Pencuri Kelas Kakap

“Ganyang Malaysia,” satu dari banyak status di facebook yang fecebooker tulis saat Indonesia bertarung melawan Malaysia di lapangan sepak bola awal Desember lalu. Sekilas menanggapi status tersebut, saya pikir ada keputusan untuk menyatakan perang dengan Malaysia. Eh ternyata ini soal bola.

Gayang Malaysia sebuah istilah yang dilahirkan oleh Bung Karno. Presiden pertama Indonesia ini pada tahun 1963 sangat gusar dengan demonstrasi anti-Indonesia di Kuala Lumpur. Demonstran menyerbu gedung KBRI, merobek-robek foto Bung Karno. Kemudian Bung Karno membawa lambang Garuda Pancasila ke hadapan Perdana Menteri Malaysia, Abdul Rahman dan memaksanya menginjak lambang Garuda tersebut.

Kemudian ganyang Malaysia kembali mengapung saat Malaysia mengklaim pulau Ambalat sebagai salah satu wilayah bagian mereka. Diikuti juga dengan mengklaim beberapa kekayaan Indonesia sebagai kekayaan Malaysia.

Mengapungnya kembali semangat gayang Malaysia terlihat dari beberapa unjuk rasa yang menentang Malaysia mengenai masalah perbatasan yang muncul dibanyak tempat di Indonesia. Pola unjuk rasa yang umumnya terdiri dari generasi muda ini dilakukan dengan membakar bendera Malaysia sekalian menuntut agar pemerintah Indonesia bersikap tekas atas sikap Malaysia. Pengunjuk rasa tidak setuju dengan sikap Malaysia yang seolah menganggap harga diri dan kedaulatan bangsa Indonesia bisa diinjak oleh Malaysia.

Pasca Malaysia mengklaim kekayaan Indonesia itu, pengunjuk rasa dan banyak warga negara lain menuntut agar Indonesia kembali mengganyang Malaysia seperti pada tahun 1963. Menanggapi perlakuan Malaysia waktu itu, kepala rakyat Indonesia seperti dihinggapi kutu rambut yang semakin beranak pinak. Gatal, panas dan gerah. Ganyang Malaysia menjadi topik pembicaraan mulai dari pusat informasi nasional; media cetak non cetak nasional, sampai pusat informasi terkecil di kalangan masyarakat; warung dan lapau kopi.

Kata ganyang Malaysia seperti melecut semangat nasionalisme rakyat Indonesia. Dengan menganyang, seolah Malaysia memang harus dikasih pelajaran. Karena mengambil sesuatu yang bukan hak Malaysia.

Lebih tepatnya mencuri. Kesalahan paling besar itu adalah mencuri. Semua dasar kejahatan mengandung unsur mencuri. Membunuh berarti mencuri hak hidup seseorang. Menyakiti, berarti mencuri hak seseorang untuk bahagia. Membajak, berarti mencuri hak penghargaan dan perlindungan atas hasil karya seseorang. Memukul, berarti mencuri hak seseorang untuk merasa hidup nyaman dengan diri mereka. Mencuri adalah dasar dari semua kesalahan.

Dan Malaysia melakukan itu semua. Pencurian. Tahun 1963 mencuri hak atas harga diri Indonesia dan Bung Karno. Tahun 2009 lalu mencuri hak atas kekaayan seni Indonesia dan mencuri kepemilikan Indonesia terhadap pulau Ambalat. Dikhawatikan akhir Desember 2010 ini, Malaysia juga akan mengklaim gol Indonesia di gawang mereka. Guyonan ini juga pernah hangat di facebook dalam status-status pecinta sepak bola.

Namun di laga final piala AFF antara Indonesia dan Malaysia yang akan digelar 26 Desember, Malaysia yang akan memberi pelajaran pada Indonesia. Jauh hari sebelum laga final itu berlangsung, aura panas dan perang kata-kata sudah terjadi di dunia maya. Baik pihak Indonesia atau pun Malaysia menebar topik-topik yang memancing emosi dan rasa geli. Misalnya Malaysia, suporter Malaysia akan menghina lagu kebangsaan Indon di kanal Malaysia 26.12.2010. Indon adalah panggilang buruk Malasysia terhadap Indonesia yang kira-kira seperti kalimat pelecehan. Ancaman ini entah karena Malasyia dendam kepada suporter indonesia yang menyoraki pemain mereka saat menyanyikan lagi kebanggsaan Malaysia. Karena ada komentar Malaysia yang dengan jelas menyebutkan bahwa Malaysia sudah merasakan bagaimana lagu kebangsaan mereka dihina pada hari pertandingan berlangsung. Mereka juga ingin Indonesia juga merasakan bagaimana lagu kebangsaan mereka juga dihina secara langsung dan disaksikan oleh jutaan rakyat Indonesia lain.

Menganggapi ancaman itu, Indonesia juga tak mau kalah dengan membalas bahwa rakyat Indonesia juga akan melakukan hal yang sama pada tanggal 29. Dan banyak komentar lain yang sambung menyambung saling mengejek satu sama lain. Seperti masalah komentar Malon tentang Irfan Bachdim yang mengemis minta jadi warga negara Malaysia, namun ditolak. Ditanggapi Indonesia, kenapa Malon tidak mengambil Christiano Ronaldo sebagai warga negara Malon atau maling saja kemenangan Indonesia?

Situasi antara kedua belah pihak semakin panas. Sampai Rabu (22/12) terdengar ancaman Malaysia akan membakar Bendera Merah Putih di hadapan rakyat pada pertandingan nanti. Malon, Malon. Apa maumu? Mau bakar bendera kebangsaan kami? Bakar saja. Dengan kalian membakarnya, semangat pemain kami tidak akan surut malah berkobar seperti api yang kalian nyalakan untuk membakar Bendera Merah Putih. Tak akan goyah semangat rakyat untuk negara Indonesia, tak kan goyah pula semangat pemain Indonesia tanpa penonton. Karena niatnya Astro memonopoli tayangan langsung Liga Inggris, sebuah televisi berbayar yang berbasis Malon berencana mencuri hak orang Indonesia untuk menonton tayangan langsung Liga Inggris.

Malon, Malon. Tidakkah kau bisa berhenti untuk menjadi pencuri?

One thought on “Pencuri Kelas Kakap

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s