Tags

,

Implementasi kurikulum yang berlangsung idealnya mengacu pada standar nasional pendidikan sesuai dengan disebutkan pada PP No.32 tahun 2013 yang diterapkan sejak jenjang pendidikan dasar, menengah hingga Perguruan Tinggi. Implementasi kurikulum yang efektif seharusnya juga diterapkan pada semua bidang studi pada setiap jenjang pendidikan untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas. Untuk proses pembelajaran mengikuti standar proses, bahwa pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

Sehubungan dengan hal tersebut, implementasi kurikulum merupakan hal yang penting dalam tahapan pelaksanaan pendidikan. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan dalam rangka mewujudkan kurikulum yang masih bersifat potensial (tertulis) menjadi aktual merupakan implementasi kurikulum. Dapat dikatakan bahwa implementasi kurikulum merupakan hasil terjemahan dosen pembina mata kuliah terhadap kurikulum sebagai rencana tertulis yang dituangkan menjadi pengalaman belajar mahasiswa pada kegiatan pembelajaran.

Jika merujuk kepada PP No. 32 tahun 2013, implemetasi kurikulum pada pelaksanaannya kurang interaktif karena dalam proses implementasinya kurang terjadi situasi yang diharapkan seperti yang tercantum pada PP  tersebut. Kondisi tersebut perlu disikapi dengan cara merancang konsep implementasikan kurikulum menjadi sebuah proses pembelajaran yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Banyak fasilitas kampus yang dapat dioptimalkan pemanfaatannya untuk mengatasi masalah tersebut, seperti internet, portal akademik, platform LMS e-learning, webmail dan website kampus untuk menciptakan suasana belajar yang dimaksud di atas. Fasilitas tersebut berpotensi untuk menyelenggarakan fully online learning, namun karena regulasi yang ada masih perlu dipertahankan pertemuan tatap muka, fasilitas-fasilitas tersebut dapat dioptimalkan untuk penyelenggaraan blended learning.

Harding, Kaczynski dan Wood (2005) mengatakan, blended learning merupakan pembelajaran yang mengintegrasikan pembelajaran tradisional tatap muka dan pembelajaran jarak jauh yang menggunakan sumber belajar online dengan beragam pilihan komunikasi yang dapat digunakan oleh dosen dan mahasiswa. Pelaksanaan pembelajaran ini memungkinkan penggunaan sumber belajar online, terutama yang berbasis web, tanpa meninggalkan kegiatan tatap muka. Pelaksanaan blended learning dapat membantu mewujudkan pembelajaran yang lebih bermakna karena keragaman sumber belajar yang mungkin diperoleh. Selanjutnya menurut MacDonald (2008) blended learning berasosiasi dengan memasukkan media online pada pembelajaran, pada saat yang sama dilakukan pembelajaran tatap muka dengan cara konvensional. Jadi, blended learning dapat muncul sebagai solusi dari permasalahan belajar yang ada dengan optimalisasi sumber-sumber belajar yang tersedia.

Advertisements