BENCANA UNTUK SOLIDARITAS

Stunami, banjir, gunung meletus, badai, dan gejala alam lainnya kini datang silih berganti menghampiri manusia. Dengan adanya gejala-gejala seperti ini, ada yang berpikiran kalau kejadian ini adalah kutukan. Seperti yang banyak kita dengar, bahwa bencana yang melanda bangsa kita ini karena pemimpin negaranya. Atau sebagian yang lain malah memilih untuk percaya pada tukang peramal bahwa dunia ini akan segera berakhir.

Masing-masing orang memang punya pandangan berbeda terhadap bencana. Apapun itu, alam tak dapat disalahkan, pemimpin tak dapat pojokkan, peramalpun apalagi. Semua itu tergantung pada apa yang mereka pikirkan dan sampai dimana mereka mampu untuk berpikir.

Bencana itu adalah realitas. Banyak hal yang akan timbul jika bencana datang menyapa manusia dan alam. Bencana bisa menyentuh moral, religius, dan mentalitas. Seperti orang yang melihat bencana ini sebagai kutukan. Atau yang punya pikiran bahwa ‘bencana melanda negeri kita karena kita punya banyak dosa’. Di sisi lain, bencana dapat dipandang sebagai moment untuk menumbuhkan solidaritas. Jadi bencana alam tetap sebagai sebuah realitas yang biasa dan akan tetap ada. Namun yang berubah itu adalah cara kita memandang bencana.

Bencana bisa menyadarkan manusia.. Dengan adanya bencana, manusia bisa merefleksikan diri dihadapan alam sebagai bagian yang kecil. Selama ini, tanpa bencana, manusia jarang atau bahkan sama sekali tidak mengambil jarak dari sebuah kenyataan untuk merefleksikan dirinya. Terkadang manusia larut dan tenggelam dalam ketidaksadarannya akan bagian yang kecil dari alam.

Dengan hal seperti ini, juga tidak bisa dikatakan bahwa manusia itu tidak memiliki kesadaran. Karena dibalik semua bencana alam, manusia menyadari bahwa ia tak berdaya, ia terbatas. Mengapa? Karena setiap terjadi bencana, manusia si mahkluk yang penuh dengan keterbatasan meminta pertolongan pada Tuhan yang Maha Tak Terbatas. Dengan menyebut-nyebut namaNya. Atau sebesar apapun pengetahuan manusia, dengan teknologi tinggi sekalipun untuk meramal alam, alam punya logikanya sendiri. Alam milik yang Maha Tak Terbatas, maka manusia harus menyadari keterbatasannya itu.

Bencana hanya merupakan perubahan alam untuk tetap bertahan sebagai alam. Bencana hal yang biasa. Yang perlu kita tanamkan adalah bahwa sesuatu itu bertahan dengan cara berubah. Perubahan cara pandang kita terhadap bencana. Perubahan alam dengan gejala-gejalanya, untuk bertahan dan membentuk sistem baru. Dan yang perlu kita renungkan adalah, apakah harus ada bencana untuk menumbuhkan solidaritas manusia terhadap sesamanya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s