BELAJAR: ACARA PENTING UNTUK ORANG PENTING

Mahasiswa kependidikan dipersiapkan untuk menjadi tenaga pendidik, baik itu guru, pamong, tutor dan dosen. Lembaga yang menghasilkan tenaga pendidik pun juga mempersiapkan segala sesuatu yang mungkin dibutuhkan mahasiswa ketika masuk ke dunia kerja. Dunia dimana mahasiswa menerapkan apa yang dipelajari di jenjang pendidikan dengan tujuan yang telah disepakai di masing-masing tempat mengabdi. Baik tujuan nasional, tujuan sekolah dan lembaga, tujuan dari mata pelajaran sampai pada tujuan dari setiap kali pertemuan.

Untuk mencapai tujuan tersebut, mahasiswa dibekali dengan berbagai kemampuan yang secara terintegrasi dapat membantu ketercapaian tujuan-tujuan yang akan dicapai. Sebagai tenaga pengajar, ketika berada di lingkungan kerja harus memiliki empat kompetensi. Yang pertama yaitu kompetensi pedagogik yang merupakan kemampuan pendidik untuk mengelola pembelajaran mulai dari prencanaan, pelaksanaan sampai mengevaluasi. Kedua kompetensi personal yang merupakan kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, arif dan bijaksana. Ketiga komptensi profesional yang merupakan kemampuan penguasaan materi pembelajaran dan yang terakhir kompetensi sosial yang merupakan kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat untuk bisa berkomunikasi dengan komponen lain yang terlibat. Pencapain keempat kompetensi tersebut mengantarkan seseorang pada pendidik yang ideal.

Berbicara tentang pendidik ideal, barangkali menjadi idaman banyak kalangan. Bagaimana mengelola kelas, berkomunikasi dengan anak didik, mahir mengelola kelas namun mendalami materi. Bijak menangani satu persoalan tanpa mengabaikan anak didik yang lain, sempurna dalam penampilan dan sungguh dalam melayani. Namun terlepas dari tuntutan-tuntutan untuk menjadi pendidik yang seharusnya, dan menjadi seperti yang diingin pihak lain di luar diri individu, menjadi seorang pendidik dapat dianalogikan sebagai seorang tuan rumah yang menunggu anak didiknya sebagai tamu.

Bayangkan dua jam pelajaran yang akan dilakukan adalah sebuah acara penting “important events” untuk kegiatan penting “urgen activity”. Sebuah acara yang didalamnya terdapat orang-orang penting, mencakup berbagai macam karakteristik, gaya belajar, minat yang berbeda namun dengan tujuan yang sama. Yaitu bagaimana membelajarkan anak didik mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Anak didik sebagai orang penting dalam acara penting bukanlah seperti pejabat-pejabat kelas atas yang menghadiri rapat penting yang sering mereka sebut. Anak didik menjadi orang yang penting karena mereka punya alasan tersendiri untuk dipentingkan. Anak didik dengan minat, gaya belajar, karakteristik dan kecerdasan beragam, serta potensi diri yang akan digalilah yang menjadikan mereka menjadi orang penting. Karena mereka diperuntukkan sebagai penerus yang melanjutkan pengisian kemerdekaan. Ketika potensi yang dimiliki anak dapat digali maka tidak akan sia-sia kegiatan belajar yang mereka lalukan. Tetapi, tetap dengan kegiatan belajar yang membelajarkan mereka, mengaktifkan dengan melibatkan langsung agar punya pengalaman dan memberikan pengalaman agar memiliki kompetensi. Untuk itu, mereka perlu dibelajarkan dengan level kelas penting.

Kata kunci di sini adalah, bahwa ketika berada dalam kegiatan penting (belajar) ada dua posisi aktor yaitu pendidik dan peserta didik. Dalam kegiatan pembelajaran ketika peserta didik lebih banyak terlibat dan aktif, maka mereka akan memiliki pengalaman, dari pengalaman yang miliki jika diaktifkan lagi maka anak didik akan memiliki kompetensi. Namun sebaliknya ketika dalam kegiatan pembelajaran pendidik lebih aktif maka yang akan dimiliki anak didik hanya catatan-catatan rapi yang akan dibawa pulang karena kekurangterlibatan mereka dalam acara yang seharusnya ditujukan untuk mereka. Jadi, pada kegiatan pembelajaran bukan pendidik yang belajar namun peserta didik. Pengaktifan anak didik menjadi kata kuncinya.

Nah, ketika pengaktifan anak didik dilakukan maka kelas tersebut akan menjadi penting. Namun tidak begitu penting ketika pendidik yang lebih berperan karena hanya pendidik yang belajar, seperti mengulang materi sebelum pertemuan dan menceracau saat pertemuan. Kegiatan seperti ini hanya penting untuk satu aktor, yaitu guru. Maka dalam acara penting tersebut akan dilaksanakan kegiatan yang sangat penting, yaitu membelajarkan anak didik. Kalau dianalogikan kegiatan belajar sebagai sebuah acara, pendidik sebagai tuan rumah akan mengundang anak didik sebagai tamu.

