Tags

,

e-Learning menunjukkan perkembangan signifikan dari waktu ke waktu. Kelas yang belum mengintegrasikan e-learning ke dalam proses pembelajaran, sudah mulai bergerak ke arah sana. Dalam tulisan ini, disajikan beberalan langkah pengembangan program e-learning bagi yang akan memulai penerapan e-learning. Langkah tersebut dikelompokkan menjadi tujuh langkah dibawah ini:

  1. Perencanaan
  2. Pengumpulan konten
  3. Desain pembelajaran
  4. Storyboard
  5. Pengembangan dan produksi
  6. Jaminan kualitas
  7. Penerapan

Kunci kesuksesan management program e-learning terletak pada susunan jadwal/skedul pengembangan proyek e-learning. e-learning designer dapat memulainya dengan membuat skedul management pengembangan e-learning dalam sebuah matrik. Matrik itu berisi langkah pengembangan, rencana kegiatan, item kegiatan, deskripsi tugas, penanggung jawab, batas waktu, dan status langkah. Matrik ini dapat digunakan sebagai kontrol kemajuan kerja dalam pengembangan program e-learning. Jadi, ketujuh langkah di atas dapat diisikan ke dalam matrik yang dibuat.

Langkah pertama, perencanaan. Pada langkah ini e-learning designer perlu mengumpulkan dokumen-dokumen dasar dan infromasi awal seperti sasaran pengguna e-learning, nama, kelompok usia, karakteristik calon pengguna, rencana akan digunakan, rencana akan bertemu, deadline program.  Semua list ini adalah persiapan tugas yang akan dilakukan dalam pengembangan e-learning. Pada beberapa model e-learning, langkah ini disebut juga dengan analisis kebutuhan. Setelah informasi-informasi tersebut terkumpulkan, perlu melakukan diskusi terhadap semua dokumen tersebut dengan bagian IT atau teknikalnya. Pada beberapa lembaga ada yang mengenalnya dengan tim PTIK (Pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi), tim IT (Information Technology), dan tim PTP (Pengembangan Teknologi Pembelajaran). Tim-tim ini dapat membantu e-learning designer dalam mempersiapkan konten audio, video, LSM, multimedia interaktif, animasi, dan media digital lainnya.

Selanjutnya, e-learning designer dapat mengumpulkan materi dan menganalisis konten yang dibutuhkan dalam pelaksanaan e-learning. e-learning designer bukan berarti mengabaikan konten yang telah ada, namun konten tersebut masih dapat digunakan dalam bentuk sajian materi yang paling relevan dengan prinsip e-learning. Konten yang telah ada tersebut dianalisis dan mengindentifikasi konten yang dibutuhkan. Hasilnya akan menemukan gab konten, baru kemudian e-learning designer menambahkan/mengembangkan konten. Konten-konten dapat berupa grafik, skema berwarna, audio, video, LSM, multimedia interaktif, animasi, dan media digital lainnya.

Setelah mengumpulkan dan menganalisis semua konten, dapat dilanjutkan dengan langkah mendesain pembelajaran. Langkah ini dimulai dengan menentukan tujuan pembelajaran dan tujuan kinerja. Kemudian menentukan strategi pembelajaran, yaitu mempertimbangkan cara terbaik bagaimana konten disajikan. Bagian ini mempertimbangkan bentuk aktivitas e-learning yang relevan dengan tujuan pembelajaran. misalnya pembelajaran berbasis games, pembelajaran berbasis cerita yang menggunakan games, pembelajaran berbasis skenario yang menggunakan games, tutorial, simulasi, diskusi, chat, portofolio dan bentuk penugasan lainnya. Kemudian, membuatkannya dalam sebuah dokumen perencanaan (RPS/silabus dan SAE/SAP/RPP) sebagai sebuah blueprint. Dokumen ini dapat mengikuti komponen minimal pada sebuah perencanaan pembelajaran.

Langkah selanjutnya adalah membuat storyboard. Langkah ini dimulai dengan membuat layout konten ke dalam templet desain yang tersedia. Storyboard ini berisikan semua konten pada LMS yang dibuatkan detail pada setiap halaman storyboard. Tersedia berbagai jenis format storyboad yang digunakan, yang memuat komponen visual, audio, komentar dan durasi. Namun tidak ada standar baku dalam formatnya karena ini menjadi alat komunikasi e-learning designer dengan pakar materi, dan tim IT/PTIK/PTP.

Selanjutnya dapat dilanjutkan ke tahap pengembangan dan produksi. Semua yang telah dirancang dapat dikembangkan dan diproduksi menggunakan aplikasi tertentu, baik untuk pembuatan LMS, maupun konten dalam bentuk games, tutorial, simulasi, grafik, skema berwarna, audio, video, LSM, multimedia interaktif, animasi, dan media digital lainnya. Pada tahap ini yang banyak bekerja adalah tim IT/PTIK/PTP berkoordinasi dengan pakar materi dan e-learning designer. Semua bentuk konten harus divariaskan agar e-learning menarik dan mempertahankan motivasi belajar siswa.

Setelah LMS e-learning selesain dikembangkan dan diproduksi, dilakukan jaminan kualitas akses LMS oleh pengguna. Kepastian jaminan mutu ini memberikan informasi bahwa e-learning dapat diterapkan sesuai rancangan pembelajaran.

 

 

 

Advertisements