Apakah Cukup dengan Kesetiaan?

Hujan di awal Mei kali ini cenderung meminta manusia untuk berada di rumah. Selain untuk menghindari serangan flu yang sedang naik daun, juga keadaan alam yang semakin kurang bersahabat dengan manusia. Dimana-mana terjadi banjir dan tanah longsor. Ini membuat orang-orang berpikir dua kali jika ingin melakukan perjalanan, apalagi melewati daerah-daerah yang rawan longsor dan banjir. Suatu ketika, meski tidak sedang banjir atau longsor, curah hujan yang banyak bisa saja mengundang keduanya. Jadi memang diperkirakan betul kapan seseorang ingin melakukan perjalanan agar tak mendapat hujan. Ini bisa diprediksikan. Karena hujan biasanya tercurah ke bumi rata-rata setelah lewat tengah hari.

Seperti hari ini, hujan menyirami kota Padang sekitar setengah tiga sore. Ibu-ibu rumah tangga dan anak-anak kos telah siaga mengangkat jemuran mereka melihat langit yang terlihat mendung. Melihat kelam di mudik, selalu diperkirakan akan turun hujan. Begitu pula bagi orang-orang yang berada di luar rumah, mereka akan segera pulang atau masuk ke dalam ruangan.

Tak lama kemudian hujan memang menyentuh bumi. Awalnya romantis, tenang, menyejukkan dan membuat damai. Tapi hujan yang terus menerus, makin lama makin lebat membuat orang-orang khawatir. Takut banjir dan longsor lagi. Memang, pada hakikatnya segala sesuatu itu baik, namun jika berlebihan akan menjadi kurang baik, malah menjadi bencana. Termasuk hujan.

Hujan yang pada dasarnya sangat disukai Willis, ternyata tak selalu begitu. Hujan terus menerus yang memaksanya untuk selalu di rumah membuat dia benci hujan. Hujan yang menurut Willis bisa mengundang kenangan lama, kini membuatnya begitu gerah. Hujan kali ini membuatnya selalu di rumah dan di rumah, apa lagi sejak Willis hengkang dari kegiatan kampus baik yang akademik maupun kemahasiswaan. Willis merasa benaknya serasa mau kabur dari batok kepalanya jika hanya di rumah terus. Kebiasaan di luar rumah membuatnya tak betah berlama-lama berdiam diri, apa lagi di rumah. Meski banyak fasilitas yang akan digunakan Willis, tak satu pun bisa membuatnya betah di rumah. Buku satu rak penuh yang belum semuanya dibaca Willis, layanan tv tuner, akses internet unlimited, teman sekamar yang enak diajak ngobrol sampai ke orang-orang setengah gila di kosannya tetap tak membuat Willis bertahan. Willis cenderung suka jalanan. Karena membuatnya selalu bertanya apa saja yang ada di ujung sana.

Tapi ada satu hal yang Willis manfaatkan agar tetap bertahan. Ini hanya akan berhasil jika ada tanggapan dari orang yang diingini Willis. Sekarang ini, semenjak operator telpon seluler saling perang dan memerangin, ada banyak layanan yang memanjakan pelanggan. SMS gratis, telpon murah, internetan, RBT gratis sampai NSP gratis pertujuh hari. Dari tawaran yang memanjakan ini, Willis memilih SMS gratis untuk berdiskusi dengan teman-teman yang menjadi pilihannya. Mereka bicara apa saja. Gamblang. Menarik. Mengundang mereka membuka referensi. Ini bisa membuat Willis bertahan ketika Tia, Tuti, Sonya, Rocky dan Ronny kebetulan tidak sibuk. Namun ketika situasi dan keadaan mereka tak memihak pada Willis, Willis benar-benar kehilangan akal.

