RESENSI

SETIAP KEBERAKHIRAN ADALAH AWAL KEBERADAAN DAN KEBERAKHIRAN SELALU DITEMUKAN DI AWAL KEBERADAAN

Judul : Reinkarnasi
Penulis : D. Indrahartanto
Penerbit : NARASI
Cetakan : 2008
Tebal : 119 halaman

Pertanyaan untuk apa kita dilahirkan, peran apa yang harus kita mainkan di dunia ini, sumbangsih apa yang bisa kita berikan pada dunia dengan keberadaan kita saat ini akan menjadi pertanyaan abadi di dalam kehidupan kita. Kadang juga timbul pertanyaan dari apa yang kita lihat dalam keseharian kita, seperti kita melihat banyak manusia yang bahagia, tapi mengapa yang susah jauh lebih banyak? Mengapa banyak sahabatku terlahir dalam keluarga miskin, sementara di luar sana begitu banyak orang hidup dalam keadaan berlebihan. Apa dosa yang telah dilakukannya? Mengapa mereka tidak bisa memilih dilahirkan pada keluarga yang lebih menyenangkan?

Begitu juga bila kita melihat si cacat. Mengapa banyak pula manusia yang terlahir secara cacat? Mengapa ada yang menderita sejak mereka dilahirkan, sementara ada anak manusia lahir dengan indra berlebih? Atau pertanyaan mengapa ada yang membenci orang-orang yang seharusnya mereka cintai? Mengapa ada yang membenci seseorang pada pahal tiada pernah mereka bertemu sebelumnya? Sebaliknya, mengapa begitu banyak orang jatuh cinta pada pandangan pertama?
Hidup ini penuh misteri itulah jawaban sementara yang bisa kita berikan. Semua ini memang kehendak tuhan tapi kehendak tuhan yang memiliki jawaban panjang yang bisa dijelaskan. Bukan hanya jawaban pendek “kehendak tuhan”. Atas pertanyaan yang timbul di atas D. Indrahartanto mencoba menjelaskannya dalam bentuk pembahasan sebuah reinkarnasi. Reinkarnasi merupakan istilah untuk menjelaskan bahwa arwah atau jiwa akan tetap hidup sekalipun raga manusia yang dimilikinya telah mengalami kematian. Artinya ia akan terlahir kembali ke dunia dalam dimensi ruang dan waktu, serta wujud raga yang berbeda.

Dalam buku D. Indrahartanto ini tidak berisi teknik-teknik dasar bagaimana agar kita bisa terlahir kembali atau reinkarnasi setelah kematian nanti. Katanya tidak perlu teknik dasar untuk bereinkarnasi, kita hanya butuh banyak perbuatan baik agan nanti hadir kembali dalam keadaan yang menyenangkan, seperti di surga atau perbuatan jahat untuk keadaan yang penuh penderitaan seperti neraka. Pilihan ada di tangan kita sendiri. Kita bisa saja terlahir kembali dengan dua kemungkinan. Pertama lahir lebih mulia dari kehidupan sebelumnya dan hidup bahagia atau malah lebih buruk bahkan bisa saja menjelma menjadi binatang.
Dalam buku ini D Indrahartanto berpendapat bahwa reinkarnasi sama dengan hukum karma atau hukum sebab akibat. Hukum sebab akibat inilah yang akan menjadi variabel penting terjadinya reinkarnasi. Secara intuitif, setiap manusia bisa menerima dan memercayai adanya hukum yang saling mengikat di antara mereka atas perbuatan-perbuatan yang mereka lakukan selama mereka berinteraksi dengan lingkungannya. Setiap kita melakukan sesuatu yang mengakibatkan kerugian orang lain, intuisi kita secara misterius mendesak seakan kita harus membayar kerugian yang sama di lain waktu. Demikian pula setiap kali kita berbuat kebaikan, secara misterius kebaikan akan mendatangi kita dan uniknya, hadir dalam takaran yang lebih banyak dari apa yang telah kita perbuat.

