Pikiran-Pikiran Menunggu Bedug Magrib

“Jika ada kontes mencari menantu, dan pada kontes itu seandainya para orang tua mencari pasangan untuk anaknya dengan indikator pandai memasak, apa ada orang tua yang akan acung tangan memilihku. Yang akan bangga punya mantu tak pandai masak. Pufffhhh…”

Beberapa waktu setelah mendapat kabar dari temannya yang mengabari calon adik iparnya bisa masak, sejenak Willis evaluasi diri bagaimana kemampuannya dalam memasak. Sesuatu menyentak-nyentak pikiran Willis. “Apa ada yang bisa menerimaku yang tidak pandai memasak?”

Tak seperti perempuan kebanyakan. Willis selalu angkat tangan dengan hal masak-memasak. Perempuan berperawakan kecil itu bisa memasak, bisa mengolah bahan masakan tapi untuk rasa dia nyerah. Karna seperti redaksi iklan pada sebuah iklan kecap, karna rasa tak pernah bohong.

Memasak mungkin berhubungan dengan kebiasaan, tak ada hubungan dengan bakat. Dengan kebiasaan memasak, si pemasak bisa menakar dan merasa-rasai apa yang tengah diolah. Karna dengan kebiasaan selain mengenal keajaiban bahan-bahan yang bisa diolah, juga membiasakan insting memasak. Seperti takaran penyedap dalam setiap masakan, tak pernah ada takaran pasti. Akan selalu dengan kata ‘secukupnya’.

Pembiasaan itu memang tak Willis peroleh sejak dia mengenal rasa enak-manis-asam-pahit. Faktor nge-kos menjadi salah satu alasan, kenapa tidak. Willis sudadikoskan orang tua semejak menamatkan SD. Seperti anak kosan lainnya, yang dimasak hanya nasi. Itu pun menggunakan mesin penanak nasi. Air pun tinggal memesan galon. Dan untuk makan tinggal beli lauk-sambal-gulai di warung nasi. Semua akan tersedia di warung-warung nasi terdekat dengan kawasan anak kos.

Selain kebiasaan yang barangkali tertular dari orang sebelumnya yang kos di tempat yang sama –karena jika orang sebelumnya hanya mengandalkan warung nasi maka anak baru juga akan mengikuti kebiasaan tersebut- kebiasaan mengandalkan warung nasi juga perhitungan ekonomis bagi anak-anak kos. Hasil survey dari ratusan pengakuan mahasiswa mengatakan mengandalkan warung nasi untuk memenuhi kebutuhan makan lebih murah dibandingkan dengan masak sendiri. Belum beli bahan, beli alat dan kelengkapan lain.

Lain lagi bagi mahasiswa yang serba sibuk. Berada di kos ketika mentari menyuruk di ufuk barat, atau setidaknya menggunakan kos sebagai tempat menitikan baju-buku dan numpang mandi. Tipe anak kos seperti ini pastinya tak punya waktu untuk memasak dan akan menggantungkan kebutuhannya pada warung nasi.

Untuk beberapa hal dengan sampel random, pandai memasak tidak bisa dijadikan sebagai penilaian senang atau tidak senang dengan si pelaku. Apalagi untuk indikator pemilihan menantu. Banyak kemungkinan kenapa seseorang tak bisa memasak. Kebiasaan-kesibukan-kemampuan (ekonomi).

Arrrgghhhh…

Willis tersentak dari pikiran-pikirannya. Macam pikirannya sembari menunggu waktu berbuka. Diambilnya nafas dalam-dalam, ditanamkan pada hatinya bahwa akan menjadi manusia merugi bagi orang tua dan pasangan yang memilih pasangan dengan indikator lihai memasak. Kemudian dihembuskannya tarikan nafas yang tertahan di paru-paru beberapa detik, sambil berdiri dengan menopang tangan di kedua tangan kursi Willis meyakinkan dirinya bahwa akan merugi orang tua dan calon pasangan ketika tidak memilihnya. “Persetan dengan memasak”, gerutu Willis. Langkahnya tertarik seperti magnet mendekati si Ayah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s