Badai yang Indah

Pagi yang indah meski badai kuat enggan meninggalkan kota Padang. Sebelum Subuh menjelang, angin yang memiliki kekuatan lebih besar dari biasanya membangunkan Willis. Saat diliriknya telepon genggam yang baru saja ditariknya dari bawah bantal, jam baru menunjukkan 04.30 WIB. Willis menarik  selimut yang sudah berada di bagian bawah kakinya kemudian membungkus tubuh mungilnya itu dalam kain tebal berwarna hijau. “Alhamdillah ya Allah. Kau jadi pelindung pertamaku dan bilik kecil plus selimut ini menjadi pelindung kedua dari dinginnya angin badai. Semoga Kau jga berpihak pada saudara-saudaraku yang belum memiliki tempat yang layak”, mohon Willis pada sang Pelindung. Teringat baginya ketika menginap di rumah seorang teman yang rumahnya kebanjiran karena banyaknya atap rumah yang bocor. Tidur dalam sibuknya bunyi dentagan air yang jatuh ke wajan.

Baru lima menit berselang, pesan singkat masuk dari nomor berlabel Kumbang ke telpon gengam Willis, “Badai…”

“Iya!”, balas Willis singkat. Namun tersenyum memerhatikan pesan dari Kumbang alias Ariel. Bagi kumbang barangkali pesan itu hanya sekedar menyampaikan pesan bahwa ada badai. Tapi bagi Willis banyak tafsiran terhadap pesan dari Ariel. “Badai…”. Dalam pesan singkat itu Ariel menambahkan tiga buah titik di akhir kata badai. Apakah Ariel meneriakkan badai dengan sangat panjang atau menyebutkan kata badai dengan nada biasa namun berkurang diujungnya karena sudah mengantuk. Entahlah. Ariel memang selalu tak memerhatikan penggunaan tanda baca. Sudah berulang kali Willis mengingatkan, Ariel tak kunjung memperbaiki.

“Terima kasih Kum”, bisik Willis. Kantuk Willis lenyap setelah sekejap mencandai pesan singkat Ariel. Disingkapnya selimut berdasar handuk itu, kemudian Willis beranjak menuju kamar mandi. Dibasuhnya muka yang berminyak dengan air wudlu, dan menunaikan shalat sunnat fajar. Dua raka’at Shalat Fajr lebih baik dari pada dunia dan seisinya. Karena itu, jika seorang muslim telah mengetahui betapa besar nilai pahala shalat fajar, maka selayaknya dia untuk senantiasa menjaganya.

Setelah melakukan dua raka’at Fajar, sambil menunggu azan Subuh Willis menyalakan lenovo kesayanganya dan langsung menghubungkan ke internet. Kemudian melakukan ritual seperti biasanya. Mencek email masuk, mencek komentar baru di blog, melihat kabar teman-teman di jejaring sosial. dan tak lupa mengunjungi dinding Fadh Djibran. Penulis idolanya. Sosok yang menjadi contoh baginya dalam dunia tulis menulis. Setiap tulisan Fadh selalu menjadi inspirasi dan motivasi bagi Willis untuk menulis. Dan pagi ini pesan terbaru yang ditancapkan Fadh di otak Willis bahwa menulis itu adalah kesadaran sejarah. Yang disebut Fadh sebagai dendam sejarah. Menurut cerita Fadh ini karena dia tau apa yang dipikirkan Soekarno sewaktu Soekarno muda, tetapi tidak tau apa yang dipikirkan kakeknya ketika kakeknya muda. Mereka tak sempat bertemu, kakaknya meninggal sebelum kakeknya sempat bercerita banyak tentang masa mudanya. Dan Fadh tidak mau anak cucunya dan orang-orang terdekatnya lebih mengenal orang lain ketimbang kakeknya sendiri yang jelas-jelas telah menyumbangkan dan mewariskan gen kehidupan. Karena itulah Fahd menulis. Dia tak mau hilang dalam sejarah.

Dan pagi ini Willis lebih tau banyak tentang Fahd dalam video di dinding Fadh (youtube)

Terima kasih Fahd!
Meski badai menyerang kotaku pagi ini, tapi kau menghembuskan dan menularkan sesuatu yang indah. Sesuatu yang bermanfaat. Hingga aku merasa disentuh hangatnya mentari pagi. Sehangat semangat menulis dalam dirimu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s