Persiapan

Pendidik sebagai tuan rumah, menjadi pengundang layaknya seseorang yang mengundang orang lain datang ke rumahnya untuk acara penting. Dalam menerima tamu, tuan rumah akan melakukan banyak persiapan. Mulai dari membersihkan rumah, merapikan, menghias rumah sampai pada menganalisis kebutuhan si tamu. Biasanya kalau tamu akan dapat pada siang hari tepat pada makan siang maka akan disiapkan makan siang, atau menyiapkan cemilan lain agar tamu merasa senang berada di rumah. Kalau yang akan datang itu satu kompi, tuan rumah jelas akan masak besar.

Kalau persiapan ini dianalogikan ke dalam persiapan ketika sebuah kelas akan diselenggarakan guru pun selayaknyalah melakukan persiapan. Menganalisis kebutuhan anak didik selama kegiatan penting (baca: belajar) belangsung agar tujuan yang ditetapkan atas kegiatan penting itu dapat tercapai. Bagaimana karakteristik dari tamu-tamu penting dan mempersiapkan dengan cara apa tamu-tamu penting itu dapat mengikuti acara penting bersama tamu-tamu penting lainnya. Strategi, metode dan media apa yang membuat semuanya menjadi penting karena tujuannya juga sangat penting.

Pelaksanaan

Saat tamu sudah berada di rumahnya tuan rumah, si tuan rumah akan melayani tamu laksana raja. Bersikap ramah, memberikan senyum termanis dan menyuguhkan sesuatu yang barangkali mungkin ditunggu-tunggu tamu. Sejenis minuman mungkin, cemilan atau bahkan ditawari makan. Menyenangkan hati tamu dengan berkabar-kabar dan memuji, tidak mengecilkan hati tamu dan memperlakukan ‘asal tamu senang’.

Dalam pelaksanaan di kelas hal yang sama juga akan dilakukan. Saat anak didik memasuki kelas, terima mereka dengan senyum termanis, dengan sikap ramah dan suguhkan sesuatu yang ditunggu namun bermanfaat. Agar diakhir pertemuan anak didik membawa sesuatu untuk bekalnya belajar sepanjang hayat. Namun bagaimana cara yang dilakukan agar pertemuan singkat namun penting itu dapat berlangsung dengan indah atau bahkan menjadi momen yang tak terlupakan. Apakah itu dengan pilihan strategi, metode, dan media yang telah disesuaikan dengan tujuan dan karakteristik anak didik.

Bayangkan dalam pelaksanaan kegiatan penting (baca: belajar) tersebut, ada perbincangan yang ringan dan menarik antara pendidik dan anak didik, agar anak didik betah dan ingin kembali datang pada acara yang sama di waktu yang berbeda. Dan bayangkan pula ketika di kelas yang dianggap penting hanya tuan rumah yang berceloteh, hanya tuan rumah serba sibuk, melakoni segalanya dalam pertemuan, menjadikan kegiatan tersebut tidak penting lagi bagi tamu. Mengakibatkan kebosanan dan barangkali enggan untuk mengikuti acara yang sama di lain waktu. Bagaimana mereka bisa kembali ke rumah si tuan rumah yang hanya hobi berceloteh dengan dinding?

Evaluasi

Ketika tamu akan meninggalkan acara penting, si tuan rumah akan berbasa-basi agar tamu berkenan datang kembali dan mengucapkan terima kasih. Sebagian tuan rumah menyuguhkan sesuatu untuk dibawa tamu pulang ke rumah. Dalam kegiatan pembelajaran, diakhir acara penting (baca: belajar) pendidik akan mengevaluasi kegiatan yang telah berlangsung. Apakah anak didik mengikutinya dengan baik, keterlibatan dan kepuasan anak didik. Dipenghujung acara penting tersebut, pendidik menyimpulkan kegiatan pembelajaran yang berupa pengalaman untuk dibawa pulang ke rumah agar anak memiliki kompetensi.

Membuat tamu betah dan merasa puas, perlu dilakukan banyak hal. Hal yang sama pun harus dilakukan oleh pendidik agar anak didiknya terlibat dalam kegiatan penting (baca: belajar) berlangsung. Di sini pula tugas lembaga pendidikan tinggi penghasil tenaga pendidik mempersiapkan calon-calon pendidik dengan bekal untuk mengabdi di masyarakat. Baik itu memberikan modal dengan kompetensi pedagogi, kompetensi personal, kompetensi prosesional dan kompetensi sosial. Karena dengan empat kompetensi ini diharapkan calon pendidik saat berada di lingkungan kerjanya dapat menerima siswa layaknya tamu untuk acara penting dengan kegiatan penting, yaitu belajar.

2 thoughts on “BELAJAR: ACARA PENTING UNTUK ORANG PENTING

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s