FAJAR

FAJAR.

Kali ini Willis menginginkan fajar. Fajar terasa begitu jauh. Malam yang dijalaninya begitu panjang. Gelap dan sendiri. Terasa bagi Willis, untuk mencapai fajar, kita memang harus berjuang melalui kegelapan malam. Fajar, cahaya kemerah-merahan di langit sebelah timur saat matahari akan terbit itu menjadi pengharapan bagi Willis. Untuk hari ini dan masa depan. Untuk dirinya dan orang-orang yang menyertainya.

Untuk menjalani malam, takut kadang menyertai perjuangan itu. Namun kadang rasa takut bertindak sebagai perangsang yang mempertajam kemampuan berpikir. Tapi saat ini. Saat perjuangan mulai diujung usaha, ketakutan merubah pikiran Willis menjadi gelombang kepanikan.

KENAPA KITA DALAM KONDISI PANIK DAN KETAKUTAN TAK BISA BERPIKIR JERNIH? Potongan pesan pendek yang dikirimkan Willis ke hape Tuti, dengan balasan: COBALAH DIPERJUANGKAN SAMPAI UJUNG BUK. KARENA ITU MURNI KESALAHAN DOSEN. GA MUNGKIN MAHASISWA YANG DIKORBANKAN. TAPI KALAU SUDAH BERADA DIUJUNG USAHA, MUNGKIN TUHAN PUNYA RENCANA LAIN. SABAR YA BUK…

“hu…”, Willis menyunggingkan sudut bibirnya. Terasa kata-kata itu sangat hambar. Kini Willis seperti diserang virus frustasi. Rasa kecewa, kegagalan, kekalahan, perasaan tidak akan menang, tidak akan berhasil.

Apalagi kalau Willis inget pesan pendek dari kakak kandungnya, RUGI KALO G BISA WISUDA TAHUN INI. GA ADA YANG BS JD DIJADIKAN ALASAN.

Makin membuat Willis pusing, dan ujung-ujungnya Willis akan menghubungi Ariel. Satu tempat hati yang bisa bikin dia tenang. Meski kadang masalah ga akan selesai, setidaknya beban yang tanggungnya secara psikologis dapat berkurang. Saat bersama Ariel, seakan beban itu hilang, meski sampai di kamar kosnya semuanya akan muncul, merapung dalam pikirannya.

RIL, KITA KELUAR YUK. AKU PUSING.

YUP.

AKU TUNGGU YA.

YA, AKU LANGSUNG MELUNCUR KE KOSANMU.

***

Sambil menunggu Ariel, Willis termenung di depan kosannya. Menatap jemuran akan kos. Ada dari pakaian paling luar sampai paling dalam. Seolah Willis menyeringai melihat pemandangan itu. Jarang sekali Willis melihat hal-hal seperti ini. Jarang sekali Willis berada di kos saat mentari muncul. Biasanya, ketika kesibukan kampus masih memihak kepada Willis, kosan baginya sebagai tempat menyimpan baju, buku dan peralatan lainnya. Dulu Willis serupa manusia nomaden. Hidup berpindah-pindah. Namun bedanya, Willis bukan untuk mencari makan, tapi melakukan sesuatu yang bisa bikin dia tidak tidur. Sampai teman-temannya memberikan nama ‘manusia aneh’. Tapi kini semua sudah berubah. Saat Willis mempertimbangkan untuk menyelesaikan sarjananya, dia melepaskan apa yang dimiliki di kampus. Kesibukan, kedekilan, kesederhadaan dan kebersamaan di organisasinya.

Pilihan itu ternyata tidak membuat Willis puas. Wisuda yang diibaratkan Willis sebagai fajar ternyata tak mendekat. Cuma gara-gara tersangkut mata kuliah. “ini bukan kelalaianku”, bisiknya dalam hati. “Benar kata Tuti, mahasiswa tidak bisa dikorbankan. Aku harus melakukan sesuatu. Studi ini harus selesai tahun ini”.

Tekad itu menguatkan hati Willis untuk menjalani gelap malam. “Aku harus berjuang sampai diujung usaha. Dan saat aku pergi, semuanya akan puas”.

One thought on “FAJAR

  1. Sabar menjalami malam hari sebelum fajar merekah di ufuk timur. Itulah hidup segelap dan sehitam apa mesti kita lakoni dengan sabar, kelak kan datang cahaya penerang hati! Thanks jendelakatatiti.wordpress.com!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s