Sama dan Datar

“Mungkin kita pasangan yang berhasil memecah rekor MURI”, sela Ariel dalam perjalanan pulang mereka setelah malam minggu. Malam minggu yang sama dengan malam-malam sebelumnya. Bagi mereka tiap malam yang telah mereka lalui sama saja. Ga malam minggu, ga malam senin,mereka tetap mutar-mutar kota padang. Ariel dan Willis menamakan kegiatan kencan mereka dengan mengukur-ukur jalan. Tak ada yang berbeda dalam pacaran Ariel dan Willis, sama seperti waktu mereka teman dulu. Kalau dulu mereka sering jalan berdua, sekarang tetap seperti itu. Malahan bagi mereka tambah banyak yang ikut tambah asyik dibanding jika hanya jalan berdua. Tak ada yang berbeda, tak ada pegang-pegangan tangan, tak ada rangkul-rangkulan, apa lagi ciuman. Datar. Sama. Dan putih.

“Maksud kamu?” tanya willis heran.

“Ya, pasangan yang tiap malam jalan bareng. Siangnya dah ketemuan, malamnya juga mutar-mutar meski tak tau tujuan. Yang penting kita jalan.” Jelas Ariel.

“ha… ha…, ukur-ukur jalan….,” tanggap Willis. “takutnya kamu yang jenuh dengan hubungan seperti ini. Biasa saja dan datar.” Willis sering menilai kalau hubungan ini hanya biasa saja. Setelah dia tau bahwa hubungan teman-temannya dengan pasangan mereka lebih dari ini. Teman-temannya mengakui hubungan mereka itu adalah hubungan yang hangat. Ini sering membuat Willis berpikir, hubungannya dengan Ariel akan biasa saja, Willis tidak bisa bersikap lebih pada Ariel. Hanya perasaannya saja yang berbeda dari mereka sahabatan dulu.

Salah satu teman mereka pernah mengomentari hubungan mereka, ‘hubungan yang complecated’. Hubungan yang aneh, kalau mereka nilai. Masak ga ada perubahan dari mereka temanan dulu. Kalau lagi berduaan, ngomongnya masalah skripsi, ngomongin masalah di luar hubungan mereka. Atau kalau lagi jalan palingan nemanin Ariel nyervis computer. Lebih suka jalan bareng ma teman-teman yang lain. “kasih ariel kesempatan donk say…”, tutur salah satu teman mereka.

Ini membuat Willis berpikir,”emangnya orang yang pacaran ngomong apaan sich atau ngerjain apa gitu?”. “apa aku ga bisa pacaran ya…, sampai teman-teman bilang begitu,” bisik willis dalam hati sembari motor mereka menuju Air Tawar. “malahan ga akan menang jika kami ikut penilaian MURI. Pacaran aja ga becus, gimana mau menang?”

“jika ada penilaian MURI untuk pasangan bersih barangkali ada…”, Willis setengah tak yakin.

“kita belok kanan apa lanjut?”, seru Ariel dari depan.

“kita kanan aja”, bala Willis. “kalau lurus, nyampainya dimana?”

“Pasar Alai”, jawab Ariel.

“Ow….”, Willis mengangguk meski tak terlihat Ariel.

“Lurus apa kiri?”, tiga menit berlalu Ariel nanya lagi.

“Kiri nyampe di AKPER Siteba, kan?”, tebak Willis.

“ya!”, balas Areil.

“Kiri jalan coy…”, Willis ngasih instruktur.

Diam-diam Willis berpikir “apa dia harus aku perlakukan lebih dari yang biasa?”

Enam ratus menit berselang, mereka sampai di kosannya Willis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s