju peningkatan aktivitas industri, dan pembangunan yang meminggirkan daya dukung ekologis serta limbah rumah tangga yang turut menjadi penyebab pencemaran air.
Meskipun hak terhadap air merupakan hak asasi setiap manusia seperti yang tercantum dalam UUD 1945 pasal 33 ayat (2) dan (3). Pasal tersebut mengandung makna tanggung jawab negara untuk menjamin dan menyelengarakan penyediaan air yang menjangkau setiap individu warga negara. Namun, hingga kini, hak atas air bagi setiap individu terancam dengan adanya agenda privatisasi dan komersialisasi air di Indonesia.
Saat ini masalah air di Indonesia merupakan permasalahan yang kronik dan pelik, mulai dari peristiwa banjir sampai kekeringan. Meskipun wilayah Indonesia, dua pertiganya terdiri dari air dan sisanya daratan, tidak membantu dalam mengatasi kelangkaan dan kesulitan mendapatkan air bersih dan layak pakai. Bahkan masalah ketersediaan air bersih menjadi permasalahan yang mulai muncul di banyak tempat dan semakin mendesak dari tahun ke tahun. Kecenderungan konsumsi air naik secara eksponensial, sedangkan ketersediaan air bersih cenderung melambat akibat kerusakan alam dan pencemaran, yaitu diperkirakan sebesar 15-35% per kapita per tahun. Dengan demikian di Indonesia, dengan jumlah penduduk yang mencapai lebih dari 200 juta, kebutuhan air bersih menjadi semakin mendesak.
Lain lagi dengan keadaan hutan yang makin didayagunakan. Hutan dibudidayakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Namun, pembudidayaannya belum menampakkan jalan perbaikan bagi kawasan hutan di negara kita. Pada tanggal 4 Februari 2008, Pemerintah Indonesia mengeluarkan Peraturan Pemerintah No 2 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berasal dari Penggunaan Kawasan Hutan untuk kepentingan Pembangunan di luar Kegiatan Kehutanan. Secara ringkas PP itu mengizinkan pembukaan hutan lindung dan hutan produksi untuk kegiatan tambang, dan infrastruktur telekomunikasi juga untuk jalan tol dengan tarif sewa seharga Rp 120 untuk hutan produksi dan Rp 300 per meter persegi per tahun. Dengan cara seperti ini hutan indonesia akan semakin berkurang meskipun ada perbaikan dan penambahan dari program hutan lindung. Program hutan lindung ini suatu saat nanti juga akan terhenti dengan alasan kekurangan dana. Padahal hutan alami yang dijadikan hutan produksi telah punah. Lalu bagaimana nantinya nasib hutan kita yang senatiasa memberi keuntungan bagi manusia, yang senantiasa kita kuras semua potemsi yang ada di dalamnya.
Untuk itu perlu undang-undang yang mengatur dan mengelola sumber daya alam. Agar hutan kita tetap terjaga kelestariannya. Karena dengan adanya hutan di negara kita telah memberikan perlindungan yang banyak untuk berbagai jenid hewan yang langka dan hewan yang dilindungi. Hutan juga sebagai tempat penyedia air bersih dan sumber energi bersih lainnya seperti udara.
Untuk itu, sebelum Indonesia melakukan pesta akbar Pemilu 2009. Di tengah isu global warning saat ini, semoga masih ada pejabat yang mau memerhatikan kondisi lingkungan di Indonesia seperti yang pernah dilakukan Gaylor Nelson. Seseorang yang berjuang demi mempertahankan keadaan bumi ini. Dia adalah Aktor utama dalam aksi nasional pada tanggal 22 April 1970 yang menentang kerusakan lingkungan, disebabkan buruknya saluran pembuangan, serta semakin punahnya kelestarian flora di negaranya, amerika serikat. Kira-kira 20 juta warga Amerika Serikat (AS) turun ke jalan memenuhi sejumlah taman dan auditorium untuk mengampanyekan kesehatan dan keberlangsungan lingkungan.
Gaylord Nelson adalah politikus dan senator pertama yang menyuarakan isu-isu lingkungan menjadi agenda Senat AS. Dengan aksi nasional tersebut, Senator Nelson dikenal sebagai pendiri haru bumi 35 tahun yang lalu. Pada musim panas 1969, Gaylord mengetahui bahwa aksi demonstrasi antiperang Vietnam telah menyebar secara luas melalui perguruan tinggi di seluruh negeri. Dari sana, ia mendapat ide untuk melakukan hal yang sama dalam kampanye lingkungannya. Ia memilih kalangan bawah dalam melakukan aksi protes terhadap kerusakan lingkungan. Dalam suatu konferensi di Seattle, September 1969, Gaylord mengumumkan akan mengadakan demonstrasi secara nasional pada musim semi 1970 atas nama lingkungan dan setiap orang diundang untuk berpartisipasi. Setelah itu, berbagai surat, telegram, dan telefon mengalir dari seluruh negeri.
Semoga dengan adanya sejarah Gaylord Nelson, pejabat sudah punya contekan yang baik untuk lebih menjaga lingkungan kita dan bumi tercinta. Karena kita hidup dalam sekoci kecil bernama bumi. Dimana didalamnya da dua golongan, yaitu golongan yang ingin mempertahankan dan golongan yang ingin menenggelamkan.
BERGUNJING
Oleh: ULFIA RAHMI
Membicarakan kesalahan dan kekurangan orang lain sering terdengar di telinga kita. Baik tersembunyi maupun terang-terangan, bahkan bergunjing telah sampai ke tingkat majelis. Dalam bergunjing seseorang tidak hanya mengungkapkan kesalahan dan kekurangan, tetapi sering kali menjelek-jelekkan orang lain. Bahkan kita mendengar perkataan yang menjelek-jelekkan tersebut menimbulkan perselisihan yang berkepanjangan.
Menurut kacamata islam bergunjing adalah suatu perbuatan yang menjelek-jelekkan orang lain. Membicarakan kesalahan dan kekurangan orang lain tanpa sepengetahuan orang yang dibicarakan. Menurut islam sifat bergunjing sama dengan memakan bangkai saudaranya sendiri. Seperti dalam firman allah yang mengatakan “janganlah sebagian kamu mengunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya”.
Sangat menjijikkan, namun gunjing masih dilakukan dan dibudayakan. Kebiasaan bergunjing lahir karena perasaan kurang puas terhadap orang yang bersangkutan atau merasa dikecewakan. Kurang puas karena merasa dicuekin, merasa tidak dihargai dan merasa iri terhadap prestasi yang dicapai oleh orang yang digunjingkan. Rasa kecewa itulah yang mendorong seseorang untuk bergunjing.
Bergunjing juga merupakan suatu bentuk cerminan diri seseorang yang memiliki kekerdilan jiwa. Karena tidak bisa mengekspresikan dirinya pada saat yang tepat. Jadi seseorang tersebut memenuhinya dibelakang majelis, yang menggambarkan ketiadaan wawasan yang dimilikinya.
Dapat kita lihat di sebuah lembaga atau organisasi yang menghimpun berbagai karakter manusia yang ada di dalamnya. Manusia yang berada dalam satu lembaga tertentu memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ada yang mampu menerima orang lain apa adanya, ada yang frustrasi dengan ketidak mampuannya memasukkan diri kepada orang lain. Ada yang dapat melakukan tanggungjawabnya dengan baik dan tepat sasaran. Namun ada pula yang lalai dalam tugasnya dan tidak disiplin.
Dalam sebuah lembaga atau organisasi perbedaan-perbedaan itulah yang menimbulkan pembicaraan yang tidak diinginkan. Menggunjingkan orang lain yang ditegur atasan, mengungjingkan orang lain yang melakukan kesalahan, mengunjingkan orang lain yang mengalami kekecewaan dalam hidupnya seperti perceraian yang terjadi dalam keluarganya, ayahnya dipenjara, anaknya terjaring polisi karena jadi tersangka sebagai bandar narkoba, istri atau suaminya selingkuh atau tidak pulang-pulang dan menggunjingkan orang lain yang mencari muka pada atasannya atau orang penting dalam lembaga tersebut.
Masalah gunjing ini tidak hanya tenar saat sekarang saja. Tetapi di jaman rasulullah juga sudah ada. Seperti kisah istri nabi ‘Aisyah r.a. dengan sahabatnya sendiri. Waktu itu sehabis perang dengan Bani Mushtaliq bulan Sya’ban 5 H. Perperangan ini diikuti oleh kaum munafik dan turut pula ‘Aisyah dengan Nabi. Dalam perjalanan mereka kembali dari peperangan, mereka berhenti pada suatu tempat. ‘Aisyah keluar dari sekedupnya untuk suatu keperluan, kemudian kembali.
Setelah sampai disekedupnya tiba-tiba ‘aisyah merasa kalungnya hilang, lalu dia pergi lagi mencarinya. Sementara ‘aisyah mencarinya kalungnya tersebut, rombongan berangkat dengan persangkaan bahwa ‘Aisyah masih ada dalam sekedup. Setelah ‘Aisyah mengetahui, sekedupnya sudah berangkat dia duduk di tempatnya dan mengharapkan sekedup itu akan kembali menjemputnya.
Sambil menunggu sekedup kembali menjemputnya, secara kebetulan lewat di tempat itu seorang sahabat Nabi, Shafwan ibnu Mu’aththal. Sahabat nabi menemukan ‘aisyah sedang tidur sendirian dan terkejut seraya mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, isteri Rasul!”. Mendengar ucapan tersebut ‘Aisyah terbangun.
