Kunjungan ke Istana Pagaruyuang kali ini tak bisa menikmati berbagai koleksi dan kain hias yang ada di dalam istana. Istana yang dikunjungi kali ini belum selesai dibangun setelah kebakaran besar yang menghanguskan istana ini Februari lalu. Istana ini merupakan kebanggaan masyarakat Minangkabau. Karena istana Basa Pagaruyung ini bukti sejarah Kerajaan Pagarayung. Api yang meluluhlantakkan istana berasa dari sambaran petir. Atap dari ijuk ikut mempercepat api melalap semua bangunan dan isi istana yang terletak di Kenagarian Pagaruyung, 100 kilometer dari kota Padang, ibu kota Sumatera Barat, itu.

Informasi yang dihimpun koran dari lokasi kejadian, kebakaran yang menghanguskan Istana Basa Pagaruyung tersebut mulai terjadi sekitar pukul 20.00.
Sebelumnya, daerah setempat dilanda hujan yang diikuti angin kencang. Lalu, tiba-tiba petir yang menggelegar menyambar bagian puncak istana yang pernah menjadi tempat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima gelar Yang Dipertuan Maharajo Pamuncak Sari Alam pada 22 September 2006 dengan cepat.

Istana Basa yang terbakar itu sebenarnya adalah replika dari yang asli. Istana Basa asli yang terletak di atas Bukit Batu Patah terbakar habis pada sebuah kerusuhan berdarah pada 1804. Pembangunan kembali Istana Basa dilakukan dengan peletakan tunggak tuo (tiang utama) pada 27 Desember 1976 oleh Gubernur Sumatera Barat saat itu Harun Zain. Pada akhir 1970-an, istana tersebut dibuka untuk umum. Istana itu juga tercatat sebagai salah satu objek wisata yang paling banyak dikunjungi di Sumbar.

Di sekitar Istana Basa, ada banyak objek wisata unik, seperti kompleks pemakaman raja dan bangsawan Minang. Ada beberapa kompleks
makam dan yang paling terkenal adalah Kubur Rajo, sedikit di luar kota ke arah Padang Panjang. Kompleks makam bangsawan yang berada
dekat Istana Basa menampilkan batu nisan yang unik. Selain terbuat dari batu besar utuh yang berpahat, batu nisan itu mempunyai bentuk berdasar jabatan orang yang dimakamkan. Masih di dekat Istana Basa, ada sekelompok batu prasasti yang tidak hanya menceritakan sejarah Minang, tapi juga sepenggal sejarah Nusantara secara utuh.

Sejumlah pejabat dan tokoh penting pernah di-lewa-kan (dilantik) menerima gelar kehormatan adat Minangkabau di istana itu. Menurut Ketua Lembaga Adat Alam Minangkabau (LAAM) Kamardi Rais Dt. Panjang Simulie menyebutkan, pejabat dan tokoh penting yang pernah dilantik di Istana Basa Pagaruyung, antara lain, Raja Negeri Sembilan Malaysia Tuanku Ja’afar Bin Tuanku Abdul Rahman, Sultan Hamengkubowono X, Taufiq Kiemas (suami mantan Presiden Megawati), Megawati (ketika menjadi presiden), Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Anwar Nasution, dan terakhir Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono.

Istana Pagaruyungtelah dibangun kembali. Sebab, istana itu merupakan simbol-simbol penting dari sejarah Minangkabau dan Sumatera Barat. Jangan sampai simbol-simbol kita hilang karena kebakaran beberapa waktu lalu itu.

BATUSANGKAR – Istana kebanggaan masyarakat Minangkabau, Istana Basa
Pagaruyung, ludes terbakar tadi malam. Istana yang merupakan bukti
sejarah Kerajaan Pagarayung itu rata dengan tanah setelah api yang
berasal dari sambaran petir meluluhlantakkan bangunan yang sebagian
besar terbuat dari kayu tersebut. 

Atap dari ijuk ikut mempercepat api melalap semua bangunan dan isi
istana yang terletak di Kenagarian Pagaruyung, 100 kilometer dari
kota Padang, ibu kota Sumatera Barat, itu.

Informasi yang dihimpun koran ini dari lokasi kejadian, kebakaran
yang menghanguskan Istana Basa Pagaruyung tersebut mulai terjadi
sekitar pukul 20.00.

Sebelumnya, daerah setempat dilanda hujan yang diikuti angin
kencang. Lalu, tiba-tiba petir yang menggelegar menyambar bagian
puncak istana dengan cepat.

