SHOPPING

Kebutuhan memang suatu yang harus dipenuhi. Terutama kebutuhan pokok, yang sering juga disebut dengan istilah kebutuhan primer. Jika seandainya kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak terpenuhi atau jauh dari standar yang ada, maka akan menimbulkan sesuatu yang dapat merubah jalur hidup. Karena merasa kebutuhannya belum terpenuhi.

Pemenuhan kebutuhan semakin hari semakin meningkat. Bukan saja dari segi harganya, melainkan juga tingkatan atau statusnya. Jika tingkatan kebutuhannya ada tiga; primer, sekunder dan lux, maka kebutuhan sekunder sekarang sudah menjadi kebutuhan primer. Yang lebih parahnya lagi, kebutuhan lux juga ikut-ikutan merayap menjadi kebutuhan primer. Contoh kongkrit saja dapat dilihat pada pendidikan dan kesehatan. Dulu kedua kebutuhan ini merupakan kebutuhan sekunder, namun karena perkembangan zaman pendidikan dan kesehatan naik satu peringkat. Menjadi kebutuhan kebutuhan primer.

Ini disebabkan karena keinginan manusia itu tidak terbatas. Manusia tidak pernah puas dengan apa yang telah ia raih. Ingin mendapatkan apa yang menjadi keinginannya, padahal apa yang menjadi keinginannya tersebut bukan hal yang sangat ia butuhkan. Dapat dikatakan apa yang dibutuhkan manusia adalah apa yang menjadi keinginannya, bukan pada apa yang dibutuhkannya (benar-benar dibutuhkannya).

Padahal untuk memenuhi keinginan-keinginan tersebut, alat untuk mencapainya sangat terbatas. Sebagian manusia tidak bisa memenuhi keinginannya karena faktor ekonomi dan sosial yang sedang dialami.

Faktor ekonomi dan faktor sosial tidak saja menjadi penghalang untuk mencapai keinginan. Bahkan kedua faktor ini dapat menjadi penunjang untuk lebih bisa mencapai suatu keinginan. Dalam kehidupan sosial misalnya, sebagian manusia itu takut kalah saing oleh tetangga, takut dipandang tidak mampu bahkan takut diremehkan. Lebih parahnya lagi, sebagian besar memenuhi keinginan yang bukan kebutuhan itu bertujuan agar dihargai oleh orang-orang sekitarnya. Terutama memiliki barang-barang bermerk dan bahan impor.

Faktor ekonomi dan faktor sosial laksana orang yang bersaudara, keduanya saling mendukung. Dan kedua faktor inilah yang yang mendorong seseorang untuk memenuhi keinginan yang bukan kebutuhan. Sehingga lahirlah budaya shopping.

Ya, shopping. Shopping merupakan sebuah kata yang tidak asing lagi di telinga kita. Bahkan, istilah shopping ini sering kita dengar dan mungkin tanpa disadari telah melakukan shopping.

Istilah shopping tidak saja beredar dikalangan ibu-ibu tetapi juga sudah dipakai di kalangan remaja baik siswa dan mahasiswa. Mereka menjadikan shopping menjadi sebuah kebutuhan. Apalagi setelah mengalami perkembangan zaman. Shopping ditunjang karena adanya mall atau stan-stan yang menawarkan produk-produk terbaru dan menarik yang membuat mata tidak berkedip. Produk-produk tersebut menggugah pikiran dan hati seorang yang komsumtif bahwa “barang itu harus dimiliki”, harus dimiliki sebelum didahului oleh orang lain.

Namun, jika produk tersebut telah dimiliki orang lain maka produk tersebut tidak dipakai lagi. Dibiarkan begitu saja atau dilempar ke gudang. Meski produk tersebut masih layak untuk dipakai dan masih baru. Seorang yang gila shopping akan membeli produk baru dengan model baru dan merk yang lebih ngetren.

Disinilah letak sisi negatif dari shopping. Mubazir, itulah kata yang tepat untuk istilah shopping. Karena membuang sesuatu yang masih bermanfaat dan membeli sesuatu yang tidak menjadi kebutuhan. Hanya sekedar memenuhi keinginan semata.

Shopping sering dilakukan oleh orang-orang yang memiliki sifat konsumtif. Tidak memikirkan terlebih dahulu bagaimana kegunaan produk yang akan dimilikinya tersebut.

Dan satu pertanyaan bagi kita, kenapa mesti shopping? Melakukan tidakan yang menimbulkan sesuatu yang mubazir. Padahal di tempat lain begitu banyak orang yang kurang beruntung bahkan tidak beruntung. Budaya shopping seharusnya tidak dilakukan oleh seorang manusia yang peduli pada sesamanya. Baiknya berhemat dan menabung buat masa depan. Lebih bermanfaat dan terhindar dari mubazir. Seperti kata pepatah yang sering kita tulis semasa kita masih siswa eS De; hemat pangkal kaya. Lagi pula sifat yang berlebih-lebihan itu tidak disukai oleh sang Khalik, karena sifat berlebih-lebihan itu merupak sifat setan. Jika kita ikut dengan sifat setan, berarti kita teman setan dong.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s