Kemudian ‘aisyah menceritakan apa yang sedang terjadi, dan shafwan mengerti apa yang sedang dialami ‘aisyah. Lalu ‘aisyah dipersilahkan oleh Shafwan mengendarai untanya. Syafwan berjalan menuntun unta sampai mereka tiba di Madinah. Orang-orang yang melihat mereka membicarakannya menurut pendapat masing-masing. Mengunjingkan ‘aisyah dan syafwan berdasarkan apa yang mereka lihat. Mulailah timbul desas-desus dan menimbulkan fitnahan atas ‘Aisyah r.a., sehingga menimbulkan kegoncangan di kalangan kaum muslimin.
Berdasarkan contoh-contoh di atas, Penulis melihat kebiasaan menggunjing sudah menjadi makanan pokok dan sesuatu yang lumrah. Memang biasanya yang melakukan gunjing ini adalah kaum wanita, namun bukan berarti kaum laki-laki terbebas dari gunjingan dan menggunjing orang lain. Karena gunjing tidak mengenal siapa, dimana, kapan dan bagaimana situasi yang dihadapi.
Tidak ada yang dapat dipetik dari bergunjing. Dengan bergunjing kita hanya memperoleh kebohongan, iri hati, dendam, fitnah dan banyak kesalahan lainnya karena gunjing bukanlah suatu alat untuk menemukan solusi. Bahkan dengan bergunjing ada dampak negative yang akan timbul. Seperti terpukulnya mental seseorang karena sering digunjingkan dan bagi yang sering mengunjingkan orang lain, jiwanya tidak akan tenang, tidak akan damai dan belum merasa puas jika tidak mencari keburukan orang lain.
Jangan dikira dengan membicarakan kesalahan dan kekurangan orang lain, kita merasa puas dan merasa sakit hati kita terbalaskan. Tetapi dibalik itu sebenarnya kita terbelenggu kesalahan yang besar karena menimbulkan fitnah. Jika telah terlanjur mengunjingkan orang lain apalagi dalam jumlah besar, maka bersegeralah minta maaf pada orang yang bersangkutan.
PERTIMBANGAN UNTUK SEBUAH KEPUTUSAN
oleh Ulfia Rahmi
Sebuah hubungan terjalin karena ada rasa saling membutuhkan. Membutuhkan untuk memenuhi apa yang diinginkan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya dalam ekonomi, saling membutuhkan ini seperti seorang produsen dengan konsumen, ataupun antara keduanya dengan distributor.
Dalam pendidikan seperti siswa dan guru, mereka layaknya sebuah komponen yang saling membutuhkan. Sedangkan dalam kehidupan sosial, kebutuhan itu seperti rasa saling membutuhkan dengan orang lain. Sesuai prinsip sosial, bahwa manusia itu tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain.
Hubungan antar sesama timbul karena ada rasa ingin diperhatikan, rasa saling membutuhkan bantuan dan karena tuntutan dari lingkungan. Untuk menjalin sebuah hubungan, idealnya harus dapat saling memberi dan melengkapi. Saling melengkapi kekurang orang lain dengan kelebihan yang kita miliki. Begitu pula sebaliknya, sebaiknya.
Namun dalam kenyataan, tidak semua hubungan dapat memberi dan melengkapi sebagian yang lain. Terkadang justru merugikan dan menuju arah yang negative. Karena didukung oleh emosi yang negative, rasa individualistik yang tinggi dan kurang memiliki moral.
Dapat kita lihat di berbagai ruang dan waktu, berapa banyak hubungan yang berakhir karena hal sepele. Hal sepele yang dibesar-besarkan karena ketidak mampuan mengendalikan gejolak hati pada saat yang tepat. Seperti marah yang datang karena penasaran akan sebuah keputusan, sedih karena merasa dikecewakan dan frustrasi jika berada pada keadaan yang tidak diinginkan.
Pertimbangan untuk mengambil sebuah keputusan pun harus diaduk masak-masak dulu. Agar hasil dari pertimbangan tersebut tidak menghasilkan kekecewaan di masa yang akan datang. Termasuk mempertimbangkan manfaat dari hubungan yang akan dilanjutkan. Karena dalam menentukan sebuah pilihan itu sangatlah tidak mudah. Pilihan yang diputuskan dalam beberapa detik saja akan mampu membawa dampak besar untuk ke depannya. Jangan sampai waktu yang beberapa detik tersebut dijadikan kambing hitam bila suatu hari nanti terjadi penyesalan.
Dalam sebuah hubungan satu komponen saja sangat berperan, seperti sebuah system. Jika dalam satu system tersebut hilang satu komponen atau tidak lengkapnya komponen-komponen yang dibutuhkan maka system tersebut tidak akan berjalan sebagai mana mestinya. Walaupun bisa berjalan namun belum semaksimal yang idealnya.
Contohnya dapat dilihat pada sebuah system pernapasan kita. Jika paru-paru tidak ada maka pernapasan kita tidak akan lancar atau bahkan tidak bisa bernapas. Begitu pula dalam sebuah hubungan.
Untuk membangun sebuah hubungan yang baik dan bernilai positif sangat dibutuhkan komponen jujur, adil, bijaksana, pengertian, pemaaf, saling percaya, saling menghargai, saling membutuhkan dll. Jika dalam suatu hubungan tidak ada saling percaya atau tidak saling menghargai maka hubungan tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya. Hubungan yang ada tanpa saling menghargai hanya akan menjadi neraka bagi orang yang menjalaninya.
Dalam kehidupan ini, meskipun kita sudah mempertahan sebuah hubungan, baik dalam waktu dekat ataupun lama tidak seorang pun yang tahu sampai dimana dapat dipertahankan. Karena hubungan yang sudah ada akan berakhir kapan saja, dimana saja dan pada siapa saja. Maka dari itu berusahalah untuk selalu mempertahankan hubungan yang telah berjalan. Dengan sedikit garam kejujuran, bawang pujian, jahe penghargaan, santan belaian dan ditambah penyedap pengertian dapat menghasilkan sebuah sajian hubungan yang sedap dan sesuai selera.
TANGGUNG JAWAB
oleh Ulfia Rahmi
Jika siswa meraih suatu prestasi maka akan diberi hadiah yang dapat memotivasi dirinya untuk meningkatkan prestasi tersebut. Hadiah itu seperti, memberikan pujian, memberiksn A plus dan sebagainya. Tetapi jika mahasiswa meraih segenggam prestasi apakah yang patut diberikan untuk memotivasi diri mahasiswa?
Sebuah tanggung jawab dapat menjadi penghargaan bagi mahasiswa. Sesuai dengan namanya, “maha” maka tanggung jawab yang diberikan juga lebih besar. Mulai dari tanggung jawab pribadi hingga tanggungjawab terhadap masyarakat. Seperti yang tercantum dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Dalam hal ini jangan memandang tanggungjawab sebagai beban. Mahasiswa secara bertahap dapat melakukan hal sekecil apapun demi perubahan. Pastinya ke arah yang lebih baik dan bermanfaat. Sebagai agent of change mahasiswa diharapkan mengetahui keberadaan mereka di tengah-tengah masyarakat. Kepedulian mahasiswa akan menjadi denyut jantung bagi masyarakat jika mahasiswa memperlihatkan kepeduliannya.
Sayangnya kepedulian sebagian mahasiswa tergolong rendah dibanding ego mereka. Mereka akan memilih bergulat dengan keingingan hidup bebas dan santai dibanding menjalani kehidupan yang formal-formal. Seperti fenomena belakangan ini, di saat ribuan korban bencana alam membutuhkan belai kasih. Ternyata ada sekelompok mahasiswa lebih memilih merancang liburan. Di saat ada tawaran menjadi sukarelawan untuk membantu korban di tenda pengungsian, masih ada mahasiswa yang malah memilih berhura-hura dengan teman sejawat dan tidur-tiduran menikmati waktu senggangnya.
Melihat keadaan ini, terlihat jelas kepedulian mahasiswa sangat kurang. Mahasiswa sebagai pengontrol terhadap ketimpangan dikalangan masyarakat tidak lagi menjadi sesuatu yang sakral. Justru mahasiswa yang mulai melakukan penyimpangan terhadap tugas dan tanggungjawab mereka masing-masing.
Mahasiswa yang diharapkan dapat menyelesaikan masalah di kalangan masyarakat. Namun realita yang terjadi hanya sekedar bayang dan harapan semu masyarakat. Tidak jarang pula mahasiswa yang membuat rusuh masyarakat. Tindakan mereka yang tidak senonoh, amoral dan liar merusak citra mahasiswa dikalangan masyarakat. Padahal mayarakat menanti pemikiran-pemikiran dan menunggu sumbangan pergerakan dari mahasiswa untuk bangsanya sendiri.
Mahasiswa sebagai masyarakat intelektual tidak lagi duduk pada posisinya. Kedudukan yang hanya sebatas penghargaan. Lambat laun kedudukan tersebut akan mati, karena mahasiswa terlena dengan ketenaran, jabatan dan kemewahan. Dengan tawaran tersebut mahasiswa akan semakin dilema.
Bukan itu saja, dalam hal akademik pun mahasiswa memiliki tanggungjawab. Persemesternya ada 24 SKS yang akan menjadi tanggung jawab mahasiswa. Dalam jumlah SKS itulah mahasiswa mengembangkan dan menyerap ilmu pengetahuan sesuai bidang masing-masing. Dan mahasiswa diharapkan dapat memanfaatkan ilmu tersebut untuk kemajuan masyarakat. Sekaligus melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang ketiga.