Menurut saksi mata bernama Andri, api awalnya membakar dua gonjong
(atap) istana yang menjadi tempat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
menerima gelar Yang Dipertuan Maharajo Pamuncak Sari Alam pada 22
September 2006.

Wakil Kepala Kepolisian Resort (Wakapolres) Tanahdatar Kompol
Diarsyah Darwis mengungkapkan, upaya pemadaman api terkendala
minimnya peralatan. Armada pemadam kebakaran yang dikerahkan dari
Batusangkar tidak ada yang dilengkapi dengan tangga. Akibatnya,
upaya pemadaman tidak bisa dilakukan dari jarak dekat. “Mobil
pemadam kebakaran dari Padang baru datang sekitar pukul 21.00 WIB,
ketika istana sudah ludes dan rata dengan tanah,” kata Diarsyah.

Istana Basa yang terbakar tadi malam sebenarnya adalah replika dari
yang asli. Istana Basa asli yang terletak di atas Bukit Batu Patah
terbakar habis pada sebuah kerusuhan berdarah pada 1804.

Pembangunan kembali Istana Basa dilakukan dengan peletakan tunggak
tuo (tiang utama) pada 27 Desember 1976 oleh Gubernur Sumatera Barat
saat itu Harun Zain. Pada akhir 1970-an, istana tersebut dibuka
untuk umum. Istana itu juga tercatat sebagai salah satu objek wisata
yang paling banyak dikunjungi di Sumbar.

Di sekitar Istana Basa, ada banyak objek wisata unik, seperti
kompleks pemakaman raja dan bangsawan Minang. Ada beberapa kompleks
makam dan yang paling terkenal adalah Kubur Rajo, sedikit di luar
kota ke arah Padang Panjang. Kompleks makam bangsawan yang berada
dekat Istana Basa menampilkan batu nisan yang unik.

Selain terbuat dari batu besar utuh yang berpahat, batu nisan itu
mempunyai bentuk berdasar jabatan orang yang dimakamkan. Masih di
dekat Istana Basa, ada sekelompok batu prasasti yang tidak hanya
menceritakan sejarah Minang, tapi juga sepenggal sejarah Nusantara
secara utuh.

Sejumlah pejabat dan tokoh penting pernah di-lewa-kan (dilantik)
menerima gelar kehormatan adat Minangkabau di istana itu. Menurut
Ketua Lembaga Adat Alam Minangkabau (LAAM) Kamardi Rais Dt. Panjang
Simulie menyebutkan, pejabat dan tokoh penting yang pernah dilantik
di Istana Basa Pagaruyung, antara lain, Raja Negeri Sembilan
Malaysia Tuanku Ja’afar Bin Tuanku Abdul Rahman, Sultan
Hamengkubowono X, Taufiq Kiemas (suami mantan Presiden Megawati),
Megawati (ketika menjadi presiden), Ketua Badan Pemeriksa Keuangan
(BPK) Anwar Nasution, dan terakhir Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono.

“Kita berharap Gubernur Gamawan segera merembukkan lagi pembangunan
Istana Basa Pagaruyung, seperti Harun Zain membangun dulu,” kata
Kamardi.

Istana Pagaruyung, lanjut Kamardi, harus secepatnya dibangun. Sebab,
istana itu merupakan simbol-simbol penting dari sejarah Minangkabau
dan Sumatera Barat. “Jangan sampai simbol-simbol kita hilang,”
tukasnya.

Gubernur Gamawan Fauzi yang masih berada di Jakarta tadi malam
mengaku terkejut dengan peristiwa kebakaran yang menghanguskan
Istana Basa Pagaruyung itu. “Tapi yang jelas, kita segera bicarakan
dengan pihak terkait, seperti LAAM dan pemuka-pemuka adat serta
kepala daerah di Sumbar. Yang pasti, istana itu harus segera kita
bangun,” tegasnya.

Sementara itu, Bundo Kanduang Sumbar Raudha Taib mengatakan,
kebakaran itu telah menimbulkan kerugian yang sangat besar. Sebab,
yang ludes tidak hanya istana. Seluruh candi dan kain-kain hiasan di
dalam istana juga ikut hangus. “Isinya candi dan kain-kain hiasan.
Kerugiannya sangat besar,” jelas Raudha ketika dihubungi koran ini
tadi malam.

Menyinggung apakah kebakaran itu merupakan pertanda tentang sesuatu,
dia tidak mau berkomentar. Raudha Taib hanya mengatakan, terbakarnya
istana tersebut

2 thoughts on “

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s