Rindu buat Ayah

Yudistira, 9 Mei 2013 jam 03.11 WIB. Ruang sederhana yang hampir aku tempati hampir delapan tahun ini menjadi saksi bisu untuk kesekian ribu kali aku merindu pada Ayah. Laki-laki yang selalu membuat air mataku berlinang dan berderai setiap kali mengingat namanya, melafalkan sifatnya dan mengenang masa lalunya. Beliau belum beruntung memiliki nasib menurutku meski beliau selalu mensyukuri apa yang telah beliau perjuangkan selama 59 tahun. Beliau telah mencoba menjalani dengan ikhlas semua jalan yang Allah suratkan untuk beliau. Buah kesabaran beliau mungkin belum ranum semuanya saat ini. Aku dan mungkin saudaraku masih memberi beban kepada beliau.

Ayah begitu sempurna di mataku. Seorang laki-laki yang mau turun langsung ke dapur, meringankan tangan beliau mencuci baju cucunya, dan tidak memposisikan dirinya sebagai penguasa dalam rumah meskipun di luar rumah beliau adalah pemimpin. Pemimpin adat dan pemimpin agama. Orang paling dihormati dan ditunggu pendapatnya ketika ada persoalan yang akan dipecahkan.

Ayah kini aku pikir sering membendung rindu. Rindu akan waktu kebersamaan bersama anak cucunya. Jika aku pulang dan makan bersama, beliau selalu ngomong, “Enak makan ini kalau ada anak di rumah”. Ada tetesan air mata yang harus kutahan jika mendengarkan kalimat itu dari ayah. Sangat jelas beliau membutuhkan kasih sayang dari anak-anak yang selama ini telah dibesarkannya. Namun, dalam masa pendewasaan dan pembekalan hidup untuk sementara kami harus meninggalkan orang tua dan tentunya juga menahan rindu yang amat dalam. Seperti malam ini yang aku rasakan. Ayah serasa ada di sampingku, rasanya kami sedang menunggu sampai habis program di televisi dan tertidur tergeletak di depan televisi hingga Subuh. Hooo, suasana yang akan selalu aku ingat.

*)

Dua jam yang lalu aku berkenalan dengan salah seorang yang telah menjadi birokrat selama 31 tahun dan merubah hidupnya menjadi akademisi. Mudah sekali sepertinya dia merubah jalan hidupnya, lebih leluasa memilih. Aku telusuri timeline di jejaring sosialnya, ternyata kelahirannya sama dengan Ayah, 1954. Sontak aku sangat merasa sakit di dada yang sangat mendesak melihat gambar-gambar si bapak semasa dia kuliah di Fakultas Kedokteran. Aku pikir dia sudah kaya dari dulunya sehingga beliau bisa melanjutkan sekolah kemanapun beliau mau. Sedangkan ayah terpaksa berhenti kuliah karena kekurangan biaya.

Suatu ketika aku berada di rumah kedua orang tua, di kampung halamanku, ayah pernah bercerita kalau sewaktu mudanya pernah melanjutkan kuliah di Tawalib Padang Panjang. Tahun pertama, tepatnya untuk semester 1 beliau bisa kuliah dengan catatan khusus, yaitu berjanji akan melunasi segala persyaratan yang berhubungan dengan uang pada semester kedua. Beliau kuliah dengan tekun. Aku dapat bayangkan, ketekunannya pasti melebihi ketekunannya beliau sekarang dalam bekerja dan dalam hal apapun. Enam bulan berlalu, beliau pulang ke kampung halaman, Sariak Laweh, untuk menjemput bekal yang disediakan oleh orang tua beliau. Semasa beliau kuliah, anak laki-laki tunggal ini hanya dihidupi oleh bapaknya saja karena ibu beliau sudah jauh masa meninggalkan beliau.

Berbagai upaya juga dilakukan oleh bapak beliau (Marah) di negerinya. Namun karena badan sudah mulai sakit-sakitan dan tidak kuat melakukan pekerjaan berat beliau menjual kerbau untuk membiayai kuliah anaknya yang akan dibayar 2 semeter. Namun sayang sekali, saat ayah meminta uang, ternyata uang yang diletakkan di lemari sudah tidak ada lagi. Jelas ayah sangat terkejut. Terbayang harapan untuk melanjutkan sekolah menjadi pudar. Apa mau dikata, tak ada yang dapat disalahkan kecuali si pencuri itu, meski agamaku mengajarkan tidak boleh mendendam, tapi aku sangat membenci dan menyimpan dendam terhadap pencuri uang kuliah ayah.

Setelah kejadian itu, Ayah kembali ke Padang Panjang tanpa harapan apa-apa lagi. Terlalu banyak hutang yang mesti beliau bayar, dan karena banyak pertimbangan lainnya dengan yakin seyakin yakinnya beliau memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah. Menghilangkan rusuh di hati, ayah ikut dengan temannya ke Kerinci. Di sana selama dua minggu beliau mencoba menenangkan diri dan menata hidup kembali. Beliau mencoba menjalani hidup tanpa cita-cita yang telah dirangkainya. Dua minggu menghabiskan waktu di Kerinci beliah pulang ke rumah dan hidup bersama ayahnya.

*)

Melihat gambar masa lalu kenalanku dua jam yang lalu, koleksi foto tahun 1976-1978 dengan celana khas di masa itu, tergambar jelas mereka menempuh pendidikan dengan biaya yang jelas. Jika ayah mendapatkan fasilitas yang sama, pasti ayah saat ini jauh lebih beruntung. Ayah akan lebih mudah mewujudkan keinginan-keinginan beliau, pustaka pribadi, pustaka remaja mesjid, pustaka jamaah mesjid, pembangunan mesjid yang agung di kampung kami dan menyekolahkan anak-anaknya. Ketidaksampaian ayah bersekolah di masa mudanya, mendorong keinginan beliau mendukungku menyelesain pendidikan Pascasarjana. Meski pada akhirnya beliau dengan terseret-seret berusaha mulai kuliah setelah menikah dengan ibu, menyambi dengan tugas kepala desa yang beliau emban.

Malam ini aku membayangkan, andai pencuri uang kuliah ayah terjepit pintu dan gagal mencuri, ku pikir ayah sudah menyandang gelar profesor atau gelar guru besar di universitas tertentu. Tapi sayang, itu tidak terjadi. Dan aku dengan berbesar hati mengatakan bahwa meskipun ayah bukan guru besar di kalangan univeristas tetapi beliau adalah guru besarku. Yang menuntunku di jalan yang benar, jalan penuh kesabaran, jalan penuh pertimbangan, jalan yang aku pikir saat ini adalah jalanku. Ayah, untuk kesekianribu kali, aku ingin mengatakan, aku sangat menyayangimu, aku ingin ayah bahagia di masa tuamu.

Ayah, I LOVE YOU

papa

“Ya Allah, mungkin ayah dan ibu sedang tertidur pulas karena lelahnya mencari hidup.

Hangatkan mereka jika mereka dalam kedinginan

Kasihi mereka jika mereka dalam kesusahan

Dan hilangkan semua letih dengan cintamu ya Allah.

Sayangilah mereka yang mungkin menahan lapar untuk anak-anaknya agar anak-anaknya bisa makan.

Ya Allah, ya Rabb…

Selamatkan mereka, jaga meraka, panjangkan umur mereka agar aku bisa melihat senyum bahagia mereka karena keberhasilan mereka mendidik aku.

Amin”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s