Seperti cerita yang dituturkan oleh D. Indrahartanto bahwa pernah dulu si sebuah propinsi Liao Ning, Cina ada seseorang bernama Zhang Qing yang bekerja pada Li Cheng. Meski Zhang Qing kurang cakap dalam melakukan pekerjaannya, Li tetap memperkerjakannya karena merasa iba melihat kondisi keluarganya. Sampai matipun Li lah lang membiayai penguburan Zhang Qing. Namun Zhang Qing hadir kembali dalam kehidupan Li dalam wujud hewan suruhan, yaitu kuda. Li mendapat mimpi bahwa Zhang Qing datang untuk membayar hutangnya.
Kuda milik Li melahirkan kuda kecil yang kemudian diberinya nama dengan Zhang Qing karena teringat akan mimpinya. Kuda itu pun sangat patuh kepadanya. Akan mengerjakan apa saja yang disuruh tuannya. Kuda Zhang Qing bekerja begitu baik, namun suatu ketika si kuda membuat kekacauan di suatu pasar dan merugikan seorang pedagang. Atas kerugian yang dilakukan Zhang Qing, dia dimarahi di depan umum. Karena Li menyabut nama Zhang Qing, membuat pedagang bertanya kenapa dipanggil Zhang Qing. Menjawab pertanyaan pedagang Li menceritakan apa yang ada dalam mimpinya dulu. Kemudian pedagang itu berkata, “saya kenal Zhang Qing semasa hidupnya, saya pernah membeli kain padanya dan bahkan masih berhutang kepadanya”. Ketika pedagang menghitung kerugian yang diperbuat kuda Zhang, ternyata jumlahnya sama dengan besar hutangnya kepada Zhang semasa Zhang hidup. Dengan begitu selesailah hutang piutang Zhang Qing, dia akhirnya mati,

Begitulah sepercik contoh kehidupan yang akan terlahir kembali dan hubungannya dengan hukum sebab akibat. Semua akan terhenti disaat roh empunya sudah mencapai semua yang diinginkannya, maka berhenti pulalah reingkarnasinya jika memang empunya menginginkan seperti itu.
Reinkarnasi sendiri hingga kini sebetulnya masih menjadi perdebatan di sejumlah kalangan. Perbedaan keyakinan atau kepercayaan dalam memahami kehidupan sesudah kematian, paling tidak menjadi pemicu utama hadirnya beda pendapat tersebut. Namun dengan buku ini kita dari berbagai kalangan bisa meningkatkan spritualitas dalam diri kita. Dan menjadi pencerahan spirtualitas karena ada hikmah yang dapat diambil dari ajaran reinkarnasi. Hikmah yang tak jauh berbeda dengan spriritual atau keagamaan manapun yang ada di muka bumi. Yaitu kepasrahan terhadap kehendak maha tinggi, menghargai perbedaan pendapat diantara kita, menahan diri untuk menyalahkan orang lain, dan mengerti bahwa apa yang kita tanam itu yang nantinya yang akan kita petik.{ULFIA RAHMI}


Judul : Meraih Puncak Kenikmatan Shalat
Penulis : DR. Khalid Abu Syadi
Penerbit : Ziyad Books, jl. Dulu II no. 12 jajar laweyan surakarta 57144
Cetakan : Sha’ban 1428 H/ agustus 2007 M
Tebal : 129 halaman

