Tags

, , , ,

Paradigma pendidikan abad XXI menjadikan proses pembelajaran dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja. Saat ini, sebagian besar proses pembelajaran mengoptimalkan fleksibelitas dan accesebility kemajuan teknologi berupa komputer dan jaringan sehingga pembelajaran tidak terpaku di ruang kelas saja. Peserta didik dan pendidik dapat mengintegrasikan komputer dan jaringan ke dalam kelas, atau mungkin mereka melakukan interaksi pembelajaran tanpa hadir ke kelas dengan difasilitasi komputer dan jaringan. Kemudahan-kemudahan seperti itu sangat memungkinkan bagi pendidik merancang pembelajaran yang bersifat inovatif.

Inovasi pembelajaran pada dasarnya tidak melekat dengan penerapan teknologi. Melakukan aktivitas pembelajaran yang berbeda dengan penerapan sebelumnya sudah dapat dikatakan sebagai sebuah inovasi. Misalnya, pada pelaksanaan pembelajaran sebelumnya laporan bacaan mahasiswa disampaikan melalui submit tulisan mahasiswa ke e-learning, pada semester ini tetap ada kegiatan pelaporan bacaan perminggu namun dengan sistem pelaporan yang berbeda. Mahasiswa diminta melaporkan bacaan perminggu melalui postingan rangkuman bacaan mereka melalui blog. Contoh lain, seperti perkuliahan yang sebelumnya dilakukan sepenuhnya melalui pertemuan tatap muka, kemudian dilaksanakan dengan mengkombinasikannya dengan online learning. Hal yang demikian sudah dapat dikategorikan sebagai inovasi dalam pembelajaran. Ketika formulasi pertemuan tatap muka dan online learning dalam rentangan 30%-79%, kegiatan tersebut disebut dengan blended learning.

Tuh kan, kebawa arus. Tadi sudah disampaikan bahwa inovasi pembelajaran tidak melulu soal teknologi. Fokus. Fokus. Fokus. Pembelajaran sebelumnya misalnya guru hanya menggunakan gambar pada buku atau pada papan tulis untuk membuat siswanya mengerti tentang sudut pada sebuah bangun ruang. Kemudian guru mencoba melakukan hal lain dengan menggerakkan tangannya membentuk sudut tertentu. Hal yang demikian sudah dikatakan sebagai sebuah inovasi. Ide ini sebenarnya lahir dari membaca laporan observasi pada Eza Yayang. Sepertinya penulis juga sedang berpikir mengenai pengembangan pembelajaran inovatif.

Terkait pembicaraan di awal, paradigma abad XXI, pembelajaran dan inovasi. Ketiga aspek tersebut perlu disinkronkan agar pembelajaran yang dilakukan bermanfaat dan memenuhi tuntutan masyarakat abad XXI. Jadi, jangan mengabaikan salah satunya karena ketiganya berkontribusi untuk masa depan.

Advertisements