Pulang ke Rumah

Udara malam ini bercampur aroma kakao yang lembut. Sesekali tercium, dan di lain waktu hanya aroma ruang. Aroma pengharum ruangan dan aroma beberapa kosmetik. Aroma kakao yang sampai ke kamar dibawa angin malam. Meski pintu ditutup rapat dan dikunci, angin dengan keberadaannya yang bisa melalui lubang sekecil apapun dan memenuhi wadahnya masih dapat mengayun-ayun di dalam kamar ibu Willis.

Ya, malam ini Willis tidur dengan ibunya. Setelah menahan rindu sekian lama, akhirnya Willis dapat melepaskan sesak di dadanya. Bukan saja saat menahan rindu Willis menangis, mencium tangan ibunya yang mulai keriput dan berbintik-bintik hitam sesaat sampai di rumah tadi sore, Willis menyimpan air mata di sudut matanya. Diciuminya tangan yang merawatnya sedari kecil hingga bisa mandiri seperti sekarang. Mengucap salam dan bertanya kabar. Willis bertanya sambil memalingkan wajahnya. Pura-pura sibuk dengan bawaannya. Oleh-oleh untuk orang di rumah. Dalam kesibukannya mengobrak-abrik bawaannya, Willis menyapu air bening di sudut matanya. Dia tak ingin si ibu tau kalau Willis sedang menangis. Beberapa diletakkan di atas meja. Dan undur diri ke kamar untuk ganti pakaian.

Terlihat ibu Willis tak tertarik dengan bawaan Willis. Ibu Willis bersegera ke belakang. Dia terlihat menunduk dan berjalan tergesa-gesa. Tangan kanannya menyapu wajahnya dengan ujung selendang. Ibunya juga menangis.

Barangkali keduanya sama-sama tau. Keduanya sama-sama menangis. Tapi entah apa yang membuat mereka mengelak dan menyembunyikan perasaan yang tengah dirasakan.

“Maaf Ma, aku baru bisa pulang”, ucap Willis lunak sambil berlari ke kamar. Ucapan yang tak terdengar oleh ibu tentunya. Di kamar Willis menangis lagi sembari menatap cermin. “Aku pulang. Aku pulang. Aku pulang,” ucapnya. Seperti tak yakin dengan keberadaannya sekarang. Akhirnya Willis bisa pulang karena guru kontrak di sekolahnya diliburkan selama siswa kelas XII melaksanakan Ujian Nasional.

Willis duduk di kasur empuknya. Kemudian memeluk Santiago. Boneka pemberian Tuti saat hari lahirnya yang ke 23. 24 Mei 2010 lalu. Willis dan Tuti sepakat memberi nama boneka itu dengan Santiago. Tokoh dalam buku the Alchemist yang saat itu baru saja mereka baca. Santiago berada di rumah orang tua Willis sejak Willis wisuda Oktober lalu. Karena di Padang Willis punya Buluk, jadi kalau di rumah punya Santiago.

“Tut, aku juga kangen”, bisiknya pada Santiago.

***

Santiago tetap dalam pelukan Willis sampai azan Magrib berkumandan. Panggilan menghadap ilahi terdengar mengalun dari mesjid dekat rumah Willis. Sayang, Willis dalam masa tak suci. Namun Willis tetap bersegera ke belakang menemui ibunya.

“Mama ke mesjid?”, tanya Willis pada ibunya yang tengah mengambil mukenah di mushala keluarga.

“Yuk, barengan”, balas ibu Willis.

“Lagi cuti Ma,” jawab Willis singkat.

Dengan sigap ibu Willis menghilang di balik senja. Sedangkan Willis tinggal seorang diri. Willis menyelesaikan barang-barang yang masih berserakan. Kemudian membersikan diri dan menyiapkan makan malam.

***

Sepulangnya ibu Willis dari mesjid, tak banyak hal yang mereka lakukan. Ibunya menyuruh Willis makan malam sendiri karena ibunya akan menghadiri kenduri ‘dunsanak’, “Makan saja dulu, mama ke rumah Sutri sebentar. Alhamdulillah dia sudah mendapatkan jodohnya”.

“Yup!”, balas Willis singkat.

“Malam ini kita tidur dimana?”, tanya ibu Willis singkat.

“Atas sajalah. Tapi mama jangan lama-lama ya, aku takut sendiri di rumah. Dan kalau Willis ketiduran di kamar, bangunin aja ya Ma,” jawab Willis sambil tangannya sibuk mencari apa yang bisa dimakan.

Willis sendiri lagi.

***

“Lis bangun. Yuk ke atas”, ibu membangunkan Willis.

Ternyata ibunya sudah pulang. Rasa malas bangun membuat badan Willis sulit digerakkan. Dingin menusuk tulang. Mata yang perih karena hampir dua malam belakangan rata-rata jam tidur Willis hanya dua jam. Demi menghormati ibunya, Willis berusaha bangun dan pindah ke kamar ibunya. Dia langsung berbaring. Ibu pun begitu.