Hikmah yang tersimpan dalam setiap perintah yang diberikan allah membuat takjub akal manusia. Menujukkan kesempurnaan dan kelembutan kasih-Nya. Tidak terlepas pula pada setiap gerakan shalat, yang memiliki kedasyatan tersendiri. Buku karya DR. Khalid Abu Syadi membeberkan tentang cara mencapai kedasyatan itu. Jalan utamanya adalah khusuk dan tidak semua orang yang mampu mencapai kekhusukan dalam shalat.
Buku ini merupakan gabungan dari buku karangan Ibnu Qayyim. Allah memberi kemudahan kepada DR. Khalid Abu Syadi untuk menelaah karangan yang sangat berharga tersebut. Khalid membaca karangan tersebut di sebuah website. Si pengelola website mengorbitkan tulisan tersebut berdasarkan pada tiga naskah kitab as-sama’ asli yang ditulis okeh Ibnu Qayyim. Pada saat membaca website tersebut khalid tidak menaruh perhatian.
Namun saat khalid melakukan ibadah umrah ke Baitullah, di sana khalid menemukan buku itu dengan judul lain (risalatu dzauqis shalati, yang disarikan oleh adil abdus syukur ar-razzaqi, cet. II, dar thuwaiq, Riyadh, tahun 1423 H/2002 M). Khalid mengetahui bahwa buku tersebut juga disarikan dari karya ibnu qayyim.
Dari buku-buku karangan Qayyim itulah penulis mendapatkan manfaat yang luar biasa dalam melaksanakan shalat. Kemudian khalid menggabungkan buku tersebut, menyederhanakan bahasanya, menerangkan dengan sejelas-jelasnya isi buku tersebut dengan menyertai pendapat dan komentar penulis sendiri. Dalam buku ini juga ditambahkan oleh khalid makna-makna spiritual shalat dan doa, yang hendak dibaca dalam shalat yang semakin memperkuat tujuan buku berjudul Meraih Puncak Kenikmatan Shalat.
Gabungan dari karya-karya tersebut, kini menjadi sebuah pedoman sebagai kunci-kunci untuk mencapai kenikmatan shalat. Selama ini kita melaksanakan shalat lima waktu dalam sehari, menyerahkan diri pada sang khalik. Dalam sehari kita melakukan shalat lima kali, tentunya tidak terhitung berapa jumlah sujud yang dipersembahkan kepada Allah dalam setahun. Tidak terhitung berapa lantunan takbir yang kita kumandankan. Beribu doa permintaan telah diajukan kepada allah. Namun, apakah kita khusuk dalam dalam melaksanakan shalat? Apakah kita menyerahkan diri sepenuhnya kepada allah? Karena tidak sedikit hambanya yang mencampur adukkan urusan dunia dalam shalat mereka. Mereka tidak sepenuhnya menghadapkan hidupnya kepada allah. Mereka berada di depan allah, mengajukan segudang doa permintaan dan permohonan pada allah, tetapi mereka masih berpaling memikirkan urusan dunia
Begitu banyak yang melakukan shalat, namun sedikit sekali diantaranya yang mendirikan shalat. Contoh yang diberikan rasulullah terlihat saat kita lihat pada suatu mesjid yang dipenuhi oleh orang-orang yang shalat. Tapi cobalah untuk mengetahuinya, orang-orang yang mendirikan shalat sangat sedikit sekali. Salah satu penyebabnya karena orang-orang yang melakukan shalat tersebut tidak khusuk dalam shalatnya. Shalat merupakan barakah, betapa banyak makna-makna spiritual yang tersirat di dalam shalat yang bisa kita serap. Namun ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang khusuk dalam shalatnya.
