‘Makan Batu’

Harusnya malam ini makan malam Willis dan Ariel diisi dengan cerita kecemburuan Willis terhadap sesuatu. Willis begitu terganggu dengan keberadaan suatu benda yang menyiratkan itu bukan miliknya karena sedang berada di tangan orang lain. Mestinya benda itu saat ini berada pada tangan Willis karena jauh sebelum semua orang mengenal benda itu dia sudah menginginkannya. Ketidaksanggupan memiliki benda itu yang membuat Willis harus menahan hati. Dia harus memuasakan Anjungan Tunai Mandirinya untuk menambah pendidikannya. Bagi Willis saat ini betapapun dia menginginkan benda itu, pendidikannya lebih penting.

Prioritas masing-masing orang berbeda, termasuk kemampuan seseorang, apalagi yang berhubungan dengan alat tukar yaitu uang. Uang bagi Willis sama berartinya dengan orang lain. Uang baginya alat tukar yang harus ditukarkan dengan benda-benda yang patut ditukar. Jelasnya benda yang bermanfaat. Namun kebermanfaatan bagi setiap orang itu relatif berbeda. Satu benda sangat bermanfaat bagi satu orang namun bagi lainnya sangat tidak berarti apa-apa. Namun sebagian orang yang hidup dengan keberlimpah lupa dengan manfaat yang diperoleh setelah menukarkan suatu benda dengan uang yang dimiliki. Keberlimpahan juga yang membuat banyak orang lupa menghargai uang dan lupa dengan rasa syukur.

Aneh sekali rasa cemburu yang Willis rasakan. Rasa yang sangat jarang hinggap di hatinya. Rasa yang membuat makan malamnya serasa makan batu. Dia kenyang tetapi tanpa rasa puas. Kepunyaan orang lain itu berarti pertunjukkan bagi Willis bahwa orang lain lebih mampu ketimbang dirinya. Kedelapan ratus tujuh puluh tiga kalinya dia mengingatkan diri bahwa dia punya skala prioritas. Benda itu akan dia punya dengan sedikit kesabaran lagi. Setidaknya setelah prioritas utama dicapai.

Sangat tidak mengenakkan sekali melihat benda indah itu. Barangkali jika berada di tangan Willis dia akan menangis setiap kali melihat benda itu karena butuh kesabaran lebih dan usaha yang berat untuk mendapatkannya. Bisa saja saat ini benda itu ada di tangganya, tetapi apa yang bisa diberikan oleh benda itu selain kepuasan mata? Jiwanya juga tengah menjerit, “beri aku pendidikan”, “puaskan aku dengan pembelajaran”, “hargai aku dengan pengalaman”, “cinta aku dengan memanfaatkan”.

***

suatu hari di kala kita duduk di tepi pantai

dan memandang ombak di lautan yang kian menepi

burung camar terbang bermain di derunya air

suara alam ini hangatkan jiwa kita

Lirik pembuka dari pengamen, lirik yang tidak pernah basi. Lirik yang tidak membuat orang gengsi melagukannya. Lagu itu pun sesuai dengan angin malam yang menyapu penyantap ayam penyet. Menikmati lagu kemesraan itu, Willis membatalkan tumpahan rasa cemburunya pada Ariel. Willis pikir sia-sia saja menceritakan apa yang sedang bergelumun dalam hati dan otaknya. Toh sekarang Ariel tengah berbahagia menerima kemenangan idolanya pada ajang pencarian bakat yang sangat Willis tidak sukai. Terlepas dari mizi Zionis terhadap pencarian bakat, dia sangat benci dengan fans-fans peserta pencarian bakat yang salah kaprah tentang bakat. Meskipun dia tidak menyukai idola Ariel, Willis mencoba menghormati selera pasangannya. Ya, setidaknya dengan harapan selera Willis terhadap idolanya juga dihargai.

Dengan dua rasa yang bersarang di benaknya, rasa cemburu dan rasa menghargai yang menyakitkan, akhirnya makan malam mereka berlalu dibawa angin bersama suara pengamen yang melantunkan beberapa lagu, yang barangkali hanya itu lagu yang mampu diingatnya. Willis menutup suapan terakhirnya yang hampir sama dengan suapan pertama, menelan batu.

2 thoughts on “‘Makan Batu’

    • saya tidak tau persis Ariel tau atau tidak.
      Kalau dia membaca roman, harusnya tau. Hahah…
      Ada teman Willis yang namanya Handriani, dia memberikan bocoran ke Ariel, “jika Willis punya masalah diamkan saja sampai dia tertidur, besoknya pasti dia lupa.”
      Hahaha…, si Handriani memanfaatkan kepelupaan Willis.
      Saya pikir barangkali itu sebab kenapa Ariel tidak menanyakan apa masalahnya. Dia sudah dapat tips dari salah satu sahabat Willis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s