Namun jika perhatikan, dalam hal akademikpun mahasiswa masih lengah. Mahasiswa lebih tertarik kepada bidang rekreasi, hiburan dan permainan. Alasan sebagian mereka mengikuti kuliah hanya menunggu ijazah dengan tujuan meraih cita-cita dan mencari uang. Tanpa mereka memikirkan apa yang dapat mereka lakukan untuk masyarakat.
Jika fenomena ini terus berkanjut, apakah kita baik mahassiwa maupun masyarakat umum memiliki contekan masa depan? Apakah yang akan terjadi pada bangsa kita, jika tonggak penopang tidak di fungsikan lagi.
Jika siswa bangga bila diberi penghargaan kenapa mahasiswa malah mengabaikan penghargaan tersebut. Rasanya tanggung jawab adalah hal terbaik diberikan pada mahasiswa agar mahassiwa dapat menjalani hidup mereka sesuai fungsi mereka. Ataukah mahassiwa sebagai kaum intelektual (mahasiswa_red) hanya sebagai pengisi buku surve di negara kita.
Antara Formalitas Dan Kesadaran Moral
oleh Ulfia Rahmi
Siapa saja pasti menginginkan hubungan yang baik dan memberi kontribusi salam kesehariannya. Baik hubungan dengan keluarga, teman, guru ataupun dosen, lingkungan sekitas dan hubungan dengan diri sendiri. Setiap hubungan itu pasti mempunyai tujuan tertentu. Seperti hubungan dengan keluarga biasanya mempunyai tujuan memberi dan menyalurkan kasih sayang kepada orang-orang terdekat. Hubungan dengan teman biasanya mempunyai tujuan dapat mencari tempat berbagi di luar keluarga, dan tempat menikmati hari-hari indah bersama orang-orang terdekat.
Begitu pula dengan hubungan dengan dosen atau pun guru yang jelas-jelas mempunyai tujuan. Pertama karena beliau orang yang mendidik kita, kedua berperan sebagai orang tua kedua, ketiga tujuan tertentu dalam hal akademik. Misalnya saja karena menunggu nilai yang akan diberikan guru atau pun dosen setelah seabrek materi yang telah ditranfernya dalam hal belajar mengajar. Lain lagi hubungan dengan diri sendiri, lebih memiliki harapan. Karena dengan memiliki hubungan baik dengan diri sendiri juga bisa memperbaiki dan mempertahankan hubungan dengan orang lain dan lingkungan. Karena segala sesuatunya bisa di mulai dari diri sendiri. Jika hubungan dengan diri sendiri baik, akan bisa mengontrol dan memotivasi agar hubungan dengan orang lain dan lingkungan juga baik.
Ya, untuk dapat menjadi lebih baik dalam hubungan dibutuhkan suatu resep yaitu adanya motivator. Motivator yang dapat menghubungkan bahwa diantara hubungan yang terjalin itu ada kesepakatan yang tersirat. Dapat memberi tanggung jawab, pengertian, rasa hormat dan simpati kepada orang lain. Dengan adanya rasa itu, akan menjalin hubungan yang lebih bermakna.
Seperti hubungan mahasiswa dan dosen. Antara hubungan ini terbagi menjadi dua hubungan. Pertama hubungan formalitas dan kedua yang benar-benar tumbuh dari hati nurani. Hubungan yang sekedar formalitas biasanya menjalani hubungan yang ada dengan mengemban rasa tanggung jawab dan tugas dari jabatan masing-masing. Antara dosen dan mahasiswa ada harapan untuk menjalin hubungan karena pemberian materi kuliah dilanjutkan dengan pemberian nilai. Besar kecilnya tugas dan tanggung jawab dapat mempengaruhi besar kecilnya motivasi baik bagi dosen maupun mahasiswa untuk terus melanjutkan hubungan.
Kedua, hubungan yang benar-benar dari tumbuh karena kesadaran moral untuk mendidik. Hubungan jenis kedua ini sangat berbeda dengan hubungan formalitas. Karena jenis kedua ini tumbuh dari dalam hati dan kesadaran moral seorang pendidik kepada anak didiknya. Hubungan yang terjalin pun tidak hanya karena nilai dari hasil ujian dan jumlah daftar yang tidak kurang dari 80% serta tidak hanya sekedar transfer ilmu. Lebih dari itu, antara dosen dan mahasiswa akan terdapat hubungan yang sangat erat.
Antara dua hubungan ini, hubungan karena kesadaran moral akan lebih bermakna dan tidak kaku dalam menjalaninya. Dengan hubungan yang seperti ini mahasiswa akan benar-benar menganggap hubungan yang terjalin dapat mereka nikmati. Dapat mengadu kepada dosen atau guru sebagai orang tua kedua bagi mereka jika ada permasalahan yang mereka hadapi. Dapat melihat dosen atau guru sebagai orang-orang yang dekat dengan mereka. Karena dalam usia perkembangan akan sangat dibutuhkan perhatian, tuntunan dan control dari orang-orang yang mereka hormati.
Berbeda dengan hubungan yang hanya karena formalitas. Mereka akan kaku dalam menjalaninya. Takut bertanya dan tidak mampu untuk dekat dengan “orang tua mereka sendiri”. Makanya dalam hubungan formalitas dosen terbiasa memperlakukan mahasiswa sebagai orang dewasa yang mengerti tugas dan tanggung jawab mereka masing-masing. Mahasiswa pun tidak akan dapat berkata apa-apa jika dosennya telah berpetuah, mahasiswa pun tidak akan bisa meninggalkan tanggung jawab yang diberikan dosennya meskipun tidak menyukai apa yang diperintahkan dosennya. Karena tugas dan kewajiban yang diberikan oleh dosen merupakan tanggungjawab yang harus ditunaikan.
Oleh karenanya dalam suatu hubungan sangat dibutuhkan kesadaran moral dan motivasi. Dalam keseharian kita, motivasi yang diberikan meski kecil akan dapat melahirkan semangat besar. Dan besar kecilnya motivasi akan mempengaruhi kuat lemahnya hubungan.
PITI BALI ROKOK
oleh Ulfia Rahmi
Seorang pemulung plastik gelas minuman berkemasan memanggil-manggil nama temanku. Pemulung itu tergopoh-gopoh mengejar sepeda motor yang kami kendarai. Karena mendengar panggilan tersebut, kami berhenti dan menunggunya. Ternyata pemulung tersebut memberikan sebuah dompet berwarna hijau muda. Itu dompet temanku, yang ketinggalan di meja makan pada sebuah pesta pernikahan yang baru saja kami tinggalkan.
Dengan raut wajah yang senang namun menyimpan keraguan, teman tadi menerima dompetnya. Sesegera mungkin dia memeriksa dompet tersebut untuk melihat isi dompet. Karena dompet itu sangat berharga. Meski isinya tidak terlalu banyak, namun di dalam dompet tersebut tersimpan surat-surat penting.
Setelah kami yakin isi dompet tersebut masih utuh, kami kembali menaiki sepeda motor. Tapi sebelumnya tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada pemulung yang telah menyelamatkan dompet teman saya. Namun apa yang terjadi, benar-benar diluar dugaan. Pemulung tersebut meminta uang “untuk membeli rokok”, katanya. Dengan rasa terima kasih kami pun memberikan uang, walau dalam jumlah yang sedikit. Sesaat kemudian kami pun hilang berlalu dari hadapan pemulung tersebut.
Hah, disinilah menurut saya uang kembeli berpengaruh dalam kehidupan manusia. Hanya demi uang dengan jumlah yang tidak terlalu banyak, manusia rela kehilangan tawaran pahala yang lebih menjamin. Pahala yang akan menambah berat timbangan di akhirat nanti.
Saat ini, uang bukan saja berfungsi sebagai patokan tolak ukur nilai suatu barang atau benda. Namun karena tuntutan kebutuhan, uang telah mampu menilai harga kebaikan seseorang. Walaupun mengistilahkan uang tersebut untuk pembeli rokok, tetap saja uang dapat menilai harga diri seseorang.
Hal ini tidak hanya dilakukan oleh pemulung sebagai orang rendah, namun juga terjadi kepada semua kalangan. Penyakit ini tidak dapat dinyatakan siapa yang menularkannya. Karena tidak dapat diketahui siapa pembawanya. Hanya terlihat nyata bahwa penyakit tersebut merabah kemana-mana. Seperti jamur di musim hujan.
Kita lihat saja contoh pada pegawai sebuah perusahaan. Mereka tidak akan pernah mengerjakan tugas yang bukan kewajiban mereka, apalagi pekerjaan itu di luar jam kerjanya. Faktor lain yang membuat mereka tidak mau bekerja karena uang lembur yang tidak di bayarkan atau disediakan. Di sini telah tampak, bagaimana uang telah berperan dalam kehidupan seseorang.
Di jaman sekarang memang sulit mencari orang yang ikhlas. Orang-orang yang bekerja atau menolong orang lain tanpa berharap sesuatu dari yang bersangkutan. Saat ini, orang akan mempertimbangkan situasi dan kondisi terlebih dahulu. Baru memikirkan pahala atau bagaimana untung bagi dirinya jika dia menolong orang tersebut.