Khusuk merupakan tanda keimanan. Sedangkan iman terkadang bertambah dan terkadang berkurang. Begitu juga dengan kekhusukan, kekhusukan akan bertambah dan juga akan berkurang. Ia akan bertambah jika disibukkan oleh ilmu yang bermanfaat dan amal yang salih. Demikian juga ia akan berkurang jika terjangkit penyakit hati. Bahkan akan hilang dari diri seseorang, jika hatinya mati.
Kekhusukan merupakan tanda kesadaran jiwa seseorang terhadap gejolak hati dan perubahannya hingga ia mampu mengatasi bagaimana agar tidak terjebak dalam bahaya. Begitu pula dengan hati, ia tidak mungkin akan mampu meresapi makna shalat jika masih dipenuhi dengan sesak ambisi dunia dan kesibukan dalam mencari rizki. Kecuali jika kita berani menceraikan urusan dunia pada saat berada dalam area shalat..
Jika mampu menambah kekhusyukan, maka syetan akan menyerang dengan bertubi-tubi. Syetan akan menghabisi semua amunisi untuk mempertahankan kekhusukan. Dengan demikian seterusnya hingga mengecil, sedikit demi sedikit hingga akhirnya kehilangan kenikmatan shalat.
Kenikmatan yang hanya dirasakan oleh orang-orang yang khusuk. Dimana didalam shalatnya, dia akan berbincang langsung dengan sang khalik. Memohon ampunan dan meminta keselamatan. Jika telah khusuk dalam shalatnya maka kenikmatan akan dirasakan mulai dari menghadap kiblat sampai mengucapkan salam. Setiap ayat yang dibaca dalam shalat akan menjadi doa yang mujarap. Karena allah menemani dam mendengarkan orang yang khusuk dalam shalatnya.
Setiap ayat-ayat yang dibaca dalam shalat harus diresapilah keagungan maknanya. Terutama makna al-fatihah. Al fatihah adalah surat al quran yang paling agung. Karena al fatihan merupakan satu-satunya surat yang langsung direspon oleh allah pada setiap ayat yang dibaca. Jika kekhusukan itu tidak ada maka makna ayat yang dibaca dan shalat yang dikerjakan tidak ada artinya.
Memaknai ayat al fatihah merupakan salah satu langkah dalam mencapai kenikmatan shalat. Dalam lembaran penting yang ditulis khalid ini, masih banyak cara lain untuk memperolah kenikmatan tersebut. Mungkin dengan membaca buku ini secara keseluruhan akan memaknai setiap gerakan shalat yang dilakukan dan akan membuat kita tersentak. Ternyata shalat bukan hanya serangkaian gerakan yang memakan waktu satu jam atau mungkin hanya sebagian waktu saja yang dibutuhkan. Namun dibalik gerakan shalat tersebut terkandung lautan makna yang dalam, lebur begitu saja tanpa bekas.
Khalid menjadikan buku ini sebagai bahan evaluasi khususnya bagi dirinya sendiri dan untuk umat mayoritas umat islam secara umum. Yang melaksanakan shalat namun tidak dalam kondisi yang prima, menyia-nyiakan shalat, sehingga mereka belum mampu menjaga shalat mereka sendiri. Dan sangat sedikit sekali diantara yang melaksanakan shalat tesebut benar-benar menegakkan shalat dengan menyempurnakan kondisi ruku’, sujud dan kekhusukan mereka.
Dengan rangkaian bahasa penulis yang halus dan tidak berbelit-belit, pembaca akan lebih mudah memahami buku ini. Namun, ada satu yang perlu diingat. Untuk membaca buku ini tidak bisa dilakukan dengan membaca cepat dan perlu diulang-ulang. Sebaiknya, ambil sedikit terlebih dahulu kemudian bacalah dengan berlahan, resapilah makna yang ada didalamnya, kemudian dengan yang sedikit itu cobalah mengamalkannya, akhirnya akan mendapatkan makna yang melimpah.


