Ijazah ASPAL; Pengaburan Kredibiltas Diri

Apa yang diharapkan oleh seseorang yang menempuh pendidikan, sebutlah itu Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, Perguruan Tinggi atau pun Pendidikan Kesetaraan kalau bukan tanda bukti telah melakukan pendidikan dalam jangka waktu tertentu? Tanda bukti tersebut adalah ijazah, yang menyatakan bahwa yang namanya tercantum pada lembaran kertas yang memiliki ciri khas itu telah lulus dan menyelesaikan suatu program dalam jenjang tertentu. Yang mana dengan pegangan ijazah yang dimiliki dapat menghantarkan seseorang setidaknya untuk bisa memposisikan diri sebagai pelamar pekerjaan.

Selain dari mengharapkan ijazah dari lembaga tertentu, berapa persen dari mereka yang sepenuhnya melakukan pendidikan sampai menahun hanya karena untuk menuntut ilmu? Hal yang sulit untuk dideteksi mengingat tak ada yang menolak ketika diberi ijazah oleh sekolah dan lembaga dan mengatakan, “saya tak butuh ijazah, saya hanya butuh ilmu pengetahuannya”. Baik yang benar-benar menjalani pendidikan untuk mendapatkan pengetahuan, akan menjadikan ijazah sebagai bukti nyata dan legal bahwa mereka telah melakukan pendidikan dan menyelesaikannya dengan baik. ijazah menjadi penghargaan atas perjuangan yang telah dilakukan. Namun lain bagi yang hanya ingin mendapatkan karena hanya ingin bekerja, ijazah bisa saja menjadi barang pajangan dan koleksi. Intinya, semua orang membutuhkan ijazah.

Kebutuhan setiap orang akan ijazah memang tak dapat dipungkiri, tetapi untuk mendapatkannya relatif sulit karena membutuhkan biaya yang banyak dan dalam waktu yang panjang. Karena biaya, banyak orang jadi putus sekolah atau bahkan tidak melanjutkan ke pendidikan lebih tinggi. Karena waktu, banyak orang yang tidak menyelesaikan pendidikan yang ditempuhnya. Karena kesibukan, banyak orang berpikir dua kali untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi akibat kekhawatiran mengganggu pekerjaan. Berdasarkan kebutuhan tersebut ada pihak yang melihat peluang besar untuk menawarkan jasanya dalam mewujudkan keinginan mendapatkan ijazah.

Dengan tawaran mendapatkan ijazah tersebut, pendidikan tidak perlu ditempuh dalam jangka waktu yang panjang. Tanpa usaha tapi syarat duit. Meskipun syarat duit, namun tidak semahal menempuh pendidikan. Dimana harga yang ditawarkan bersaing antara penawar jasa yang satu dengan jasa lainnya. Kemudian juga tidak perlu meninggalkan tempat kerja, jika sebelumnya karena kesibukan orang mengambil program Pendidikan Jarak Jauh namun penawar jasa menawarkan tidak perlu pusing memikirkan kesibukan bekerja dan melakukan pendidikan jarak jauh dan semacamnya. Cukup dengan menghubungi penawar jasa melalui website jasa yang ditawarkan. Di website tersebut dicantumkan harga dan jenis-jenis layanan.

Tidak hanya satu layanan penawar jasa pembuatan ijazah yang ada, ternyata data kepolisian menunjukkan bahwa situs penjual ijazah palsu terbilang ratusan (Selamat Pagi Indonesia, 24 Mei). Kalau kita browsing di dunia maya akan ditemukan macam-macan situs yang menyediakan layanan ijazah dan ternyata sudah dimulai dari jauh hari. Bahkan telah dijadikan bisnis online sejak lima dan enam tahun yang lalu. Sekarang muncul website terbaru (izajah.us) di bulan Mei ini dengan harga layanan yang sangat bersaing ketimbang website-website sebelumnya. Jika sebelumnnya pembuatan ijazah S1 membutuhkan biaya Rp. 4.500.000 sampai Rp. 10.000.000 maka website terbaru  ini hanya dengan biaya Rp. 2.000.000 sampai Rp. 2.500.000 dan tergantung universitas.

Usaha jasa pembuatan ijazah wajar tidak akan berhenti selama masih ada permintaan karena pemenuhan permintaan tersebut akan dilakukan oleh penyedia layanan. Penyedia layanan hidup dari permintaan-permitaan untuk membuatkan ijazah palsu. Semakin tinggi permintaan maka layanan jasa ijazah ASPAL akan semakin menjamur yang menahun.

