“PITI PAMBALI ROKOK”

minta-uangSeorang pemulung plastik gelas minuman berkemasan memanggil-manggil nama temanku. Pemulung itu tergopoh-gopoh mengejar sepeda motor yang kami kendarai. Karena mendengar panggilan tersebut, kami berhenti dan menunggunya.

Ternyata pemulung tersebut memberikan sebuah dompet berwarna hijau muda. Itu dompet temanku, yang ketinggalan di meja makan pada sebuah pesta pernikahan yang baru saja kami tinggalkan. Dengan raut wajah yang senang namun menyimpan keraguan, teman tadi menerima dompetnya. Sesegera mungkin dia memeriksa dompet tersebut untuk melihat isi dompet. Karena dompet itu sangat berharga. Meski isinya tidak terlalu banyak, namun di dalam dompet tersebut tersimpan surat-surat penting.

Setelah kami yakin isi dompet tersebut masih utuh, kami kembali menaiki sepeda motor. Tapi sebelumnya tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada pemulung yang telah menyelamatkan dompet teman saya. Namun apa yang terjadi, benar-benar diluar dugaan. Pemulung tersebut meminta uang “untuk membeli rokok”, katanya. Dengan rasa terima kasih kami pun memberikan uang, walau dalam jumlah yang sedikit. Sesaat kemudian kami pun hilang berlalu dari hadapan pemulung tersebut.

Hah, disinilah menurut saya uang kembeli berpengaruh dalam kehidupan manusia. Hanya demi uang dengan jumlah yang tidak terlalu banyak, manusia rela kehilangan tawaran pahala yang lebih menjamin. Pahala yang akan menambah berat timbangan di akhirat nanti.

Saat ini, uang bukan saja berfungsi sebagai patokan tolak ukur nilai suatu barang atau benda. Namun karena tuntutan kebutuhan, uang telah mampu menilai harga kebaikan seseorang. Walaupun mengistilahkan uang tersebut untuk pembeli rokok, tetap saja uang dapat menilai harga diri seseorang. Hal ini tidak hanya dilakukan oleh pemulung sebagai orang rendah, namun juga terjadi kepada semua kalangan. Penyakit ini tidak dapat dinyatakan siapa yang menularkannya. Karena tidak dapat diketahui siapa pembawanya. Hanya terlihat nyata bahwa penyakit tersebut merabah kemana-mana. Seperti jamur di musim hujan.

Kita lihat saja contoh pada pegawai sebuah perusahaan. Mereka tidak akan pernah mengerjakan tugas yang bukan kewajiban mereka, apalagi pekerjaan itu di luar jam kerjanya. Faktor lain yang membuat mereka tidak mau bekerja karena uang lembur yang tidak di bayarkan atau disediakan. Di sini telah tampak, bagaimana uang telah berperan dalam kehidupan seseorang. Di jaman sekarang memang sulit mencari orang yang ikhlas. Orang-orang yang bekerja atau menolong orang lain tanpa berharap sesuatu dari yang bersangkutan. Saat ini, orang akan mempertimbangkan situasi dan kondisi terlebih dahulu. Baru memikirkan pahala atau bagaimana untung bagi dirinya jika dia menolong orang tersebut. Walaupun sulit untuk mencari orang-orang yang ikhlas, setidaknya kita harus mulai dari diri kita sendiri. Kita harus ikhlas pada diri sendiri, teman sebaya, orang yang lebih muda atau lebih tua, lingkungan dan paling utama harus ikhlas kepada sang khalik.

Untuk berbuat ikhlas tersebut tidaklah sesuatu yang sulit. Bahkan menjadi hal yang menyenangkan jika sudah terbiasa dengan keikhlasan. Setelah kita berbuat baik kepada orang lain, lingkungan dan sang khalik. Kita usahakan untuk tidak menyebut-nyebut atau memikirkan kembali apa yang telah kita lakukan. Untuk menghadapi masalah kehidupan juga dapat dilakukan hal yang sama. Harus sabar dan ikhlas. Karena sifat sabar dan ikhlas harus ada pada diri setiap orang. Agar uang untuk pembeli rokok tidak dikambinghitamkan lagi.

4 thoughts on ““PITI PAMBALI ROKOK”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s