Seperti sore ini, SMS gratis masih terpakai 19 dari 100 SMS gratis perhari. Namun teman-temannya tidak menanggapi undangan Willis untuk berdiskusi. Mungkin weekend, atau tertidur karena hujan yang mengundang manusia untuk selalu berada dalam selimut. Willis mencoba bertahan dengan melirik ke rak buku bewarna kuning hasil kerja samanya dengan Ariel Februari lalu. Diambilnya satu buku yang berhasil dibawanya dari Gramedia tiga hari yang lalu, judulnya 3×4. Berisi nasehat untuk kepemimpinan. 3×4 berhasil membuatnya bertahan sejenak, kemudian Willis merasa benaknya terasa tersumbur ke luar dari batok kepalanya.

Diliriknya Ayu yang tengah asyik menikmati buku tiga perempuan sambil bermesraan dengan selimutnya. “Mau apa lagi ya?”, Willis menyunggingkan bibinya ke kiri dan ke kanan. Sepertinya mencari ide, apa yang akan dilakukannya, sedangkan hujan di luar masih berpacu dengan kilat. Seperti memotret suasana bumi ketika disiram hujan.

Kemudian tangannya yang berbalut sweater merah menggapai-gapai sesuatu di bawah bantalnya. Willis mencari hapenya. “Aku ajak Ariel ngobrol aja ah…”, sepertinya calon mantan mahasiswa s1 TP itu mendapatkan ide. Diketiknya sederet kata-kata yang kemudian dikirimkannya pada Ariel.

“PERTANYAAN YANG TAK HARUS DIJAWAB DALAM WAKTU DEKAT. HAL APA YANG HARUS AKU LAKUKAN, AKU MILIKI DAN AKU PEGANG AGAR KAU TETAP MENCINTAIKU”

“KESETIAAN MENJAGA HATI UNTUK MENCINTAIKU DENGAN SEGALA KEKURANGAN DAN KELEBIHANKU”

“KETIKA AKU PUNYA SETIA, BERAPA LAMA KAU BISA BERTAHAN MENCINTAIKU”

“SELAMANYA!”

“APA ITU CUKUP? HANYA JIKA AKU SETIA?”

“YA… KARENA KALAU ADA KESETIAAN, BERARTI KITA TETAP BERSAMA. DAN DENGAN KEBERSAMAAN ITU KITA BISA MELAKUKAN CITA-CITA BERSAMA. SEBAB BANYAK PASANGAN YANG HANCUR HUBUGANNYA KARENA TIDAK ADA KESETIAAN”

“APA KAU TIDAK MERASA TERGANGGU KETIKA AKU BERSIKAP DINGIN KEPADAMU, MANDIRI, BISA MELAKUKAN APA YANG BISA AKU LAKUKAN, DAN TAK BERSANDAR KEPADAMU?”

“MAKSUDNYA?”

“APA KAU MERASA TAK DIBUTUHKAN KETIKA AKU TAK MENGGANGGUMU UNTUK HAL-HAL YANG KAU RASA KAU BISA LAKUKAN UNTUKKU? APA KAU TIDAK AKAN MENGALAMI KRISIS EKSISTENSI SEBAGAI SEORANG SUAMI DAN BAPAK DARI ANAK-ANAK KITA KELAK? KARENA KAU PASTI TAU, AKU TAK SUKA MINTA TOLONG KETIKA AKU MERASA AKU BISA MELAKUKAN SEMUANYA. DAN AKU AKAN MENCOBA MELAKUKAN SEMAMPUKU”

“BAGIKU ITU TAK MASALAH. SELAMA ITU MEMBUAT KAMU LEBIH BAIK DAN TIDAK MENJADIKAN CELAH TIMBULNYA PENYIMPANGAN. ITU SAH-SAH SAJA. TAPI SEKARANG AKU MERASA, AKU YANG BERGANTUNG SAMA KAMU. APAKAH KAU TAK MERASA DIMANFAATKAN?”

“BUKANNYA DALAM HUBUNGAN ITU HARUS SIMBIOLIS MUTUALIS. KETIKA AKU TAK MENGUNTUNGKAN, KAU PASTI MENINGGALKANKU. BUKANKAH KITA BERADA DI SISI SESEORANG KETIKA KITA MENGUNTUNGKAN BAGINYA. BENARKAN?”