Walaupun sulit untuk mencari orang-orang yang ikhlas, setidaknya kita harus mulai dari diri kita sendiri. Kita harus ikhlas pada diri sendiri, teman sebaya, orang yang lebih muda atau lebih tua, lingkungan dan paling utama harus ikhlas kepada sang khalik.
Untuk berbuat ikhlas tersebut tidaklah sesuatu yang sulit. Bahkan menjadi hal yang menyenangkan jika sudah terbiasa dengan keikhlasan. Setelah kita berbuat baik kepada orang lain, lingkungan dan sang khalik. Kita usahakan untuk tidak menyebut-nyebut atau memikirkan kembali apa yang telah kita lakukan. Untuk menghadapi masalah kehidupan juga dapat dilakukan hal yang sama. Harus sabar dan ikhlas. Karena sifat sabar dan ikhlas harus ada pada diri setiap orang. Agar uang untuk pembeli rokok tidak dikambinghitamkan lagi.
SHOPPING
oleh ULFIA RAHMI
Kebutuhan memang suatu yang harus dipenuhi. Terutama kebutuhan pokok, yang sering juga disebut dengan istilah kebutuhan primer. Jika seandainya kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak terpenuhi atau jauh dari standar yang ada, maka akan menimbulkan sesuatu yang dapat merubah jalur hidup. Karena merasa kebutuhannya belum terpenuhi.
Pemenuhan kebutuhan semakin hari semakin meningkat. Bukan saja dari segi harganya, melainkan juga tingkatan atau statusnya. Jika tingkatan kebutuhannya ada tiga; primer, sekunder dan lux, maka kebutuhan sekunder sekarang sudah menjadi kebutuhan primer. Yang lebih parahnya lagi, kebutuhan lux juga ikut-ikutan merayap menjadi kebutuhan primer. Contoh kongkrit saja dapat dilihat pada pendidikan dan kesehatan. Dulu kedua kebutuhan ini merupakan kebutuhan sekunder, namun karena perkembangan zaman pendidikan dan kesehatan naik satu peringkat. Menjadi kebutuhan kebutuhan primer.
Ini disebabkan karena keinginan manusia itu tidak terbatas. Manusia tidak pernah puas dengan apa yang telah ia raih. Ingin mendapatkan apa yang menjadi keinginannya, padahal apa yang menjadi keinginannya tersebut bukan hal yang sangat ia butuhkan. Dapat dikatakan apa yang dibutuhkan manusia adalah apa yang menjadi keinginannya, bukan pada apa yang dibutuhkannya (benar-benar dibutuhkannya).
Padahal untuk memenuhi keinginan-keinginan tersebut, alat untuk mencapainya sangat terbatas. Sebagian manusia tidak bisa memenuhi keinginannya karena faktor ekonomi dan sosial yang sedang dialami.
Faktor ekonomi dan faktor sosial tidak saja menjadi penghalang untuk mencapai keinginan. Bahkan kedua faktor ini dapat menjadi penunjang untuk lebih bisa mencapai suatu keinginan. Dalam kehidupan sosial misalnya, sebagian manusia itu takut kalah saing oleh tetangga, takut dipandang tidak mampu bahkan takut diremehkan. Lebih parahnya lagi, sebagian besar memenuhi keinginan yang bukan kebutuhan itu bertujuan agar dihargai oleh orang-orang sekitarnya. Terutama memiliki barang-barang bermerk dan bahan impor.
Faktor ekonomi dan faktor sosial laksana orang yang bersaudara, keduanya saling mendukung. Dan kedua faktor inilah yang yang mendorong seseorang untuk memenuhi keinginan yang bukan kebutuhan. Sehingga lahirlah budaya shopping.
Ya, shopping. Shopping merupakan sebuah kata yang tidak asing lagi di telinga kita. Bahkan, istilah shopping ini sering kita dengar dan mungkin tanpa disadari telah melakukan shopping.
Istilah shopping tidak saja beredar dikalangan ibu-ibu tetapi juga sudah dipakai di kalangan remaja baik siswa dan mahasiswa. Mereka menjadikan shopping menjadi sebuah kebutuhan. Apalagi setelah mengalami perkembangan zaman. Shopping ditunjang karena adanya mall atau stan-stan yang menawarkan produk-produk terbaru dan menarik yang membuat mata tidak berkedip. Produk-produk tersebut menggugah pikiran dan hati seorang yang komsumtif bahwa “barang itu harus dimiliki”, harus dimiliki sebelum didahului oleh orang lain.
Namun, jika produk tersebut telah dimiliki orang lain maka produk tersebut tidak dipakai lagi. Dibiarkan begitu saja atau dilempar ke gudang. Meski produk tersebut masih layak untuk dipakai dan masih baru. Seorang yang gila shopping akan membeli produk baru dengan model baru dan merk yang lebih ngetren.
Disinilah letak sisi negatif dari shopping. Mubazir, itulah kata yang tepat untuk istilah shopping. Karena membuang sesuatu yang masih bermanfaat dan membeli sesuatu yang tidak menjadi kebutuhan. Hanya sekedar memenuhi keinginan semata.
Shopping sering dilakukan oleh orang-orang yang memiliki sifat konsumtif. Tidak memikirkan terlebih dahulu bagaimana kegunaan produk yang akan dimilikinya tersebut.
Dan satu pertanyaan bagi kita, kenapa mesti shopping? Melakukan tidakan yang menimbulkan sesuatu yang mubazir. Padahal di tempat lain begitu banyak orang yang kurang beruntung bahkan tidak beruntung. Budaya shopping seharusnya tidak dilakukan oleh seorang manusia yang peduli pada sesamanya. Baiknya berhemat dan menabung buat masa depan. Lebih bermanfaat dan terhindar dari mubazir. Seperti kata pepatah yang sering kita tulis semasa kita masih siswa eS De; hemat pangkal kaya. Lagi pula sifat yang berlebih-lebihan itu tidak disukai oleh sang Khalik, karena sifat berlebih-lebihan itu merupak sifat setan. Jika kita ikut dengan sifat setan, berarti kita teman setan dong.
ETIKA?, LAIN DULU LAIN SEKARANG
Oleh Ulfia Rahmi
Dalam kehidupan sehari-hari, akhlak, etika, moral dan susila dijadikan prinsip atau aturan hidup manusia untuk menakar harkat dan martabat kemanusiaannya. Semakin rendah kualitas akhlak, etika, moral dan susila seseorang atau sekelompok orang, maka semakin rendah pula kualitas kemanusiaannya. Juga sebaliknya, semakin tinggi kualitas akhlak, etika, moral dan susila seseorang atau sekelompok orang, maka makin tinggi pula kualitas kemanusiaannya.
Untuk melakukan segala tindakan dalam kehidupanpun, akhlak, etika, moral dan susila diikat oleh seperangkat peraturan hidup yang sering kita dengar dengan sebutan norma. Berpedoman kepada norma, segala sesuatunya akan dikaitkan dengan baik atau buruknya tindakan manusia. Misalnya, jika melakukan perbuatan baik seperti menolong sesama, akibat dari perbuatan itu akan mendapat rasa puas dari dirinya dan mendapatkan nilai positif dari masyarakat sekitar. Begitu juga sebaliknya. Seperti seseorang yang merokok dihadapan tamu atau orang yang dihormati. Seharusnya itu tidak dilakukan. Jika tindakan tersebut tetap dilakukan maka akibat dari tidakan itu akan mendapat celaan karena dianggap tidak sopan walaupun merokok tidak dilarang. Atau seorang tamu yang hendak pulang, menurut tatakrama harus diantar sampai muka rumah. Bila tidak, maka akibat dari tidakannya itu juga akan mendapat celaan karena dianggap sombong dan tidak menghormati tamu.
Begitu penting bagi masyarakat kita untuk berakhlak, beretika, bermoral dan bersusila. Ini dianggap sebagai patokan hidup dan pedoman untuk hidup bermasyarakat. Dalam kehidupan bermasyrakat, harus tahu baik buruk akibat yang ditimbulkan dari tindakan sendiri atau sekelompok orang. Penilaian baik buruk tindakan tersebut, dilakukan oleh etika. Etike berperan sebagai komponen bathiniah yang bisa mempertimbangkan bagaimana caranya bersikap etis dan baik, yang biasanya pertimbangan itu timbul dari kesadaran sendiri. Seperti yang dijelaskan oleh Ahmad Amin, bahwa etika itu merupakan ilmu pengetahuan yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia, menyatakan tujuan yang harus dicapai oleh manusia dalam perbuatan mereka, dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang seharusnya diperbuat oleh manusia.
Penilaian baik buruknya itu juga tergantung penerimaan pada masyarakat bersangkutan. Jika suatu tindakan dianggap menyenangkan, mendatangkan rahmat, mendatangkan bahagia dan dihargai positif, berarti tindakan tersebut dianggap baik. Begitu juga sebaliknya, jika perbuatan dipandang sebagai tindakan negatif dan bertentangan dengan norma yang berlaku pada masyarakat tertentu maka tindakan itu dianggap sebagai tindakan yang buruk. Untuk itu, etika adalah urutan pertama dalam memahami dan mematuhi norma yang berlaku pada masyrakat tertentu. Karena etikalah yang berperan dalam menentukan sesuatu itu baik atau tidak.