Setelah diselimuti ibunya, Willis tersentak dan matanya terbuka di tengah gulitanya kamar karena listrik dipadamkan PLN. Rasa ngantuk Willis hilang ketika membauni aroma khas ibunya. Aroma yang selama ini menyertai kebersamaannya dengan ibu. Teringat bagi Willis kalau sekarang dia berada di rumah. Bukan di Maninjau. Karena rasa dingin dua tempat ini sama saja. Sama-sama mengundang malas. Sama-sama memelihara setan dalam diri untuk selalu menjaga malas. Bukan dingin angin malam yang mengandung setan. Tapi setan itu berada dalam diri manusia.

“Apa saja agenda mama hari ini?”, tanya Willis membuka pembicaraan.

“Capek benar badan ini. Dari jam sembilan pagi hingga jam lima sore hanya duduk di mesjid. Ada lomba yang diadakan oleh mahasiswa KKN (Kuliah Kerja Nyata) dari IAIN. Jadi mengawasi anak-anak yang diutus dari sekolah. Bagi mama, rasanya badan ini akan sangat capek ketika hanya duduk dan berdiam diri saja. Berbeda kalau mama melakukan agenda seperti biasa. Setelah Subuh ngontrol sawah, paginya ke sekolah, siangnya ngajar MDA, sorenya ngontrol kebun, malamnya wirid di mesjid. Itu terasa lebih cocok bagi mama ketimbang menimpakan berat badan pada sebuah kursi atau lantai,” jelas ibu Willis.

“Oh, ada mahasiswa KKN ya?”, pertanyaan yang tak terlalu penting. Tetapi hanya itu yang muncul di benak Willis ketika ibunya berhenti bercerita.

“Ada ketemu papa dan Riri?”, ibu mengalihkan pembicaraan.

“Tidak. Sudah usaha sih, tapi belum beruntung. Willis nungguin papa di pull bus dalam kota. Hampir dua jam malah menunggu sejak papa bilang akan berangkat dari Bukittinggi. Karena niat Willis nungguin papa dan Riri, Willis pesan tiket untuk pulang ambil tranek nomor 4. Tranek kan brangkat sekali tiga puluh menit. Saat Willis perkirakan papa sudah sampai perbatasan Padang Pariaman dengan kota Padang, eh papa ngasih kabar kalau SAN nya gak masuk kota. SAN hanya lebat bypass. Barangkali gak ada penumpang dalam kota Padang. Makanya SAN langsung ke pull di Lubuk Begalung. Karena papa gak masuk kota, Willis langsung pulang aja,” jelas Willis.

“Padalah Riri kangen banget sama kamu. Sebelum berangkat saja dia ngomong, ‘Ri dan Papa ke Bengkulu, eh uni malah pulang ke Payakumbuh’,” kenang ibu Willis mengingat pagi tadi sebelum keberangkatan anak bungsunya dengan sang suami menuju tempat anak sulungnya di Bengkulu. Kini tiga anaknya tak lagi intens berjumpa layaknya masa kecil. Anak sulung di Bengkulu, anak keduanya di Padang dan anak ketiganya, Riri menyewa rumah di kota Payakumbuh. Meski baru usia SMA, tapi keputusan untuk menetap di area sekolah dengan pertimbangan kesibukan dan menghemat waktu.

“Willis pun sebenarnya mau ikut sama Papa, tapi mengingat sudah lama tak pulang. Baiknya Willis balik ke Payakumbuh, skalian menemani mama. Dari pada mama sendiri di rumah,” balas Willis sambil meletakkan keningnya di bahu ibunya.

“Ma, udah lama kita gak jumpa ya? Kangen,” aku Willis dengan suara serak.

“Iya. Makanya kalian jaga diri di sana. Kami pun di sini juga jaga diri. Coba kalau terjadi apa-apa sama kami, siapa yang akan ngurusin? Kalian sudah pada jauh. Ntar kalau kami sudah tak ada lagi, siapa yang akan menyaksikan kesuksekan kalian dalam meraih hidup?”

“Maaf ya Ma, kami terlalu sering dan terlalu lama meninggalkan Mama dan Papa”

“Makanya, cepatlah kalian jadi orang. Ntar kami keburu tak ada”

“Do’akan saja Ma. Apa yang Willis lakukan sekarang untuk masa depan yang lebih baik”

“Selalu. Tanpa Willis minta pun, setiap langkah dan setiap hembusan nafas mama menjeput rezeki, terkadung do’a untuk kalian di dalamnya. Jangan kalian sia-siakan harapan Mama dan Papa”

“Mama dan Papa jangan cepat-cepat pergi ya. Tunggu kami jadi orang. Biar mama dan papa bangga punya anak seperti Uda, Lis dan Riri. Akan kami buktikan kalau mama dan papa telah berhasil menjadi orang tua yang baik”

“Kita sama meminta pada yang satu ya Nak”

Kemudian mereka hening dalam waktu yang lama. Sang ibu melantunkan do’a dan mengirimkannya lewat angin malam. Dia berharap agar harapan-harapannya terhadap tiga buah hatinya dapat didengar seluruh lakon malam ini. Agar lelakon malam ini menjadi saksi dan turut mendorongnya untuk tetap kuat menjemput rezeki dan menyaksikan kesuksekan anaknya. Sedangkan Willis terlelap dengan sungai kecil di tebing pipinya yang berjerawat.

One thought on “Pulang ke Rumah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s