Apa yang Salah?

Tak tak tak…

Baaa…

Awas lo…

Tak tak tak…

Ketangkap.

Lepas…

Tak tak tak…

Ha ha ha…

Hu hu hu…

***

Eee… eee… e…

Ibu…

Hahk hahk…

***

Awas besok ga ibu bawa lagi.

Awas, sampai rumah ibu bilang sama bapak.

Sini (si ibu menarik anak sambil mencubit bagian perut anak)

(si bapak tak berkata apa-apa menarik tangan anaknya ke luar mesjid)

^_6

***

Ada gangguan di mesjid dekat rumah saat shalat tarawah berlangsung. Anak-anak pada berlarian sepanjang saf baik saf laki-laki maupun saf perempuan. Semua jamaah mungkin gerah karena aku saat itu juga sangat gerah. Mau aku banting tu anak. Ku kuliti dan aku lempar ke kolam depan mesjid. Tapi astagfirullah… “Aku sedang menyembah”, sambil berusaha berkosentrasi.

Saat anak-anak itu berlari, bahu kecil serasa mengangkat beban sangat besar. Shalat terasa sangat lama. Dadaku seperti dihantam benda keras. Dalam shalat itu aku berjuang sangat keras sampai akhirnya imam berujung pada salam.

Usai shalat tarawih jelang witir, orang tua yang mengenali suara yang mengganggu banyak jamaah sontak berdiri dan mencari anak masing-masing. Dengan muka marah mereka mendapi anak masing-masing dan memukulinya. Tak kenal tempat, seperti biasa anak-anak hanya bisa menangis dan merajuk. Tapi kasihan juga saat mereka dihantam orang tua masing-masing.

***

Aku pun tak ikut berdoa bersama imam. Ada rasa simpati pada anak-anak yang sebelah telinganya dijinjing, tangannya ditarik dan bagian tengah perutnya dicubit. Pasti sakit. Sakit. Sangat sakit. Hingga mereka meraung-raung tak henti. Tapi apa boleh buat, orang tua mereka yang memperlakukan anaknya sendiri, aku sebagai bagian lain tak bisa berbuat apa-apa. Dan anak-anak itu pun wajar menerima perlakukan tersebut. Biar jera. Agar tak mengulangi lagi.

Sesaat aku ingat semasa kanak-kanakku di mesjid ini juga. Mesjid yang sama dengan tempat bermain anak-anak yang berlarian di sepanjang saf. Aku rasa, kami –aku dan teman lain yang seumuran tak begini. Aku sedikit lebih hormat pada yang tua. Pikiran itu membuat aku teringat teman semasa kecil. TK-SD.

“Allahuakbar”, suara imam memberi tahuku bahwa witir telah dimulai. Ku berdiri dari simpuh sembahku dan berniat bersegera mengikuti imam. Malam itu kami jemaah Nurul Falah menunaikan witir dengan penuh ketenangan.

***

Setelah witir ditunaikan, semua jamaah berhamburan ke luar mesjid seperti anak sekolah yang menunggu-nunggu waktu istirahat. Sontak pintu mesjid penuh sesak. Sambil mencari alas kaki, masih banyak yang mengomel adanya gangguan saat shalat.

Anak si Anu sungguh nakal”

“Si Apa tuh, yang badannya ceking hitam, uh rasa mau dicekik”

“Anak-anak masih bisa ditoleransi karena belum punya akal. Eh malah yang udah jadi bapak orang main petasan di luar mesjid. Udah ga ikut tarawih, menggunggu pun tak absen”

“Yang punya anak juga ga sadar

yang punya anak juga ga tau diri”

“ga bisa juga disalahkan. Orang tua ngajak anaknya ke mesjid untuk pembiasaan. Mengenalkan mesjid sama anak”

“Harus lapor kepala jorong nich

Tak ada yang mengupat malam itu. Ini baru upatan yang aku dengar, mungkin yang tak terdengar lebih pedas dan melukai.

***

Sampai di rumah, aku langsung akses jejaring sosial. Menemui teman SD ku. Semoga ada yang lagi online. Setelah kejadian tadi, rasa ingin bercerita-berbagiku sangat tinggi. Baru sampai di dinding teman semasa merah putihkum ternyata dia mengeluhkan hal yang sama. Kosentrasinya terganggu karena petasan. Curhatnya; kosentrasi terganggu karena anak-anak main petasan di luar mesjid. Bedanya sama aku, anak-anak tidak main petasan tapi berlarian di dalam mesjid. Sedangkan yang main petasan sudah remaja dan laki-laki yang sudah pantas menjadi bapak-bapak.

Nich, si teman merah putihku dulu dan sepotong percakapan kami.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s