Namun rasanya etika ini makin pudar bagi kehidupan sekarang. Karena etika untuk menilai suatu tindakan sesuai dengan norma yang berlaku semakin kurang. Antara waktu dan nilai etika itu berbanding terbalik. Semakin bertambah berjalannya waktu, nilai etika rasanya semakin kurang. Untuk kehidupan belakangan ini, etika semakin memudar. Contoh kecil lagi kita lihat pada tindakan ketika menelpon seseorang. Semenjak masyarakat diberikan layanan gratis nelpon. Umumnya masyarakat bergadang sampai pagi. Bergadang bukan karena nonton tv atau karena ada siaran langsung sepak bola atau karena ronda malam, tapi karena asyiknya nelpon lewat ponsel. Pemandangan ini dimulai sejak operator telpon seluler berlomba-lomba untuk memberikan layanan telpon gratis. Apalagi jika menelpon dilakukan antara jam 24.00 sampai 05.00.
Dengan layanan komunikasi gratis ini, tidak heran lagi hampir setiap malam banyak orang yang bergadang. Ini bukan saja menggangu pada kesehatan dan kualitas kerja untuk esok harinya namun tindakan seperti ini telah memudarkan etika yang telah ada. Adanya layanan telpon murah dan gratis ini, etika telah dikesampingkan. Jika dulu untuk menelpon seseorang lewat dari jam 21.00 saja, harus berpikir panjang seribu atau dua ribu kali karena dianggap tidak etis. Tapi, rasa tidak etis untuk menghubungi seseorang tengah malam kini sudah biasa dan makin menghilang.
Di sini, kembali ditanyakan etikanya. Semua juga tahu, etika dibutuhkan untuk mengetahui baik burunknya perbuatan. Tapi contoh singkat di atas, apa masih terlihat etika dari masyarakatnya itu sendiri. Kembali ditanyakan, nelpon tengah malam apakah suatu tindakan yang baik atau suatu tindakan yang etis? Karena konsep yang baik itu adalah segala tindakan yang dihargai positif. Telpon tengah malam dianggap sebagian orang sebagai tindakan baik karena masih bisa menerima tindakan itu sebagai tindakan yang positif. Sama-sama menyenangkan dan sama-sama menghargai tindakan itu meski sudah tidak etis lagi. Jika hal kecil dalam menelpon saja sudah mulai diabaikan, apakah untuk etika lainnya juga mulai akan dipudarkan?
Sekarang etika dilihat sebagai sesuatu yang relatif karena sudah bisa berubah-rubah. Jika sama-sama senang dan gembira, tindakan tertentu dianggap baik meski sebenarnya belum begitu. Etika dulu dipandang sebagai sesuatu yang absolut yang berarti tidak dapat ditawar-tawar. Kalau tindakan baik mendapat pujian dan tidakan yang salah mendapatkan sanksi. Tidak tergantung pada ada atau tidaknya seseorang di suatu tempat.
Etika rasanya perlu ditanamkan lagi pada masyarakat yang telah diikat norma. Karena dengan etika semua akan mendapatkan konsep yang sama mengenai penilaian tindakan baik atau tindakan buruk bagi semua masyarakat dalam kehidupannya sehari-hari atau dalam ruang dan waktu tertentu. Etika dapat mengembalikan tata sopan santun dan aturan yang disetujui masyarakat yang menjalaninya. Untung rugi beretika hanya akan dirasakan oleh masyarakat yang menjalani karena hidup dalam masyarakat yang baik dan menyenangkan. Yaitu dalam kehidupan masyarakat yang berakhlak, beretika, bermoral dan bersusila. Keempat kata ini bukan semata-mata dipengaruhi oleh faktor keturunan, tapi merupakan potensi positif yang dimiliki setiap orang. Untuk mengembangkan dan mengaktualisasikan potensi positif tersebut, diperlukan pendidikan, pembiasaan, dan keteladanan, serta dukungan lingkungan. Mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat secara terus menerus, berkesinambangan, dengan tingkat keajegan dan konsistensi yang tinggi.
PERCINTAAN ANTARA ANAK DAN TELEVISI
Oleh Ulfia Rahmi
Siaran televisi belakangan ini sering menyajikan tontonan yang memperlihatkan betapa hausnya Negara kita. Haus dari segi ekonomi, sosial budaya, pendidikan, keamanan dan pertahanan serta politik. Dari beribu tontonan itu ada tontonan mahasiswa yang melakukan demo karena beberapa kebijakan pemetintah yang kurang memikirkan keadaan rakyat, ada ibu-ibu rumah tangga yang melakukan unjuk rasa karena merasa tercekik dengan naiknya BBM. Dipertontonkan bagaimana mereka dengan segala kekuatannya memperlihatkan pada pemerintah kepedihan mereka sambil memukul periuk, panci, kuali dan alat dapur lainnya dengan sendok. Dari tontonan itu nyata terlihat betapa terpuruknya bangsa kita.
Beda lagi dengan sajian televisi yang mengintip para anggota dewan yang melakukan rapat dan sidang yang katanya demi kesejahteraan rakyat, tapi kenapa masih ada yang tidur? Dimana keputusan terbaik untuk rakyat bisa diambil jika penyangga rakyat bisa tertidur di tengah keterjepitan masyarakat. Apakah dengan tidur, para anggota dewan bisa memperoleh putusan terbaik melalui mimpi? Sungguh pemandangan yang tidak sesuai dengan wibawa seorang anggota dewan.
Sedangkan di program lain, televisi juga menyajikan sajian yang 80% sajiannya hanya cerita bohong. Seperti iklan-iklan dan tayangan sinetron yang disampaikan secara sesederhana mungkin namun dapat memikat hati.
Sajian-sajian yang memikat hati dan lainnya itu bisa dinikmati oleh siapa saja termasuk anak-anak yang masih diibaratkan kertas kosong. Dengan kepolosan dan keluguan anak-anak, orang tua dan orang dewasa bisa saja menggores kertas putih tersebut dengan hal-hal apa saja yang dinginkan. Akankan menginginkan kertas polos itu akan digores dengan tinta merah, hitam, putih dan warna lainnya atau akan menggarisnya dengan penggaris atau tanpa penggaris. Semua dapat diarahkan dan dikontrol oleh orang tua dan orang dewasa.
Namun sekarang karena kondisi dan keterlibatan orang tua dalam mencari kehidupan yang lebih layak, perhatian untuk anak sering terlupakan. Apa lagi dalam hal menonton televisi. Bagi orang dewasa yang sudah bisa menentukan mana yang pantut diterima dan yang kurang patut sudah bisa dibedakan. Bagi anak-anak itu tidak pernah dipertimbangkanya. Apakah tontonan tersebut ada nilai pengetahuannya atau tidak. Seperti halnya anak-anak yang menyukai makanan ringan. Mereka hanya berpikir makan ringan tersebut itu enak dan menyenangkan. Tapi mereka tidak pernah berpikir gizi, vitamin dan protein apa yang terdapat dalam makanan ringan tersebut. Asal mereka suka dan membuat mereka senang, mereka akan tetap melakukannya.
Begitu pula minat mereka dengan televisi. Mereka menganggap televisi lebih menyenangkan dari pada belajar dan mendengarkan nasehat orang tua. Mereka merasa terlayani dengan adanya televisi. Dengan adanya televisi anak-anak akan melupakan kesulitannya, dengan adanya televisi mereka gunakan untuk mengisi waktu, mempelajari sesuatu, memberikan ransangan, bersantai, mencari persahabatan dan sekedar kebiasaan.
Sekedar kebiasaan yang menjadi darah daging bagi anak-anak bisa saja untuk mempelajari sesuatu. Namun dengan sajian televisi yang mulai kurang mendidik telah merempas waktu dan persepsi anak-anak dalam berpikir dan berinteraksi dengan orang lain. Apa lagi sinetron yang disajikan antara jam 7 sampai jam 10 malam mampu mencuri waktu belajar anak-anak dan berkumpul dengan keluarga. Dengan sajian televisi anak akan melihat bagaimana penggunakan bahasa seperti penambahan kosa kata yang dimiliki anak di kalangan artis dan aktor televisi juga berbicara dengan lawan bicara dan diikuti bahasa tubuh.
Dengan itu semua anak bisa belajar. Namun, apa yang akan diambil dan diserap oleh mereka dengan sajian kerisihan masyarakat. Apa yang akan mereka serap dari makanan yang mereka makan, tidak ada kandungan gizi bagi mereka. Enaknya mereka rasakan sekejap saat mengnikmatinya, namun akibat dari makanan ringan tersebut juga tidak bisa ditangani dengan sepele.
Dengan siswa menonton sajian orang dewasa yang selalu memaki dan melakukan hal yang kurang wajar di televisi, mereka dengan mudah akan meniru adegan tersebut. Dengan televisi anak juga bisa belajar menyatakan cinta pada temannya. Boleh kita ibaratkan televisi itu lakasana universitas terbuka. Seperti tayangan beberapa program televisi yang menyingkap kasus pembunuhan, pemerkosaan, perampokan dan kasus kriminal lainnya. Dalam tayangannya diperlihatkan motif dan taktik bagaimana pelaku melakukan aksinya. Dengan menampilkan bagaimana aksi pelaku dan cara apa yang digunakannya sebenarnya memberi pelajaran dan melihatkan bagaimana caranya untuk melakukan kejahatan.
Dengan pengetahuan yang baru diketahui anak, akan memotivasi mengikuti apa yang telah mereka lihat di televisi. Dengan informasi yang baru ini, membuat anak gembira dan merasa menikmati, memang akan membuat mereka menyukainya. Mereka akan berusaha menjadi seperti aktor yang mereka tonton dan mereka idolakan. Ingin diakui dikalangan teman-teman dan dianggap seperti bintang film tertentu.
