“Kapan Pulang Nak?”

Menangis karena rindu tak membuat Willis nekad melakukan apapun demi melepaskan rindu. Tak seperti sepasang kekasih yang dilanda asmara ketika rindu akan pasangannya, mereka rela melakukan apa saja demi bertemu dengan belahan jiwa. Namun lain bagi Willis. Dia tak melakukan hal seperti itu atau macam hal gila lainnya. Bahkan kali ini Willis punya kesempatan besar untuk bertemu dengan kedua orang tuanya. Melepas kerinduan Willis, pun juga dengan kedua orang tuanya. Mereka juga sangat merindui Willis. Beberapa kali tangis Willis pecah ketika orang tuanya menelpon menanyai, “kapan pulang Nak?”

Ketiga bagian jiwa itu kini memang saling merindu. Bukan hanya Willis yang kangen dipeluk ibunya atau mencium punggung ayahnya yang mulai keriput. Kedua orang tua itu juga mengingini bertemu dengan anaknya. Namun selama ini mereka tak bersikeras untuk meminta Willis pulang ke rumah. Kata ‘memahami’ lebih sering melekat dalam benak mereka untuk saat ini. Memahami kesibukan Willis. Memahami cita-cita Willis. Memahami impian Willis. Memahami apa yang juga menjadi impian mereka yang mereka harapkan dari Willis. Lebih tepatnya ini adalah sebuah perjuangan. Perjuangan melawan rindu. Demi kehidupan yang lebih baik.

Semua ini bisa saja untuk sementara waktu. Suatu saat mereka akan berkumpul lagi seperti sedia kala. Kembali pada masa bahagia lagi dimana setiap bagian saling memahami, saling menghormati dan tentu saja saling mendukung. Di rumah tua itu tentu saja. Namun kemungkinan lainnya mereka juga tak akan pernah ke masa itu. Mana ada masa lalu yang terulang lagi. Bisa saja mereka terpisah karena jarak semakin jauh. Atau terpisah ruang barangkali dan tak akan pernah bertemu lagi. Tak akan ada saat-saat dimana bagian dari keluarga itu menjadi satu kembali, saling memahami, slaing mendukung, ataupun  untuk saling mencintai dan menjagai satu sama lainnya. Siapa yang tau kesempatan hidup di dunia ini sampai kapan. Tak ada yang tau tentang hal itu selainNya?

***

Senja itu Willis punya kesempatan untuk menemui orang tuanya karena Willis sengaja datang ke kota dimana orang tuanya berada. Tapi hal bodoh yang dilakukan Willis adalah tak melakukan hal itu sama sekali. Tak memanfaatkan kesempatan yang ada, menemui orang tuanya. Keinginan di hati sangat besar, namun beberapa alasan mempengaruhi Willis untuk tidak mengunjungi orang tuanya.

Hari itu Sabtu, 9 April. Willis dan Ariel datang ke kota tempat Willis tumbuh dan berkembang menjadi remaja untuk menghadiri pesta pernikahan sahabatnya di ruang putih abu-abu. Sebagai bukti persahabatan Willis dengan Itis, dengan kegiatan Willis yang super padat, Willis berusaha hadir pada acara dimana sahabatnya itu menjadi ratu sehari. Selamat tentu saja tertuju pada sahabtnya itu.


Bobi & Itis

Rulfia

Rute perjalanan Willis dan Ariel melewati rumah Willis. Tepatnya rumah orang tua Willis. Namun mereka tak berucap salam pun ke rumah itu. Mereka hanya sekedar lewat. Namun dalam hati Willis minta maaf pada Tuhan karena tak mengunjungi orang tuanya. Beribu ampun Willis aturkan pada tuhan, berimu maaf Willis kirimkan lewat angin malam. Berdoa orang tuanya dalam keadaan baik-baik saja. Sementara itu, bibirnya tampak komat kamit. “Ya Allah. Maafkan aku. Aku bukan kualat dan tak menyanyangi mereka. Tapi aku tak bisa melakukannya”, kalimat itu berulang kali Willis lafazkan di hatinya. Air matanya mulai menggenang. Namun dicobanya untuk menahan.

Willis memilih menangguhkan pertemuannya dengan kedua orang tua yang mendidik dan membesarkannya itu lagi. Willis tau, dengan bertemu dengan kedua orang tuanya, rindu yang belakangan menyesak di dada akan berkurang, tapi Willis tak sanggup untuk melihat kekecewaan di mata orang tuanyanya ketika mereka tau apa yang dilakukan Willis. Selama ini, ayah dan ibu Willis kurang suka dengan kebiasaan Willis yang suka melakukan perjalanan jauh naik kendaraan roda dua. Seperti orang tua lainnya, mereka mencemaskan keselamatan dan keburukan yang diperolah dengan meneruskan kebiasaan itu. “Resiko di jalan pasti ada. Meski mematuhi aturan dan tidak ugal-ugalan, pengguna jalan lainnya belum tentu melakukan hal yang sama. Makanya jika bukan kita yang menyenggol orang lain, maka orang lain yang akan menyenggol kita ”, nasehat ayah Willis suatu hari di rumah mereka.

Tapi Willis terpaksa melanggar. Membohongi diri sendiri dan orang tua. Selama ini orang tua Willis memang tidak tau kalau Willis tetap menjaga kebiasaan itu. Willis pun tak pernah melaporkan apa yang masih tetap dipertahankannya. Willis beranggapan, selama niatnya baik, atas ijin tuhan balasan yang didapatnya juga berupa kebaikan.

***

Dalam perjalanan kembali ke kota yang dicintai willis, Willis masih mengingat-ingat kelakukannya. Minta maaf. Minta ampun. Minta maaf lagi. Minta ampun lagi. Maaf lagi. Ampun lagi.

Perjalanan Willis kali ini menuju kota yang dicintainya terasa jauh. Dingin semakin menusuk. Hujan semakin mencekam. Gelam semakin menghimpitnya. Air matanya pun bersatu dengan air hujan. Matanya merah. Entah karena menangis, entah karena air hujan. Hidungnya mengeluarkan lendir. Entah karena menangis, entah karena hujan. Sungai di tebing pipinya semakin deras. Entah karena ait mata, entah karena air hujan. Namun Willis puas. Dia menangis sepanjang perjalanan. Tak taku ketauan Ariel. Karena dia sibuk dengan kendaraannya. Dan air di wajahnya juga semu. Antara air mata dan air hujan.

2 thoughts on ““Kapan Pulang Nak?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s