ASPAL atau ijazah palsu pun ada banyak jenisnya. Yang pertama ijazahnya berbentuk asli namun prosesnya palsu. Ini jenis yang ijazah yang diperoleh tanpa melakukan proses pendidikan itu sendiri. Ada lagi jenis ijazah palsu dengan proses asli, jenis ini merupakan ijazah yang diperoleh tidak sesuai dengan proses pendidikan yang dijalani. Yang bersangkutan memang mengikuti proses  perkuliahan namun ijazah tidak sesuai dengan program studi yang tercatat. Contohnya pengakuan Ridha seorang mahasiswa Universitas Malikussaleh bahwa program Bisnis yang dijalaninya mengeluarkan tamatan yang berijazah Manajemen Bisnis. Jadi prosesnya asli namun ijazahnya palsu. Kemudian ada lagi jenis ijazah asli dengan nilai palsu, jenis yang ketiga merupakan ijazah yang diperoleh dengan menjalani proses pendidikan dan ijazah sesuai program studi namun dengan nilai yang direkayasa. Dari ketika jenis ini apapun bentuknya, tetap saja palsu.

Dengan kemajuan teknologi, kemudahan layanan pembuatan ijazah semakin meningkat dan jenis layanan semakin bervariasi. Namun ada apa dengan ijazah ASPAL ini? Apakan ini bukti dari ketidakkompetenan dari bangsa dan ketidakkonsisnenan dari lembaga? Mengapa memperoleh ijazah melalui layanan jasa pembuatan ijazah ASPAL? Apakah bangsa ini memang tidak sanggup unjuk gigi dengan kemampuan diri sendiri? Diluar dugaan modus penipuan karena biasanya penyedia layanan meminta uang muka, maraknya situs layanan ijazah ASPAL adalah bukti catatan buram dalam dunia pendidikan.

Menurut aturannya, ijazah merupakan dokument otentik yang harus ada formatnya sesuai lembaga masing-masing yang tidak bisa ciplak oleh lembaga lain seperti pembuatan ijazah palsu misalnya. Yang perlu ditinjau, bagaimana sebenarnya pengawasannya? Kalau dari pengawas perguruan tinggi baik itu DIKTI atau pun Kopertis juga harus melakukan pengawasan melalui pelaporan dari setiap kegiatan perkuliahan yang dilakukan. Mengontrol jalannya kegiatan. Jangan sampai seseorang yang menjalankan pendidikan sarjana selama satu tahun tiba-tiba diketahui telah memperoleh ijazah. Karena ijazah merupakan dokumen otentik ada baiknya universitas memiliki format yang tidak bisa ditiru oleh pihak lain.

Di lapangan, perguruan tinggi dan lembaga pendidikan harus mensosialisasikan dokumen otentik mereka agar dapat dibuktikan dengan cara tertentu. Misalnya dengan melihat logo, jenis kertas, jenis tulisan yang digunakan dan identitas lainnya. Jika tidak mampu, apakah perlu pusat yang mengeluarkan ijazah untuk para lulusan dari lembaga pendidikan tentu?

Kemudian perguruan tinggi dan lembaga pendidikan juga melakukan konfirmasi dengan perusahaan-perusahaan untuk mencek keaslian dari ijazah yang digunakan karyawan. Perusahaan sebagai pihak pengguna dari lulusan universitas dan lembaga pendidikan lainnya juga harus peduli dengan keaslian ijazah dari karyawan. Meski sedikit sulit mewujudkannya di lembaga swasta karena mengandalkan kompentesi yang dimiliki, ini dilakukan dalam rangka pengawasan. Namun dari ini semua masyarakat juga tidak harus lepas tangan dengan beredarnya ijazah palsu. Kepedulian masyarakat dibutuhkan, meski hanya untuk memulai dari diri sendiri dan orang terdekat.

UU SISDIKNAS no. 20 tahun 2003 sebenarnya sudah memberikan aturan pidana bagi yang memalsukan ijazah atau yang memberikan ijazah untuk yang tidak berwenang menerimanya. Baik itu yang mengeluarkan dan yang menggunakan akan terkena hukum pidana. Namun dibalik hukum yang menjerat pelaku pengguna dan penyedia, bahwa ijazah palsu merupakan hasil campur tangan manusia dan ide-ide kreatif yang negatif. Jika mau menyalahkan kemajuan teknologi, setiap penyalahgunaan sebuah dokumen dapat dipastikan manusialah oknumnya bukan sistemnya atau bahkan bukan alatnya. Pemalsuan ijazah sebagai dokumen otentik merupakan kriminalitas, tidak untuk saat ini saja namun sejak manusia mengenal tulisan sudah terjadi. Manusia yang menggunakan dokumen otentik yang palsu dan menggunakan sebagai identitas dirinya berarti telah menunjukkan jati dirinya sendiri sebagai sebuah kepalsuan.

*Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Padang

One thought on “Ijazah ASPAL; Pengaburan Kredibiltas Diri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s