“APA MAKSUDMU INI MENGUNTUNGKAN DALAM ARTIAN TANDA MEMFAATKAN”

“DALAM APA SAJA”

“KENAPA KAU BERTANYA SEPERTI INI?”

“PERTANYAAN YANG MANA? DARI TADI AKU BANYAK BERTANYA”

“TENTANG KESETIAAN DAN APA YANG BISA MEMBUAT AKU BERTAHAN AGAR TETAP MENCINTAIMU”

“AKU BERTANYA, YA KARENA AKU MEMANG INGIN TAU. KETIKA ADA KESETIAAN YANG KAU KATAKAN TADI ADA PADA DIRIKU, KAU YAKIN KITA BISA SALING BERTAHAN. MESKI AKU BERSIKAP DINGIN, TAK BERMANJA KEPADAMU DAN BERUSAHA MELAKUKAN APAPUN TANPAMU. DAN AKU RASA, TIDAK HANYA KESETIAAN. MESKI KITASAMA-SAMA BELUM MENJALANINYA, AKU RASA KITA AKAN BERTAHAN KETIKA KITA TAK MEMBEDAKAN TUGAS MASING-MASING KITA. KETIKA KELAK KITA TERIKAT PERKAWINAN, KAU TAK MEMBEDAKAN ITU TUGAS ISTRI DAN INI TANGGUNG JAWAB SUAMI. TAK MEMBEDAKAN YANG MANA PEKERJAANMU DAN YANG MANA BEBANKU. MAKA KITA AKAN SALING BERTAHAN. MENURUTKU BILA BAGI TUGAS SEPERTI ITU ADA, KITA TIDAK AKAN BEKERJA SAMA. DAN AKU HARAP KITA ADALAH PASANGAN YANG SELALU BEKERJA SAMA. APAKAH KAU MAU SATU TIM DENGANKU DALAM MENJALANI HIDUP INI?”

“PADA DASARNYA AKU TAK BANYAK TUNTUTAN. KETIKA SESEORANG MENERIMA AKU APA ADANYA, MENCINTAI AKU DALAM SUKA DAN DUKA, AKU AKAN MEMPERTAHAN APA YANG MENJADI KOMITMENKU. SEPERTI YANG KAU KATAKAN KEPADAKU, DOA ITU ADALAH KOMITMEN. KETIKA KITA BERDO’A, SESUNGGUHNYA KITA SEDANG BERJANJI DENGAN TUHAN UNTUK BEKERJA KERAS MEWUJUDKAN APA YANG KITA SAMPAIKAN DALAM DO’A. DAN AKU SELALU BERDO’A AGAR KITA BISA BEKERJA SAMA”

“AKU BERTANYA SEPERTI INI, TAKUTNYA KAU AKAN MENGALAMI KRISIS EKSISTENSI DIRI DALAM DIRIMU KETIKA AKU BERSIKUKUH DENGAN KEMAUANKU. DAN TENTANG KESETIAAN INI MUNGKIN JUGA SEPERTI YANG KAMU KATAKAN, AKU RASA KESETIAN BISA DIPERTAHANKAN DENGAN TIDAK BANYAK TUNTUTAN. TERLALU BANYAK TUNTUTAN HANYA AKAN BERUJUNG PADA KEPENTINGAN PRIBADI. MEMBUAT KITA TIDAK MAMPU MENAMBAH KEDEWASAAN HUBUNGAN KITA. BISA JADI DENGAN BANYAK TUNTUTAN BISA MENGHANCURKAN HUBUNGAN.”

Kemudian obrolan itu terhenti. Dan mungkin sengaja dihentikan. Terbukti dengan balasan selanjutnya yang mengalihkan topik mereka. “MALAM MINGGU INI KITA KEMANA TAYANG…”, Ariel seperti mengalihkan. Dalam hati Willis membentuk pertanyaan baru. Apakah sikap kesetiaan itu harus ditunjukkan? Karena apa yang diniatkan di hati tidak akan diketahui orang lain ketika kita tidak menunjukkannya bahwa kita memang setia kepada pasangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s