Judul : “Booming” Surat Kabar di Sumatra’s Westkust
Penulis : Hendra Naldi
Penerbit : Ombak, 2008
Tebal : 184 halaman
ISBN : 979-3472-89-8

Diterbitkannya buku berjudul “Booming” Surat Kabar di Sumatra’s Westkust karangan Hendra Naldi, telah membuka bagaimana sejarah perkembangan surat kabar di Sumatra Barat. Hendra Naldi selain sebagai staf pengajar di jurusan Sejarah UNP, sekarang Hendra intens meneliti persoalan sejarah pers pada zaman Kolonial. Beberapa penelitian yang telah selesai dilakukan Hendra Naldi, difokuskan pada daerah koto Gadang yaitu: “Soeara Kota Gadang: Media Pers Berbasis Nagari Sumatera Barat pada Masa Kolonial (1916-1922)” dan “Berita Kota Gadang: Media Pers Masyarakat Kota Gadang dalam Masa Kolonial (1932-1939).
Hendra Naldi dalam bukunya berjudul buku “Booming” Surat Kabar di Sumatra’s Westkust ini pembahaan Hendra Naldi dititik beratkan pada “Perkembangan Media Pers Daerah: Cerminan Perubahan Masyarakat Sumatera Barat pada Masa Kolonial (1900-1930)”.
Ide penulisan buku ini berasal dari tulisan Hendra Naldi dalam rangka meraih gelar Magister Humaniora Program Studi Sejarah di UI (2002). Tidak terlalu banyak perubahan yang dilakukan. Hanya saja perubahan yang sangat mendasar. Yaitu perubahan bagaimana sistematika isi. Kalau sebelum dijadikan buku, formatnya berbentuk format tesis maka dalam dalam buku ini telah disesuaikan dengan format buku.
Berdasarkan pengamatan Hendra Naldi awal abad ke-20, Sumatra Barat pernah disebut sebagai “ladang” media pers Indonesia. Daerah ini malah termasuk daerah di luar pulau Jawa terdepan dalam menerbitkan media pers. Dalam kurun waktu 1900 sampai 1930 saja, pers hadir sebanyak 53 buah penerbitan. Suatu angka yang fantastis untuk sebuah daerah atau wilayah yang tidak memiliki penduduk yang terlalu padat.
Dari gambaran fenomena sejarah, telah menunjukkan bahwa Sumatra Barat merupakan wilayah yang cukup antusias dalam menyambut sebuah perubahan
Kemudian dalam alam reformasi, perkembangan pers di Sumatra Barat tidak menunjukkan perkembangan yang cukup untuk kehidupan media pers daerah. Sebetulnya antusias untuk menyambut perubahan oleh Sumatra Barat juga diperlihatkan pada masa awal reformasi. Namun seiring dengan perjalanan waktu, satu demi satu media pers yang hadir di era awal reformasi itu berguguran. Bahkan ada tanda-tanda yang menunjukkan pers daerah dikuasai oleh hegemoni pers nasional yang berkamuflase menjadi pers daerah. Sampai akhirnya, terlihat gejala mengguritanya cengkraman media pers-pers nasional yang bertukar kulit menjadi pers daerah.
Kondisi cepat berkembang dan cepat mati ini merupakan pengulangan dari cerita perkembangan media pers yang terjadi pada awal abad ke-20.
Menurut Hendra Naldi, faktor yang mempengaruhi hidup matinya surat kabar tersebut menunjukkan mentalisas Budaya Minang yang cukup mempengaruhi. Mentalitas yang dimaksud adalah gejala orang Minang yang sensitive terhadap segala bentuk perubahan yang datang dari luar. Masyarakat Minang akan cepat menerima setiap perubahan yang dianggap baru dalam masyarakat. Sayangnya sikap itu tidak diiringi pula oleh ketangguhan dalam mempertahankannya.
Faktor lain yang turut mempengaruhi berkembang dan matinya surat kabar di Sumatera Barat karena kondisi wilayah yang seluruhnya masih belum terbuka, sikap propesional dalam mengurus media pers, kehidupan ekonomi dan kebijakan politik penguasa. Bagaimana situasi politik, ekonomi dan sosial yang sedang berkembang saat itu memberi warna terhadap kekhasan perkembangan surat kabar di Sumatera Barat.
Situasi politik yang dikuasai oleh negara penjajah yang sangat mempengaruhi perkembangan pers di Sumatera Barat. Karena untuk mengisi surat kabar dengan berita, peristiwa ataupun informasi lainnya tidak boleh berbau pemberontakan. Karena itu jugalah penjajah membatasi pers yang beredar.
Selain itu, factor ekonomi juga memperngaruhi pertumbuhan pers di Sumatera Barat. Karena melalui perslah pihak-pihak tertentu mengiklankan produk mereka untuk dipasarkan. Selain menunjang perkembangan pers, juga bisa menjatuhkan pers-pers tertentu. Karena banyaknya perusahaan atau pihak tertentu tidak membayar uang iklan mereka. Kesulitan dana akibat uang iklan tidak dibayar inilah yang membuat pers terhenti untuk memproduksi surat kabar berikutnya.
Selain dari keadaan berkembang dan matinya surat kabar di Sumatera Barat yang unik ini, hal lain yang membuat Hendra Naldi tertarik untuk meneliti perkembangan surat kabar di Sumatera Barat karena pers dianggap sebagai cerminan kebudayaan. Terutama kebudayaan masyarakat Minangkabau periode abad ke-20. Kemudian pers dianggap sebagai cerminan intelektual. Karena Pers digunakan sebagai ajang penuangan dan penyampaian ide-ide dan gagasan-gagasan. Dan yang ketiga yang membuat Hendra Naldi tertarik untuk meneliti pers karena pers merupakan rekaman pelbagai peristiwa zaman. Melalui pers, peristiwa yang terjadi dan yang aktual pada saat itu dapat dituangkan.
Dalam buku karangan Hendra Naldi ini, juga disebutkan para tokoh jurnalistik yang berasal dari aktifis Sumatera Barat pada awal abad ke 20. Diantaranya adalah Datuk Sutan Maharadja, yang merupakan pelopor lahirnya media pers pribumi dan sekaligus pelopor lahirnya media pers sekuler. Kemudian Roehanna Koeddoes, yang merupakan pelopor lahirnya media pers perempuan, sedangkan yang ketiga adalah H. Abdullah Ahmad yang merupakan pelopor media pers Islam di Sumatera Barat.
Buku “Booming” Surat Kabar di Sumatra’s Westkust ini merupakan perpaduan gambaran peristiwa dengan analisa-analisa ilmiah melalui pendekatan ilmu-ilmu sosial yang memperlihatkan bagaimana proses modernisasi di Sumatera Barat melahirkan media pers. Selain penuturan kata-kata yang apik, data-data yang berbentuk table disertakan dalam buku ini, mempermudah pembaca memahami perkembangan surat kabar di Sumatera Barat. Selain itu, catatan kaki dalam buku ini juga membantu pembaca dalam memahami isi buku.

