Lamaran

Jati, 12 Mei 2013. Pembicaraan sore kali ini berbeda dengan perbincangan-perbincangan yang biasanya dilakukan. Pertemuan tiga sahabat lama itu kini membicarakan perihal lamaran. Tidak ada gurauan dalam pembicaraan itu, juga tidak ada suasana lama. Willis merasa pertemuan sore itu sangat kaku, “ada apa ini? mengapa? Seperti inikah?”. Beberapa pertanyaan mulai muncul. Bentuk kegamangan yang ditanggapi dengan senyuman termanis oleh Willis ketika ada tatapan sepasang mata yang menatapnya. Willis tidak menimpali pembicaraan satu patah katapun, hanya mengangguk-angguk. Dan itu membuat Willis merasa tidak tau apa-apa.

Seperti dalam sinetron kebanyakan, Willis membantah keadaan yang sedang dihadapinya. Di dalam hati saja. Ya, benar-benar seperti sinetron. Hanya saya dalam potongan episode ini tidak ada audio tentang apa yang berkecamuk dalam hati Willis.

Apa ini? Pemicaraan inikah yang dihadapi orang dewasa? Ops salah, bukan, ini bukan kedewasaan. Tidak setiap orang dewasa memutuskan menikah. Barangkali ini lebih tepat disebut dengan pembicaraan orang-orang berkebutuhan khusus. Hua…, ya berkebutuhan khusus. Ini tidak seperti orang berkebutuhan khusus seperti idiot, autis, hiperaktif dan lain sebagainya. Kebutuhan khusus ini adalah kebutuhan yang lahir dengan fitrahnya. Kebutuhan ini dapat dipenuhi dengan menikah, dan lamaran adalah bagian proses awal dari sebuah pernikahan. Tidak ada jalan lain selain menikah untuk menghidari kemudaratan ketika kebutuhan ini perlu dilampiaskan. Meski tidak setiap yang dewasa segera menikah, begitu pula dengan menikah. Ternyata tidak semua yang menikah itu telah desawa. Terutama dari segi pemikiran.

Ah, inikah pembicaraan yang disebut orang pembicaraan menarik? aku sangat mengantuk sekali dan tidak ada yang harus aku katakan. Mengapa ini menjadi pembicaraan sore ini? Apakah tidak ada pembicaraan lain? Aku lihat yang akan menikahpun tidak seribet penyelenggara pernikahan. Orang tua.

Wah, ada bahanan adat juga. Ini perbaduan dua adat yang berbeda. Ternyata sangat ribet sekali. Wah, ternyata ada ritual juga, penentuan hari? Aku tidak menyangka akan terjebak di sini. Pintu, pintu, pintu mana? Aku ingin keluar sepecatnya dari sini.

Tiba-tiba ada yang menepuk bagian lutut Willis, “ayolah menikah. Jangan mengundur. Calon kan sudah ada”. “Sesegera mungkin Bu”, balas Willis dengan berusaha tersenyum. Dia tidak tau sudah sampai dimana pembicaraan orang-orang di ruangan ini. “Kami pulang dulu, ada helat yang harus dikunjungi”, perempuan yang Willis anggap sebagai ibu itu pun beranjak dari duduknya bersama suami dan dua orang anaknya. Mereka baru saja pulang dari rumah perempuan calon menantunya. Pertemuan sore ini seperti laporan menyampaikan hasil lamaran yang baru saja berlangsung. Begitu ibu itu, tiga kota yang berbeda dia kunjungi untuk menyampaikan perkembangan yang ada.

“Tadinya saya di toko buku, ada pesan meminta ke sini. Katanya ibu mau ketemu dengan saya dan kamu juga”

“Iya, maaf kemaren tidak menemui kalian. Saya masih belum fit. Tapi akhirnya kita kan bertemu juga”

“Iya, tapi tidak dalam pembicaraan serius begitu”

“Memangnya kenapa?”

“Belum suka”

“Nanti juga suka kok”, timbal suami Dina

“Iya deh”, Willis tidak mau berdebat banyak. Dia sadar, ada masanya dia akan ke sana. Hanya saja saat ini masih belum.

Ariel menyulut dan menikmati rokoknya, tidak banyak partisipasi dalam pembicaraan soal lamaran. Tetapi setelah dia mulai mencuap. Ternyata tertarik dengan budaya, perpaduan Jawa dan Minang, juga tentang penentuan hari yang baik untuk pernikahan anak sulung dengan anak sulung yang kedua orang tuanya sama-sama anak sulung. Ternyata bagi adat jawa ada cara tertentu untuk mementukan hari baik. Empat insan muda yang ada di ruang itu tidak ada yang lebih banyak tau, mereka bersepakat akan mengikuti prosesi lamaran dan pernikahan teman mereka untuk mencari tau pertanyaan-pertanyaan yang muncul sore ini. Tetapi dengan catatan, prosesi tersebut pada hari-hari libur.

Lembayung makin indah, makin banyak lalu lalang kendaraan yang memburu pulang sebelum Magrib. Willis dan Ariel pun pamit pulang. “Din, Dri, kami pulang dulu. Mohon doanya agar hati kami dibukakan. Semoga sesegeranya menyusul kalian. Juga Eka.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s