Akan lebih buruk akibatnya jika seorang anak menonton adegan itu tanpa dampingan orang tua. Mereka sebagai makhluk yang unik dan peniru akan menganggap tontonan itu bisa ditiru. Bisa saja dengan motif rasa penasaran anak. Makanya untuk menonton televisi sebenarnya anak perlu ditemani bukan malah memberikan anak televisi di kamar pribadinya.
Untuk menghindari dampak negative dari televisi bukan dengan cara membuang dan menjauhkan anak dari televis. Hanya saja perlu pengontrolan dari orang tua sebagai orang yang paling dekat dengan anak. Sebagaimana kata Kahlil Gibran kalau orang tua itu adalah busur dari anak panah kehidupan putra-putrinya untuk melesat ke masa depan. Karena anak-anak juga mendambakan kehidupannya sendiri.
Televisi memiliki banyak manfaat. Namun, jika anak menonton televisi tanpa ditemani orang tua, manfaat televisi akan lebih banyak jika televisi dimatikan. Seperti orang-orang amerika yang mematikan dan melarang anak-anak mereka menonton televisi. Dalam hal ini sebenarnya peran orang tua dituntut lebih besar. Orang tua merupakan guru pertama dan utama bagi anak. Pada orang tua, anak pertama kali belajar dan menaruh kepercayaan. Kesempatan ini harus digunakan dengan sebaik-baiknya dan sebanyak-banyakknya untuk menanamkan segala hal tentang dasar-dasar kebaikan, sebelum anak terpengaruh lingkungan, teman, orang lain atau dari televisi. Orang tualah yang harus memerankan pada anak langka-langkah apa yang harus diambil oleh anak, memberikan sikap yang baik, termasuk pilihan acara televisi yang “bergizi”.
CM
oleh Ulfia Rahmi
Awalnya bermula dari sms nyasar, katanya. Sebuah pesan singkat yang mengajak untuk sekedar kenalan dan teman obrolan doang. Merasa alasannya dapat diterima, sms tersebut terus berlanjut dan berlangsung lama. Dengan bermodalkan persiapan pulsa setiap harinya, terjadilah komunikasi yang lancar dan akrab. Semakin hari, pembahasan semakin dalam dan memperlihatkan saling keterbukaan. Sehingga dari waktu ke waktu menjadi sebuah kebutuhan untuk ber_sms_an. Kehilangan sms sekali saja dalam satu hari, merasa ada yang kurang dalam hari-harinya.
Hadirnya rasa kebutuhan akan perhatian yang ditawarkan oleh lawan bicara semu. Menciptakan hubungan yang dekat; pacaran lewat sms. Walaupun belum pernah ketemu dan belum mengetahui bagaimana karekter masing-masingnya. Mereka tetap jadian karena sudah merasa saling membutuhkan. Setiap hari yang dijalani, penuh dengan perhatian orang yang belum di kenal dan tidak tahu dimana rimbanya.
Anehnya, hubungan maya ini berlangsung lama. Berdiri di atas bangunan yang seharusnya ditopang oleh empat tiang, namun tetap kokoh meski hanya dengan tiga tiang saja. Dua tahun berjalan mulus karena rasa membutuhkan. Disatu sisi mendapat teman curhat sedangkan dilain sisi mendapatkan perhatian. Layaknya perhatian yang memang dibutuhkan oleh seseorang yang lagi jatuh cinta. Namun pada tahun berikutnya, hubungan ini sudah mulai pudar dan akhirnya hilang.
Nomer pacar semunya tidak aktif lagi, katanya. Membuatnya kehilangan semangat karena tidak ada yang memberi motivasi dan perhatian, terlebih lagi kehilangan teman curhat. Mau dicari kemana, juga tidak tahu. Karena sewaktu komunikasi mereka masih lancar, pacarnya hanya memberi nama kota saja. Tidak memberi alamat lengkap.
Dengan kejadian ini, dia mencoba untuk menerima apa yang sedang dia alami. Menahan gejolak hati, karena penasaran terhadap pacar semunya. Belajar untuk tidak memdapat sms kasih sayang, mulai dari hilangnya pacar semu sampai dia terbiasa dengan kesepiaannya.
Kasihan ya…. Kehilangan orang yang sangat kita butuhkan. Namun, menurut saya cinta semu hanya menjadi cinta imajinatif. Yaitu mencintai seseorang dalam khayalan karena tidak pernah ketemu. Selama berkomunikasi lancar, hanya berkhayal bagaimana si dia dan bagaimana hubungan tersebut kedepannya.
Memang dengan pacaran maya lewat sms, kita bisa mendapatkan perhatian dan keromantisan. Namun pacaran model ini ini tidaklah baik. Pertama, kita tidak tahu bagaimana orang yang kita cintai tersebut. Untuk ketemuan saja belum pernah, apalagi untuk mengetahui sifat aslinya. Apakah dia orang baik-baik atau tidak. Seperti yang terjadi pada cerita di atas tadi, Kalau memang dia orang baik-baik dan tidak berniat mempermainkan kenapa nomernya tidak diaktifkan lagi. Oke lah jika hp nya hilang, jika hp hilang tentu bisa ngasih tahu kepada pasangannya apa yang sedang dia alami. Dengan sms pake pulsa teman atau menelpon dari telpon rumah. Secara logika saja, si_pacar maya tadi hanya menghindar dan lari agar hubungan yang tidak jelas tersebut tidak berlangsung lebih lama lagi. Karena merasa tidak yakin kalau hubungan maya tersebut tidak akan menjadi kenyataan.
Kedua, melambungkan khayalan. Karena di setiap smsnya terdapat cita-cita dan harapan bagaimana nantinya kalau mereka telah ketemu. Bagaimana hubungan mereka ke depannya. Setiap harinya terbangun harapan saling berhadapan untuk melepas rasa rindu. Terutama melepas rasa penasaran terhadap orang yang kita cintai tersebut.
Cinta maya bukanlah model cinta yang baru, namun orang masih terperangkap kedalamnya. Untuk menjalin hubungan dengan orang lain terlebih dahulu mengenal siapa orangnya dan asal usulnya. Apakah dia orang yang pantas untuk dicintai atau tidak. Karena dengan cinta maya bisa saja mengundang kerugian yang lebih besar yaitu penipuan.
Jadi, karena cinta itu memiliki makna. Maka sebelum menjalin cinta harus memaknai orangnya terlebih dahulu.
JOMBLO BERKELAS
oleh Ulfia Rahmi
Kesepian memang bisa melanda siapa saja dan kapan saja. Karena kesepian milik semua orang yang pernah merasakan kebahagiaan. Kesepian akan dirasakan oleh orang-orang yang merasa sendiri dan merasa tidak diperhatikan. Karena setiap hari-hari yang kita lalui tidak mungkin ditemani oleh orang-orang yang kita sayangi dan kita cintai. Urusan masing-masing dan karena perbedaan aktifitas, yang menyebabkan kita terpisah dengan orang-orang yang kita sayangi. Alasan menggapai masa depan dapat membuat kita paham dan menerima keadaan kenapa kita terpisah.
Dengan demikian, wajar saja jika seseorang merasa sepi dan sendiri. Karena keinginan untuk selalu bersama tidak terpenuhi. Kesepian juga akan menyerang meski berada pada tempat yang ramai dan penuh aktifitas. Dan pada waktu-waktu yang tidak kita inginkan. Berhubungan kesepian juga tidak mengenal status apakah seorang yang sudah punya pasangan ataupun jomblowan/jomblowati. Makanya kita juga harus memerangi kesepian dengan cara kita masing-masing.
Untuk yang sudah memiliki pacar bisa saja menyibukkan diri dengan pasangan masing-masing. Namun bagi jomblowan dan jomblowati, mereka juga bisa melakukan hal-hal yang bisa menghilangkan kesepian di hati mereka. Bahkan jomblowan dan jomblowati dapat melakukan hal-hal yang lebih bermanfaat dan mendatangkan hasil yang nyata. Misalnya dengan menyibukkan diri di salah satu atau lebih sebuah organisasi. Berkreatifitas dan aktif dalam berbagai kegiatan.
Jomblowan dan jomblowati bisa melakukan apa saja yang mereka mau selagi mereka mampu untuk melakukannya. Tidak dibatasi oleh aturan dan waktu untuk pasangan. Dengan kebebasan seperti ini jomblowan dan jomblowati akan bebas terbang kemana mereka mau selagi sayapnya mampu untuk dikepakkan. Dengan kebebasan (kebebasan dalam nilai yang positif) yang dimikili jomblowan dan jomblowati dapat berkreasi dan berekpresi merajut cita-cita yang mulia.
Jika jomlowan atau jomblowati adalah seorang mahasiswa maka dia bisa mengembangkan kreatifasnya dalam kegiatan yang ada di lingkungannya. Begitu pula seorang siswa, dia juga bisa beraktifitas pada organisasi yang ada di sekolahnya.
Bagi jomblowan dan jomblowati yang mengisi waktunya untuk melakukan hal-hal yang positif dengan beraktifitas dan berkreasi, mereka di kelompokkan kepada tingkat jomblo berkelas. Meski dipandang tidak laku dalam hal pacaran, jomblowan dan jomblowati akan mengahasilkan pengajaran berharga bagi diri mereka. Karena mereka dapat mengisi setiap waktu yang mereka lalui dengan pengalaman yang tidak ditemui oleh orang-orang yang hanya membunuh waktu mereka dengan kegiatan yang tidak penting.