THE SPIRIT OF CHANGE

THE SPIRIT OF CHANGE

Judul : THE SPIRIT OF CHANGE

Penulis : NABA AJI NOTOSEPUTRO

Penerbit : TERAJU MIZAN, MARET 2008

Tebal : 347 halaman

ISBN : 978-979-3603-88-9

Kehadiran teknologi telah menghantarkan bangsa kita ke arah perubahan yang berjalan begitu cepat. Belum selesai kita menguasai teknologi terbaru, teknologi yang paling terbaru pun segera muncul. Perubahan dan perkembangan teknologi ini ibarat sekeping mata uang yang memperlihatkan dua sisi. Satu sisi terdapat kemajuan yang luar biasa, karena kemajuan teknologi banyak memberikan altenatif pemecahan masalah kehidupan dan di sisi lain, terkadang teknologi juga menghadirkan banyak masalah baru.

Melihat situasi seperti ini, dalam era persaingan global kita tidak boleh lengah, jika kita masih lengah maka kita akan tergiling oleh perubahan itu sendiri. Dan untuk menghadapi tantangan ini, generasi telematika diidamkan kehadirannya di tengah masyarakat yang “mengidamkan” kemajuan. Karena generasi telematika merupakan generasi digital native yang akan menjadi kunci keberhasilan. Tentu saja generasi digital native ini harus melengkapi dirinya dengan kompetensi baru. Salah satunya kompetensi berbasis ICT (Information Communcations & Technology).

ICT merupakan kompetensi yang menurut beberapa ahli, suatu bentuk perpaduan antara komputer, informasi dan komunikasi. Pada awalnya ilmu komputer dan komunikasi dipelajari secara terpisah. Namun teknologi telah berhasil menyatukan keduanya, dibuktikan dengan kehadiran internet dan telepon seluler.

Selain itu, ICT merupakan suatu perangkat teknologi yang diciptakan untuk mengintegrasikan manfaat aplikasi komputer, teknologi informatika dan komunikasi menjadi suatu system yang saling berkolaborasi atau saling mendukung. Oleh karenanya teknologi ICT itu berkembang dari teknologi statis menjadi dinamis yang selalu bergerak. Secara pasti akan mengubah cara kita berkomunikasi, berbisnis, mengakses informasi, menikmati hiburan atau aktifitas lainnya yang tidak terikat pada ruang dan waktu

Hal-hal inilah yang dibicarakan dalam buku The Spirit of Change. Sebuah paradigma system pendidikan dan pembelajaran di Indonesia. Dan menjadi kartu AS perubahan dalam mewujudkan harapan menjadi kenyataan.

Naba Aji Notoseputro melalui buku ini menunjukkan sebuah kontibusi sebagai anak bangsa yang ingin melihat bangsanya lebih maju dalam pendidikan. Tulisan-tulisannya dalam buku ini menunjukkan betapa kompleksnya persoalan dalam dunia pendidikan. Persoalan yang dihadirkan akan menggugah hati dan akan menjadi tantangan bagi masyarakat yang peduli pendidikan. Dan setiap tantangan yang dihadirkan Aji juga diikuti oleh solusi-solusi yang terbaru pula. Karena jika masih menggunakan solusi lama, tantangan baru ini tidak akan dapat dihadapi dan usaha yang dilakukan untuk menghadapi tantangan itu juga akan gagal.

Arahan solusi yang diberikan Aji mengarah ke arah perubahan pola pikir baik mahasiswa maupun calon mahasiswa. Agar kedua benih ini jangan salah dalam menentukan pilihannya menentukan masa depan. Kemudian, Aji juga sering menyebut BSI (Bina Sarana Informatika) sebagai contoh dalah satu pendidikan tinggi yang memprlihatkan suatu pendidikan bermutu tapi dengan biaya terjangkau. Dalam system pelaksanaan akademik BSI telah dilakukan melalui internet yang terkoneksi selama 24 jam dan dapat dilakukan di seluruh seantero nusantara. Melalui sarana dan prasarana yang telah memadai diharapkan semua urusan kuliah dapat diatasi dengan teknologi. Sehingga mahasiswa dan masyarakat umum lainnya tidak canggung lagi dalam menggunakan teknologi.

Dalam jembatan perubahan ini, teknologi bukan sesuatu yang berbeda lagi, tapi teknologi diharapkan sebagai teman dan sahabat dalam meraih masa depan bangsa. Karena dengan adanya teknologi mereka akan mengubah cara kita bekerja dan berkomunikasi.

Tinggalkan sebuah Komentar