Mikirin Surat Cinta

Pagi-pagi Willis sudah berperang dengan kriuknya keripik pisang. “ah, sarapan pake keripik aja juga asyik ternyata ”, gumam dalam hati. Pagi ini Willis masih memikirkan perihal surat cinta yang diminta Ariel. Berkali-kali dia menimbang kata-kata surat. Surat mungkin hanya secarik kertas yang tertulis berbagai maksud. Bukan tidak mau memenuhi keinginan Ariel, tapi susah membuat surat yang dimaksud Ariel. Jika sewaktu aktif di ganto, jika ada kru yang minta surat izin atau surat keterang aktif di ganto, biasa sekretaris yang akan mengerjakannya. Surat yang biasa aku lihat dan aku temui hanyalah surat resmi. Disertai perihal, lampiran dan nomor surat. Namun kini, surat cinta berjenis surat tak resmi itu bikin daftar hal-hal yang dipikirkan Willis setelah urutan skripsi, laporan dan makalah.

Jika surat izin adalah surat yang berisi keterangan bahwa pemegang surat diberi izin untuk melakukan sesuatu seperti izin meninggalkan tempat kerja atau izin melakukan penelitian di suatu  tempat. Berarti surat cinta berisikan pemegang surat diberi izin untuk mencintai orang lain di luar dirinya.

“surat cinta, surat cinta, surat cinta”, Willis menyebutnya dalam. Diambilnya kertas putih, dan pena bertinta hijau. Dicobanya untuk memulai apa yang tengah diniatkannya. surat cinta buat Ariel”. “arrghhh…, aku tak bisa menuliskannya….!”

“aku tak biasa dengan pekerjaan seperti ini.  Jika ada dua kategori orang, pertama orang yang selalu menunjukkan perasaannya dengan cara apapun, dan kedua orang  yang selalu berusaha menutupi perasaannya. Akulah orang yang kedua itu. Bagiku apa yang kurasakan akan lebih member aku arti hidup jika hanya aku yang merasakannya dan aku saja yang memahaminya. Tak seorangpun aku yakini untuk bisa paham akan apa yang aku rasakan, meski aku tulis dalam sepucuk surat. Baik Ariel atau siapapun. Hanya aku yang tau sejauh apa cintaku padanya, hanya aku yang tau bagaimana cara aku mencintainya. Masing-masing kita punya cara sendiri untuk menunjukkan bagaimana perasaan kita pada pasangan masing-masing”

“sama halnya dengan orang yang keluar dari kamar mandi yang aku lihat tiap pagi di kosanku. Masing-masing punya cara sendiri bagaimana menunjukkan ekspresi mereka dalam berjuang. Iyus misalnya, mahasiswa asal pasaman ini pernah aku liat ke  luar dari kamar mandi dengan wajah yang cemas. Barangkalo ga lacar atau lagi munctrat. Atau kak Citra, anak baru yang ngekos di sini, selalu dengan wajah yang lega dan hembusan napas panjang ke luar dari kamar mandi. Ga tau apa yang terjadi di dalam sana, hanya tuhan yang tau. Tapi aku pernah dengar Ariel cerita, ritual pagi itu akan terasa nikmat jika ditemani dengan rokok. Huh…ada-ada saja. Memang masing-masing itu punya cara sendiri untuk melakukan dan menunjukkan”

Kemudian Willis kembali ke alam nyata, dan melihat kertas kosong yang ada di hadapannya. Yang selalu siap untuk dicoret dengan apapun. Kini kertas yang sedianya akan digoresnya untuk menjadi surat cinta dilipatnya, pena kembali ditutupnya. Barangkali belum saatnya aku menulis surat cinta buat Ariel. Sabar ya Ril…

4 thoughts on “Mikirin Surat Cinta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s