Status jomblo bukan saja menjadi ketetapan. Terkadang jomblo menjadi sebuah pilihan. Seseorang memutuskan untuk jomblo karena tidak mau membuang waktu dengan sia-sia. Ingin memanfaatkan waktunya untuk menggapai masa depan. Maka dari itu mereka memutuskan untuk jomblo. Namun bagi sebagian yang lain, jomblo menjadi sesuatu yang sangat tidak menyenangkan. Karena sudah terbiasa dengan pasanganya. Walau bagaimanapun baik disengaja ataupun tidak, jomblo bukan suatu status yang salah ataupun disalahkan. Kewajiban kita baik yang sudah memiliki pasangam atau belum adalah untuk memanfaatakan waktu yang masih tersisa.
Jadi bagi jomblowan dan jomblowati tidak usah berkecil hati karena belum memiliki pasangan. Jomblowan dan jomblowati tidak akan selamanya sendirian, karena masih banyak teman-teman seorganisasi yang akan menggantikan kesepian dengan kecerian. Bagi jomblowan dan jomblowati, berkreasilah selama masih memiliki waktu. Karena kita tidak tahu sampai pada jarum jam berapa nyawa kita akan terhenti.
SELINGKUH
oleh Ulfia Rahmi
Seorang teman melacur (melalukan curhat). Dia bercerita kalau dia sangat sulit dalam menemukan muara cintanya. Semenjak dia dianuhgerahkan mimpi basah oleh allah, semenjak itulah dia mengembara dalam hal cinta. Dia telah mencoba menggandengi beberapa cewek, tetapi tidak ada yang dapat bertahan lama. Semua hubungannya dengan teman kencannya hanya sebatas umur jagung.
Kegagalannya dalam mencari tambatan hatinya tidak pernah membuatnya putus asa. Dari hari ke hari dia terus berusaha, meski dia telah memiliki pacar. Katanya untuk cadangan jika salah satu dari teman kencan meninggalkannya.
Masa pencarian dilakukan dengan mencari banyak relasi. Dimulai dari berkenalan dengan senior cewek dan junior cewek di jurusannya sampai berkunjung kekosan teman perempuannya. Dengan alasan membicarakan tugas.
Memang usaha ini tidak sia-sia, dia memiliki banyak kenalan terutama kaum hawa. Dan tidak sedikit pula, cewek-cewek tersebut banyak yang suka padanya. Sampai-sampai ada yang lebih berani menyatakan perasaannya terlebih dahulu. Kalau cewek tersebut suka padanya.
Padahal, di kota lain dia telah memiliki pacar. Karena alasan tidak pernah puas dan tidak merasa nyaman dengan cewek yang sedang digandenginya makanya dia mencari jalan untuk selingkuh.
Ya, selingkuh. Inilah perkiraan saya, perselingkuhan dianggap untuk selingan. Dikala hubungan dengan kekasih sedang renggang, dikala hubungan tersebut sangat membosankan, dan kala ada kesempatan, hati dengan mudahnya terjatuh kepada lain pihak. Meski tidak melangkah terlalu jauh, namun dapat membuat hubungan kita menjadi tambah runyam.
Terkadang ada istilahnya teman dekat—teman curhat—TTM (teman tapi mengharap), yang frekuensi ketemuannya lebih banyak dibanding dengan kekasih hati. Lebih enjoy bersamanya dan lebih terbuka. Namun, banyak dari mereka yang menjadikan teman dekat—teman curhat—TTM itu untuk menjadi pacarnya. Dan meninggalkan pacar lamanya dengan alasan tidak cocok lagi.
Jika kita perhatikan, selingkuh telah menjadi suatu yang biasa. Dikehidupan yang serba modern ini, orang-orang ingin mewujudkan keinginannya secara instan. Bahkan kebahagiaan dalam cinta juga dilakukan dengan cara yang instan. Yaitu selingkuh.
Selingkuh tidak hanya dilakukan oleh kaum adam, tetapi kaum hawa juga melakukannya. Katanya jaman sekarang adalah jaman emnasipasi wanita. Jika cowok dapat melakukannya, yang cewek pun juga tidak mau diam. Kata kaum hawa, “jika cowok bisa selingkuh, kami cewek juga mampu melakukannya!!!!”
Selingkuh adalah suatu kesalahan. Hanya karena bosan dengan hubungan dengan pacar, hanya karena kurang lancarnya komunikasi dan karena berada dalam jarak yang jauh, kita selingkuh. Selingkuh bukanlah jalan terbaik untuk meraih kebahagian. Karena tidak selamanya selingkuh itu indah. Oke_sekarang selingkuh dari kekasih konsekuensinya hanya putus dari pacar. Dan jika seandainya setelah menikah masih ketagihan, dan selingkuh dari pasangan (istri maupun suami) maka akibatnya hubungan keluarga menjadi rusak. Bahkan perselingkuhan dapat mengakibatkan perceraian. Karena dengan hadirnya kawan selingkuhan akan membuat kita semakin tidak serius dalam menjalani hubungan dengan pasangan kita.
Dalam menjalani hubungan (kasih), butuh kerja sama dan saling percaya. Tidak memvonis pasangan dengan tuduhan yang belum tentu keberadaanya. Dan mencari teknik agar tidak bosan dengan pasangan. Saling mengingatkan dan mendukung.
SELINGKUH
oleh Ulfia Rahmi
Seorang teman melacur (melalukan curhat). Dia bercerita kalau dia sangat sulit dalam menemukan muara cintanya. Semenjak dia dianuhgerahkan mimpi basah oleh allah, semenjak itulah dia mengembara dalam hal cinta. Dia telah mencoba menggandengi beberapa cewek, tetapi tidak ada yang dapat bertahan lama. Semua hubungannya dengan teman kencannya hanya sebatas umur jagung.
Kegagalannya dalam mencari tambatan hatinya tidak pernah membuatnya putus asa. Dari hari ke hari dia terus berusaha, meski dia telah memiliki pacar. Katanya untuk cadangan jika salah satu dari teman kencan meninggalkannya.
Masa pencarian dilakukan dengan mencari banyak relasi. Dimulai dari berkenalan dengan senior cewek dan junior cewek di jurusannya sampai berkunjung kekosan teman perempuannya. Dengan alasan membicarakan tugas.
Memang usaha ini tidak sia-sia, dia memiliki banyak kenalan terutama kaum hawa. Dan tidak sedikit pula, cewek-cewek tersebut banyak yang suka padanya. Sampai-sampai ada yang lebih berani menyatakan perasaannya terlebih dahulu. Kalau cewek tersebut suka padanya.
Padahal, di kota lain dia telah memiliki pacar. Karena alasan tidak pernah puas dan tidak merasa nyaman dengan cewek yang sedang digandenginya makanya dia mencari jalan untuk selingkuh.
Ya, selingkuh. Inilah perkiraan saya, perselingkuhan dianggap untuk selingan. Dikala hubungan dengan kekasih sedang renggang, dikala hubungan tersebut sangat membosankan, dan kala ada kesempatan, hati dengan mudahnya terjatuh kepada lain pihak. Meski tidak melangkah terlalu jauh, namun dapat membuat hubungan kita menjadi tambah runyam.
Terkadang ada istilahnya teman dekat—teman curhat—TTM (teman tapi mengharap), yang frekuensi ketemuannya lebih banyak dibanding dengan kekasih hati. Lebih enjoy bersamanya dan lebih terbuka. Namun, banyak dari mereka yang menjadikan teman dekat—teman curhat—TTM itu untuk menjadi pacarnya. Dan meninggalkan pacar lamanya dengan alasan tidak cocok lagi.
Jika kita perhatikan, selingkuh telah menjadi suatu yang biasa. Dikehidupan yang serba modern ini, orang-orang ingin mewujudkan keinginannya secara instan. Bahkan kebahagiaan dalam cinta juga dilakukan dengan cara yang instan. Yaitu selingkuh.
Selingkuh tidak hanya dilakukan oleh kaum adam, tetapi kaum hawa juga melakukannya. Katanya jaman sekarang adalah jaman emnasipasi wanita. Jika cowok dapat melakukannya, yang cewek pun juga tidak mau diam. Kata kaum hawa, “jika cowok bisa selingkuh, kami cewek juga mampu melakukannya!!!!”
Selingkuh adalah suatu kesalahan. Hanya karena bosan dengan hubungan dengan pacar, hanya karena kurang lancarnya komunikasi dan karena berada dalam jarak yang jauh, kita selingkuh. Selingkuh bukanlah jalan terbaik untuk meraih kebahagian. Karena tidak selamanya selingkuh itu indah. Oke_sekarang selingkuh dari kekasih konsekuensinya hanya putus dari pacar. Dan jika seandainya setelah menikah masih ketagihan, dan selingkuh dari pasangan (istri maupun suami) maka akibatnya hubungan keluarga menjadi rusak. Bahkan perselingkuhan dapat mengakibatkan perceraian. Karena dengan hadirnya kawan selingkuhan akan membuat kita semakin tidak serius dalam menjalani hubungan dengan pasangan kita.
Dalam menjalani hubungan (kasih), butuh kerja sama dan saling percaya. Tidak memvonis pasangan dengan tuduhan yang belum tentu keberadaanya. Dan mencari teknik agar tidak bosan dengan pasangan. Saling mengingatkan dan mendukung.
KOLEKSI
Oleh Ulfia Rahmi
Koleksi merupakan kata yang sering digunakan dalam kehidupan kita sehari-hari. Ketika kita mengumpulkan barang-barang antik kita menyebutnya koleksi. Ketika kita sibuk membeli dan membaca buku kita menyebutnya koleksi. Dan ketika kita mengumpulkan hasil karya kita, kita juga menyebutnya sebagai barang koleksi. Namun, koleksi seseorang bukan saja karena hobi tapi juga karena barang yang dikumpulkan itu berhubungan dengan studi penelitian. Seperti koleksi kupu-kupu, koleksi bebatuan, koleksi dedaunan dan lain-lain.
Biasanya, terhadap barang koleksi kita selalu merawatnya dengan hati-hati. Apalagi diantara barang koleksi itu ada sang juaranya. Sang juara akan diperlakukan lebih khusus lagi. Biasanya diletakkan pada tempat yang menjadi fokus penglihatan biar lebih leluasa melihat koleksi kita.
Berdasarkan KBBI, koleksi adalah kumpulan gambar, benda bersejarah, lukisan dan lain-lain yang sering dikaitkan dengan minat atau hobi. Koleksi akan menjadi sesuatu yang menyenangkan dan bermanfaat. Namun, ada pula koleksi yang sudah lepas dari manfaat dan bergeser dari fungsinya. Koleksi yang dikumpulkan terkadang ada yang kurang wajar. Bahkan jika dilihat dari sisi kita sebagai penilai, tidak ada keuntungannya. Malah mubazir. Seperti selebritis di Negara kita yang hobi mengumpulkan barang-barang aneh sekaligus mahal. Seperti Sandra dewi yang mengoleksi struk belanjaannya. Sandra Dewi belum bisa tidur sebelum memegang koleksi struk belanjaan tersebut.
Lain lagi Talitha Latief yang hobi mengoleksi sepatu. Sepatunya ada dari berbagai jenis harga dan ada pula yang didapatnya di luar negeri. Dan Chicco Jericho yang hobi koleksi pernak pernik, terutama Supermen.
Demi kepuasan batin, mereka rela mengorbankan uang dan waktu mereka untuk koleksi mereka. Bahkan sampai melupakan orang lain yang lebih membutuhkan perhatian dan uluran tangannya demi mencari sesuap nasi untuk mengisi perutnya yang hampir kosong selama dua hari. Jika fenomenanya seperti itu, dimana sebenarnya kemanusiaan seorang kolektor yang begitu terkesan mubazir. Kalau mereka melihat dan ingat bagaimana saudaranya di tempat lain? Apakah yang akan mereka lakukan?
Memang, mengkoleksi barang kesukaan yang sesuai dengan minat dan hobi bisa membuat kita kosentrasi dalam bekerja dan juga bisa dengan sendirinya akan memberi inspirasi. Hal itu bisa dimaklumi karena manusia akan menjadi lebih baik jika ditemani barang-barang kesayangannya. Barang-barang kesayangan tersebut dapat membantu untuk mengolah pikiran untuk melakukan hal lain.
Tapi ada baiknya, untuk mengoleksi sesuatu dipikirkan dulu apa manfaat dan ruginya. Barang koleksian yang banyak manfaatnya bagi orang lain, itu akan terasa lebih indah. Dan coba renungkan, buat apa kita mengkoleksi barang yang tidak ada gunanya dan malah menimbulkan kerugian.
Kolektor yang memberikan contoh yang baik adalah salah satu tokoh bangsa kita, yaitu Bung Hatta yang hobi koleksi buku. Sehingga beliau bisa mendirikan perpustakaan pribadi. Dari perpustakaan itu ia bisa mengintip dunia dan mempelajarinya. Perpustakaan tersebut tidak hanya digunakan secara pribadi namun anak-anaknya juga bisa memanfaatkan koleksinya. Namun, sejak kepergian beliau menghadap sang pencipta, tidak saja anak, cucu, keluarga lain dan pembantunya yang menikmati koleksi perpustakaan Bung Hatta. Tapi masyarakat umum juga sudah bisa menikmati koleksi tersebut dengan cara meminjam buku di perpustakaan Bung Hatta.
Bila ingin memiliki suatu barang, yang terlintas untuk menjadikannya sebagai barang koleksi bisa dipikirkan kembali. Pertimbangkan lagi bentuk apa barang koleksian yang akan dikoleksi, manfaatnya dan juga ingat waktu telah terbuang untuk mengoleksi suatu koleksi. Okelah jika ada manfaatnya, jika tidak, kita akan merugi dua kali.
Antara Formalitas Dan Kesadaran Moral
¬¬¬oleh Ulfia Rahmi
Siapa saja pasti menginginkan hubungan yang baik dan memberi kontribusi salam kesehariannya. Baik hubungan dengan keluarga, teman, guru ataupun dosen, lingkungan sekitas dan hubungan dengan diri sendiri. Setiap hubungan itu pasti mempunyai tujuan tertentu. Seperti hubungan dengan keluarga biasanya mempunyai tujuan memberi dan menyalurkan kasih sayang kepada orang-orang terdekat. Hubungan dengan teman biasanya mempunyai tujuan dapat mencari tempat berbagi di luar keluarga, dan tempat menikmati hari-hari indah bersama orang-orang terdekat.
Begitu pula dengan hubungan dengan dosen atau pun guru yang jelas-jelas mempunyai tujuan. Pertama karena beliau orang yang mendidik kita, kedua berperan sebagai orang tua kedua, ketiga tujuan tertentu dalam hal akademik. Misalnya saja karena menunggu nilai yang akan diberikan guru atau pun dosen setelah seabrek materi yang telah ditranfernya dalam hal belajar mengajar. Lain lagi hubungan dengan diri sendiri, lebih memiliki harapan. Karena dengan memiliki hubungan baik dengan diri sendiri juga bisa memperbaiki dan mempertahankan hubungan dengan orang lain dan lingkungan. Karena segala sesuatunya bisa di mulai dari diri sendiri. Jika hubungan dengan diri sendiri baik, akan bisa mengontrol dan memotivasi agar hubungan dengan orang lain dan lingkungan juga baik.
Ya, untuk dapat menjadi lebih baik dalam hubungan dibutuhkan suatu resep yaitu adanya motivator. Motivator yang dapat menghubungkan bahwa diantara hubungan yang terjalin itu ada kesepakatan yang tersirat. Dapat memberi tanggung jawab, pengertian, rasa hormat dan simpati kepada orang lain. Dengan adanya rasa itu, akan menjalin hubungan yang lebih bermakna.
Seperti hubungan mahasiswa dan dosen. Antara hubungan ini terbagi menjadi dua hubungan. Pertama hubungan formalitas dan kedua yang benar-benar tumbuh dari hati nurani. Hubungan yang sekedar formalitas biasanya menjalani hubungan yang ada dengan mengemban rasa tanggung jawab dan tugas dari jabatan masing-masing. Antara dosen dan mahasiswa ada harapan untuk menjalin hubungan karena pemberian materi kuliah dilanjutkan dengan pemberian nilai. Besar kecilnya tugas dan tanggung jawab dapat mempengaruhi besar kecilnya motivasi baik bagi dosen maupun mahasiswa untuk terus melanjutkan hubungan.
Kedua, hubungan yang benar-benar dari tumbuh karena kesadaran moral untuk mendidik. Hubungan jenis kedua ini sangat berbeda dengan hubungan formalitas. Karena jenis kedua ini tumbuh dari dalam hati dan kesadaran moral seorang pendidik kepada anak didiknya. Hubungan yang terjalin pun tidak hanya karena nilai dari hasil ujian dan jumlah daftar yang tidak kurang dari 80% serta tidak hanya sekedar transfer ilmu. Lebih dari itu, antara dosen dan mahasiswa akan terdapat hubungan yang sangat erat.
Antara dua hubungan ini, hubungan karena kesadaran moral akan lebih bermakna dan tidak kaku dalam menjalaninya. Dengan hubungan yang seperti ini mahasiswa akan benar-benar menganggap hubungan yang terjalin dapat mereka nikmati. Dapat mengadu kepada dosen atau guru sebagai orang tua kedua bagi mereka jika ada permasalahan yang mereka hadapi. Dapat melihat dosen atau guru sebagai orang-orang yang dekat dengan mereka. Karena dalam usia perkembangan akan sangat dibutuhkan perhatian, tuntunan dan control dari orang-orang yang mereka hormati.
Berbeda dengan hubungan yang hanya karena formalitas. Mereka akan kaku dalam menjalaninya. Takut bertanya dan tidak mampu untuk dekat dengan “orang tua mereka sendiri”. Makanya dalam hubungan formalitas dosen terbiasa memperlakukan mahasiswa sebagai orang dewasa yang mengerti tugas dan tanggung jawab mereka masing-masing. Mahasiswa pun tidak akan dapat berkata apa-apa jika dosennya telah berpetuah, mahasiswa pun tidak akan bisa meninggalkan tanggung jawab yang diberikan dosennya meskipun tidak menyukai apa yang diperintahkan dosennya. Karena tugas dan kewajiban yang diberikan oleh dosen merupakan tanggungjawab yang harus ditunaikan.
Oleh karenanya dalam suatu hubungan sangat dibutuhkan kesadaran moral dan motivasi. Dalam keseharian kita, motivasi yang diberikan meski kecil akan dapat melahirkan semangat besar. Dan besar kecilnya motivasi akan mempengaruhi kuat lemahnya hubungan.